KELAS INSPIRASI DEPOK: Sebuah Golden Moment

Lepas sholat Subuh, saya sudah terbakar semangat untuk menuju sebuah sekolah di sekitar Depok. Hari ini, saya dan anak-anak kami saling merelakan diri untuk tidak rempong bareng memulai aktivitas pagi sebagaimana rutinitas yang kami jalani. Tiga anak kami sudah mengetahui, Bapak hari ini akan jadi guru di SDN Beji Timur 1. Guru sehari. Sehari yang saya harapkan menjadi golden moment bagi saya dan anak-anak di kelas nanti. Bagi saya, kesempatan sharing ini seolah seperti monumen bersejarah yang mencatat kepedulian saya pada anak-anak masa depan yang kelak berkewajiban mendekorasi bangsa ini dengan kiprah dan karyanya. Bagi anak-anak, tentunya kesempatan ini menjadi luar biasa karena akan bertemu dengan wajah baru yang datang dengan sekeranjang cerita baru, tentang sebuah profesi yang belum pernah mereka bayangkan. Ya, saya akan berdiri di depan mereka untuk bercerita bagaimana seorang Producer di televisi bekerja.

Di mobil, selain sudah tergeletak box besar berisi berbagai wardrobe yang akan menjadi alat bantu dalam simulasi, juga tertumpuk puluhan burung dalam sangkar masing-masing yang nantinya akan dilepas di akhir acara sebagai simbol kalau  langit Indonesia begitu sesak oleh cita-cita tinggi anak Indonesia. Sebenarnya sempat dapat protes dari salah satu anggota Kelas Inspirasi di kelompok kami lantaran burung tidaklah untuk diperjualbelikan. Sungguh kami sepakat, tetapi lantaran memang kami beli untuk kemudian dilepas di alam bebas, maka pilihan ini akhirnya tetaplah diambil. Di dalam mobil, burung riuh saling mengepakkan sayap, Ingin bergegas menikmati kemerdekaannya. Di belakang kemudi, saya sedang membayangkan bagaimana nanti riwehnya menenangkan kelas yang berpenghuni 44 anak yang semuanya aktif dan ceria. Wouwww …

Diawali dengan briefing sesaat oleh ketua kami Pak Azy, pagi ini kami Kelompok 12 langsung beraksi masuk ke kelas. Belum terbayang apa yang akan terjadi. Setelah melewati scene perkenalan, saya mencoba menggali cita-cita yang mereka pilih. Memang masih sangat sempit dunia pilihan mereka, tak jauh dari dokter, polisi, guru dan pemain bola. Ketika saya ajak diskusi tentang berbagai variasi acara di televisi, mereka mulai antusias. Berbagai acara yang mereka sukai disebut satu persatu. Termasuk juga sinetron. Maka saya menegaskan kepada mereka bahwa tidak semua tontonan di televisi itu sehat untuk disantap. Harus membatasi diri bergaul dengan televisi dan menyadari diri sebagai pelajar yang punya tanggung jawab. Hmm, semoga pesan ini lekat dalam benak dan hati mereka.

Lalu, saya mulai memperkenalkan profesi sebagai producer berikut berbagai profesi yang selalu menjadi satu tim dalam kami bekerja: scriptwriter, kameraman, director termasuk beberapa profesi pendukung saat syuting seperti make up artist, lightingman dan audioman. Seperti sebuah paduan yang sempurna dan anak-anak ingin tahu semuanya. Di akhir berbagi cerita tentang profesi, mereka saya persilahkan memperagakan profesi yang disukai. Dengan wardrobe yang sudah saya siapkan, anak-anak makin exciting, bergaya mirip professional sebagaimana kostum yang dipakainya.  Salah seorang siswa kelas 1 yang berminat menjadi seorang pembaca berita, saat sudah siap di depan kamera yang dikendalikan oleh temannya dan producer sudah menghitung countdown: tiga, dua, satu and … action! Tetapi si pembaca berita tak bergeming meski prompter alat bantu baca naskah sudah berjalan.. Rupanya dia belum bisa membaca. Hahhh! Baru kali ini saya menjumpai pembaca berita yang tidak bisa membaca … Ada-ada saja.

Masuk di kelas tiga, kelas empat dan kelas lima sungguh lebih mudah untuk menjelaskan berbagai hal tentang profesi producer. Bahkan mereka sudah lancar membikin script secara langsung di aplikasi prompter pada iPad. Sayangnya, mereka lebih cenderung membuat ulasan tentang problematika selebriti yang lagi memanas misalnya tentang Eyang Subur atau Raffi Achmad. Tak urung saya harus mengarahkan mereka untuk membuat script seputar kegiatan sekolah. Sungguh, tiap-tiap anak sudah menampakkan bakatnya. Yang berbakat menulis, siap menjadi scriptwriter. Yang menyukai gadget lebih memilih menjadi kameraman. Yang suka narsis otomatis siap tampil di depan kelas sebagai pembaca berita. Masing-masing memiliki bakat yang sesungguhnya amat sangat berpotensi untuk terus dikembangkan, yang setidaknya akan menjadi tumpuan cita-cita masa depan.

Dengan metode bermain untuk belajar memang terasa betapa senangnya berada di dalam kelas. Tetapi menjelang akhir kegiatan baru terasa suara sudah hampir habis. Tentu saja terkuras lantaran sejak pagi harus memberi penjelasan dengan volume yang lebih besar untuk biasa mengalahkan kebisingan kelas yang lumayan onar. Hari itu memang milik mereka, sebuah golden moment yang kami harapkan memberi warna baru untuk membuka cakrawala masa depan yang lebih baik. Mudah-mudahan.

Barakallahu fikum

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: