9 CM

Simpang Lima, Semarang

Kami sekeluarga sedang tergoda sensasi nasi kucing lesehan. Ramai sekali sehingga duduknya  pun umpel-umpelan dengan pengunjung lain. Selagi menikmati citarasa nasi kucing yang sebenarnya biasa saja, asap ngepul tersembur dari belakang saya. Ah rupanya ada yang sedang menyalakan batang nikotin. Aku terganggu dan segera berpindah tempat. Kubiarkan adek Dika tertinggal meski dia sedang saya suapin. Baru saya duduk, tak kusangka, Kak Ais melontaran peringatan, ” Bapak, adek Dika tuh … Ntar sakit. ” Subhanallah, betapa pedulinya sang kakak pada adeknya. Tetapi sungguh, lebih dari itu, saya mengapresiasi kesadaran Kak Ais yang begitu mengkhawatirkan atas resiko menghisap asap nikotin dari sebatang gulungan tembakau yang terbakar. Semoga inilah buah nasihat saya kepada anak-anak kami. Selama ini tak henti – hentinya kami mendoktrin mereka untuk menjelaskan bahwa gulungan tembakau itu tidak sehat, tidak baik dan dilarang keras untuk mendekatinya!

Kekhawatiran saya sangat berlebihan dan rasanya memang harus begitu. Betapa lingkungan itu berpengaruh besar sehingga tanpa membentengi anak – anak dengan pemahaman yang tepat, maka mereka akan sangat mudah termakan oleh pengaruh lingkungan. Lihatlah di jalanan, anak sekolah dengan seragam biru putih saja sudah kebal kebul petentang petenteng sok gaya. Seolah menjadi manusia paling gagah seperti artis yang diidolakannya di film Hollywood. Dia sedang lupa siapa dirinya dan sama sekali tak teringat kalau bapaknya sedang jungkir balik bekerja keras membanting tulang demi penghasilan yang kecil sekali. Terus semua orang harus bilang wow, gitu? Jangan diharap, Nak. Kamu nggak jadi digdaya biar di antara telunjuk dan jari tengah terselip berhala kecilmu, tuhan 9 cm – mu kata Taufik Ismail. Tidakkah kau tahu, ada 4000 zat kimia beracun pada sebatang ramuan tembakau yang kau nikmati itu. Kalau bapakmu memang pecandu, maka jangan kau tiru, jangan kau ikuti. Bapakmu, dan jutaan orang yang semuanya semaunya sendiri kebal kebul dimana-mana itu – di ruang tamu, di kamar tidur, di WC, di halte bis, di angkot, di  warung makan – sesungguhnya mereka itu terbius kesadarannya oleh nikotin sehingga mengalahkan ketajaman fikirnya. Kepekaan hatinya melambung bersama asap yang mengepul dari moncong hitam bibirnya. Mulutnya bau seperti asbak dan hidungnya bak cerobong asap pabrik yang mengeluarkan polusi paling membahayakan lingkungan. Benarlah kata Hobbes, homo homini lupus, manusia adalah srigala bagi manusia lain. Betapa menderitanya anak-anak dan para istri, di rumah yang pengap itu suaminya nggak berhenti juga mengasapi keluarganya dengan aroma tembakau yang amat sengak. Sang bapak sedang menjadi srigala bagi istri dan anaknya. Meracuni dengan asap nikotin yang memuakkan. Taufik Ismail pun dalam puisinya  dengan jeli mendeskripsikan kalau Indonesia adalah semacam firdaus – jannatu – naim sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup –  hidup bagi orang yang tidak merokok.

Rokok memang diam – diam telah menguasai kita. Di tengah kesibukan kerja, sempat-sempatnya mencuri waktu meninggalkan meja kerja hanya untuk alasan mulutnya kecut. Ijin sebatang dua batang meski nyatanya berjam-jam keasyikkan ngobrol. Saat sujud, sholat tidak jarang dari saku pria dewasa meluncur terjatuh sebungkus rokok. Aduh, makanya mengaji dong biar makin mantap menerima hukum subhat rokok yang jelas – jelas mengganggu kesehatan. Kalau masih ada Ustadz yang ahli hisap ( bukan hisab ) maka perlu dilabeli tanda tanya besar karena Qur’an tidak diamalkan secara utuh. Ini musibah besar. Sementara kalau dalam kajian ustadz-nya menghukumi rokok adalah haram, kita jadi ngambek dan nggak mau ikut mengaji lagi. Bukannya tersentuh malah sebaliknya tersinggung. Hukum agama dipilih berdasar yang disukai, bukan bersandar pada yang benar. Semoga negeri ini dilimpahkan kebaikan sehingga tumbuh kesadaran kolektif untuk memahami bahayanya sebatang rokok yang cuma 9 cm itu, yang selanjutnya meninggalkannya. Sungguh ini perkara yang sangat bisa dilakukan. Teman sekantor saya, banyak yang dulunya perokok berat, tetapi hari ini sudah tidak lagi tergantung oleh bius nikotin. Mereka telah berhasil memotong mata rantai merokok yang turun temurun dalam keluarga. Sekarang sudah tak ada lagi yang dicontoh oleh anak-anaknya. Terhapuslah  kebiasaan buruk dalam keluarga. Pernah juga suatu ketika tetangga saya berujar, alhamdulillah Pak, keluarga saya semua merokoknya Djie Sam Soe, jadi gampang kalau kehabisan. Gundulmu! dalam hati saya memprotes. Apanya yang alhamdulillah. Jangan kau nodai makna suci syukur itu dengan hawa nafsumu yang membara. Silakan bakar uangmu terus dan mata rantai itu akan tetap tersambung dalam keluarga. Maka butuh keberanian yang kuat agar anak dan keturunan kita tak lagi menyentuh batang tembakau ini. Mengapa dalam setiap kemasan rokok selalu ada peringatan kesehatan, itu karena adanya kandungan bahaya yang mengancam. Iklan rokok di televisi pun waktu tayangnya dibatasi, materi iklannya diatur secara soft sell sehingga tak berdampak langsung pada anak. Ruang gerak yang terbatas untuk menghadang dampak buruk yang meluas.

Peringatan sudah di depan mata, maka bahaya apa lagi yang masih akan kita abaikan dari tuhan 9 cm itu ? Buka mata penglihatan kita agar tak buta mata hati kita. Saatnya semua berikrar untuk hidup sehat. Sehat bagi diri sendiri, bagi keluarga dan bagi lingkungan. Sehat tanpa tembakau selamanya.

Barakallahu fikum.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: