SABAR

Daya upaya ketika sudah tidak ada lagi daya upaya adalah bersabar

 

 Jakarta tak lebih dari sebuah kota raya tempat kaum urban mencoba uji kesabaran. Tak tersisa puing keramahan, pun di ujung lorong gang sempit yang pengap. Mereka yang datang untuk menakhlukkan impian,  hanya mampu bertahan hidup dalam keterbatasan. Menjadi bagian dari kelompok marginal yang tersisihkan, yang disambangi ketika hak suara mereka dibutuhkan untuk kepentingan kekuasaan dan selebihnya dibiarkan hidup atau mati dengan pilihannya sendiri. Maka sudah tak terhitung warga yang ikhlas menjemput ajal lantaran ditolak beberapa rumah sakit saat berobat. Bocah tanggung kirim SMS untuk menawarkan ginjalnya guna keperluan pengobatan sang ayah. Suami memutilasi istri dan ada tetangga yang tega mencabuli bocah kecil menodai keindahan kehidupan mereka kini dan nanti. Semuanya menjadi catatan tragedi pilu yang miris. Biarkan cukup kami ( baca: kaum marginal ) yang sedih lantaran para elite sibuk mengurus partainya yang porak poranda. Cukup rakyat yang bersabar sambil menunggu munculnya ratu adil yang masih dalam pingitan. Tak ada lagi daya upaya yang bisa digagas meski harapan belumlah pupus. Daya upaya yang bisa dilakukan hanyalah bersabar. Semoga Allah merahmati bangsa ini dan para pemimpinnya.

Sabar akhirnya menjadi sebuah keharusan meski tak harus dalam suasana kritis sebagaimana  ilustrasi tragedi yang mengoyak jiwa tadi. Cobalah Anda melaju di jalan raya dengan bermotor. Yang tak terelakkan, kanan kiri bakal war – wer kemrungsung oleh pengendara motor lain dan pas di depan kita, dalam kecepatan yang makin meningkat, knalpot mereka akan menampar wajah kita. Daya upaya yang bisa dilakukan cukuplah bersabar dan musibah kecil itu akan indah dalam rasa kita. Emosi tak terpancing dan  ujung tujuan segera tercapai tanpa kekesalan yang terpendam. Maka kesabaran ibarat sebuah mahkota jiwa, dengannya kita menjadi lebih lembut dan perkasa dan pantaslah Anda untuk menjadi raja diri sendiri  yang menguasai segala urusan dengan kesabaran, menakhlukkan problema yang muncul dengan kelembutan nan elegan.

Tragedi, musibah dan ujian seperti tamu yang datang tanpa mengetuk pintu. Tiba – tiba saja sudah ada di depan mata dan kita harus menghadapinya. Maka terimalah dengan kesabaran karena tidak ada ujian yang menimpa kita kecuali itu meninggikan derajad dan menambah pahala. Rasulullah pernah berwasiat kepada Ibnu Abbas, ketika kamu sabar atas perkara yang tidak kamu sukai maka disana ada kebaikan yang sangat banyak. Barangkalj kita tergoda bertanya, seberapa banyaknya ? Silakan buka Qur’an surat Az – Zumar ayat 10 dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan, Sesungguhnya hanya orang – orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. Pahala tak berbatas memang pantas diberikan untuk orang teristimewa karena kesabarannya yang tak pernah mengeluh, tetap berbaik sangka pada Allah dan menerima dengan ikhlas takdir Allah. Itulah yang dicontohkan Nabi Ayyub Alaihissalam yang tetap sabar meski didera ujian berlapis-lapis. Beliau diuji melalui anaknya, keluarga dan hartanya. Bahkan juga dengan tubuhnya, sebuah ujian yang belum pernah ditimpakan kepada siapa pun. Tidaklah sebentar, 18 tahun lamanya Nabi Ayyub Alaihissalam diuji dengan berbagai musibah hingga keluarga mengusirnya. Beliau tetap sabar dalam menunaikan perintah Allah dan terus menerus bertaubat kepada-Nya.

Mari meneladani Nabi Ayyub Alaihissalam, ujian yang kita hadapi tidaklah seberat para Nabi dan orang – oran terdahulu. Tetap sabar menghadapi musibah karena kesabaran kita kelak akan menjadi cahaya. Jadikan kesabaran itu sebagai kebiasaan sebab kebiasaan akan melahirkan kepribadian. Pribadi yang sabar pada akhirnya tak cuma bersabar di kala tertimpa musibah, tetapi sabar yang diaplikasikan dalam segala arah kehidupan. Sabar memiliki kedudukan yang agung dalam Islam dan bahkan semua urusan berdiri di atas sabar, yaitu, sabar dalam menjalankan perintah Allah Ta’ala, sabar dalam menjauhi larangan-Nya dan sabar dalam menghadapi mushibah yang dihadapi.

Semoga Allah merahmati kita semua.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: