TAUBAT

Tidak ada yang pasti dalam kehidupan seorang manusia kecuali kematian, titik kulminasi perjalanan hidup yang amat ditakutkan banyak orang. Kematian dianggap akhir kebahagiaan, paripurnanya sebuah lakon. Tak ada lagi yang bisa dimainkan di dunia, tak tersisa lagi kenikmatan yang bisa dicicipi. Yang terlihat hanyalah jazad tak berdaya dikubur bumi, meski raga itu dulunya adalah makhluk yang bergaya diatas bumi. Prosesi kematian di depan mata, tetapi tak banyak yang bisa mengambil manfaat. Meregangnya nyawa seseorang tidak dijadikan pelajaran dan peringatan. Selepas mengubur jenazah, para pelayat kembali memburu dunia mengejar materi. Cinta dunia lupa akherat sehingga pembicaraan soal kematian adalah momok menakutkan yang kerap dijauhi. Sungguh, ajal sewaktu – waktu datang dan tidak lagi menunggu taubat.

Kehidupan dunia hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Itulah yang dikiaskan Allah Azza wa Jalla dalam QS. Al Hadid ayat 20. Bukankah permainan adalah sesuatu yang mengasyikkan tetapi sangat melalaikan. Lihatlah mereka yang terbius game online, berjam-jam waktunya habis untuk permainan tertentu, tetapi sesungguhnya mereka tak mendapat apa-apa selain waktu yang tersia-siakan tanpa manfaat, lalai dan bahkan meninggalkan kewajiban yang lebih utama semisal sholat dan ibadah lainnya. Itulah dunia yang penuh tipu daya yang sewaktu – waktu akan kita tinggalkan manakala ajal menjemput. Ingatlah, tak ada tamu yang paling menakutkan kecuali ajal. Dan tak ada berita yang paling jujur selain kematian. Kematian adalah ujung perjalanan kita di dunia. Amatlah tragis ketika pada situasi yang ditakutkan ini, ketika nafas tersisa di ujung tenggorokan, ternyata kita belumlah bertaubat. Maka bersiaplah untuk merasakan kengerian di persinggahan pertama menuju akherat, alam kubur.

Taubat itu artinya kembali, yang hakikatnya adalah menyesali kesalahan masa lalu dan berazam untuk tidak mengulangi. Maka seandainya Anda pernah tergelincir pada suatu dosa, bersegeralah untuk bertaubat dengan rasa sesal terdalam dan dibarengi tekad kuat untuk tidak terjatuh lagi dalam kesalahan yang sama, yang dibuktikan oleh hati, lisan dan perbuatan. Taubat dengan ikhlas, bukan taubat lalu kumat kemudian taubat lagi berulang – ulang hingga orang lain memberi label Anda tomat merah, tobat kumat mengulang sejarah. Maka agar itu tak terjadi, pandanglah besar setiap kesalahan kecil dan sebaliknya anggaplah kecil sebuah kebaikan besar yang Anda lakukan. Penyikapan untuk membentengi diri. Dengan begitu, kita akan merasa ringan dan senang untuk melakukan sebuah amalan yang sejatinya teramat berat. Tetapi karena kita memandangnya hal kecil, maka hati dan fikiran akan melakukannya dengan mudah.

Taubat adalah perkara yang amat mudah, jauh lebih mudah dari Anda mengurus KTP. Lafaskan istiqfar sambil berbaring, saat mengendarai motor atau manakala mengingat segala kesalahan Anda, maka ampunan Allah akan tercurah untuk Anda. Tak perlu harus memakai kemeja dan pakaian rapi sebagaimana mau mengurus KTP. Sungguh, hak Allah dibangun di atas segala kemudahan, sebaliknya terlihatlah bahwa hak manusia disusun di atas segala kerumitan yang berbelit – belit. Buktinya, saat Anda meminta maaf pada seseorang, betapa Anda harus mendekatinya dengan tatakrama yang serba diatur. Apalagi yang harus kita pertimbangkan, bersegeralah bertaubat agar meraih pintu khusnul khatimah. Basahi selalu bibir kita dengan istiqfar, kapan pun dan di manapun karena kita tidak pernah tahu turunnya ampunan Allah. Dan jangan pernah meremehkan dosa, sekecil apa pun dosa itu. Yang salah tetaplah salah dan jangan berdalih. Kemukakan dalil yang shahih maka akan terbuka sebuah kebenaran. Membiasakan kebenaran untuk dijadikan penyemangat ibadah, jangan membenarkan kebiasaan. Kebiasaan beribadah yang tidak berpangkal pada contoh dari Rasul dan para sahabat pasti akan tertolak. Inilah yang masih banyak terjadi di sekitar kita. Memurnikan ibadah adalah perkara yang sangat penting untuk saat ini dan itu menjadi pintu diterimanya taubat kita.

Sebelum ajal tiba, mari bertaubat. Menggapai ampunan Allah, mencapai akherat dengan selamat.

Barakallahu fikum.

 

Disusun kembali dari materi kajian Ust. Zainal Abidin,L.c dengan tema “Ajal Tidak Menunggu Taubatmu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: