JOKOWI : The Indonesian Idol

Di masa TVRI dulu, betapa kita jengah ketika di depan televisi dipaksa untuk melihat acara yang meliput berbagai kegiatan pemerintahan. Peresmian sebuah waduk raksasa di desa terpencil yang menjadi solusi kekeringan sepanjang tahun, penanaman padi varietas unggul tahan wereng, panen raya yang mendukung swasembada beras dan ketahanan pangan atau bahkan pembukaan MTQ tingkat nasional. Tak ada pilihan. Toh kita tetap saja di depan televisi menyaksikan pemotongan pita, pemukulan gong dan pembunyian sirine tanda secara resmi sang pejabat tinggi siap menunjukkan sebuah prestasi besar yang patut dibanggakan. Memang tak ada pilihan, televisi yang diharapkan pemirsanya memberikan hiburan segar, sedang dialihkan fungsinya untuk menyempurnakan pencitraan bahwa pembangunan terus dilaksanakan untuk rakyat.

Merebaknya TV swasta memberikan pilihan bagi pemirsa untuk menyaksikan hiburan yang disukai. Sudah barang tentu, TVRI yang tadinya menjadi antena pemerintah dalam mempublikasikan berbagai kegiatan pembangunan daerah mulai ditinggalkan. Remote TV segala – galanya dan penentu akhir nasib sebuah channel. News Program TVRI semacam Berita Nasional yang ditayangkan pukul tujuh malam dan Dunia Dalam Berita yang hadir pukul sembilan tak lagi menjadi pembaharu informasi pemirsa karena tayangnya aksi genius McGiver atau gelora cinta Melrose Place jauh lebih menarik. Semakin hari, ragam hiburan yang disuguhkan televisi swasta makin istimewa. Bahkan hingga hari ini. Dinding pemisah makin menebal untuk sekedar melihat kiprah pemerintah yang tadinya narsis mempertontonkan sumbangsihnya bagi rakyat. Pemirsa bergeming untuk tak mau tahu, apatis. Apalagi menjumpai kenyataan tradisi korupsi berjamaah oleh oknum pemerintahan.

Tetapi hari ini, setelah lebih dari dua dekade pemirsa meninggalkan kebutuhan informasi terhadap kegiatan pembangunan daerah dan kiprah pemerintah sebagaimana era TVRI dulu, maka tampak sebuah perubahan besar yang sangat signifikan dimana justru pemberitaan kiprah pemprov DKI tak lepas dari sorotan mata. Siapa lagi kalau bukan pasangan Jokowi dan Ahok. Setiap hari, semua pemberitaan TV swasta selalu diisi kegiatan mblusukannya Jokowi dan sebaliknya Ahok yang menyadari kekuatan social media, memanfaatkannya dengan mengunggah semua kegiatannya di youtube. Kiprah keduanya menjadi konten penting, bahkan untuk program infotainment yang tadinya adalah ekspose kehidupan artis selebrita yang nggak penting banget. Di Youtube, agenda Ahok menerima paparan berbagai kepala dinas, sampai dilihat oleh 100.000 pengunjung lebih. Kekaguman dan dukungan tertuang dalam komentar pengunjung. Bahkan ada yang merasa seakan ” jadi gila ” oleh keterbukaan kegiatan Jokowi – Ahok berikut keputusan – keputusan yang sangat memihak rakyat. Memang semua warga DKI akhirnya harus bilang WOW sambil koprol kegirangan mendapat pemimpin sebagaimana sudah lama diidolakan.

Teman – teman saya di kantor pun, tampaknya terimbas penyakit menular Jokowi addict. Tak cuma sekedar menyaksikan di televisi, tapi juga membawa beritanya dalam diskusi kecil. Bahkan seorang teman yang samasekali tak pernah percaya pada konten politik program current affair karena semuanya mirip skenario sinetron, saat ini justru paling getol mengikuti mblusukannya Jokowi. Program dialog yang membahas Jokowi – Ahok, juga mendapat perhatian pemirsa di luar DKI. Gaya kepemimpinan keduanya, rupanya menjadi banchmark tuntutan di daerah bahwa pemimpin harus mengenal rakyat dan tahu kebutuhannya, tegas, terbuka, berani, memihak rakyat, efisien memakai uang rakyat dan siap berkorban.

Maka saat ini Jokowi adalah The Real Indonesian Idol. Sebenar – benar idola yang dijadikan inspirasi, semangat dan ukuran menuju Indonesia Baru. Semua mata akan terus tertuju padanya sekaligus berfungsi mengawal kinerjanya. Sorotan itu seolah sebuah kesepakatan bahwa masyarakat  berharap agar Jokowi tetap pada track-nya, yaitu kritis tetapi tetap humble. Dekat pada rakyatnya dengan terus mblusukan ke gang – gang sempit yang kumuh dan bau. Tetap menghirup aroma kemiskinan di sekujur tubuh DKI sambil kemudian mengangkat perlahan borok itu agar tak akut.

Jokowi memang idola Indonesia saat ini. Semua pendukungnya bahkan berharap ke depan nanti, Jokowi bisa duduk di kursi kepresidenan. Sebuah spekulasi yang akan dijawab sendiri oleh Jokowi lewat kepemimpinannya sebagai gubernur DKI.

Selamat bekerja Pak Jokowi. Semoga Anda selalu dimudahkan dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang teramat pelik di Jakarta ini.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: