JOKOWI, Wani Piro?

Hari – hari terakhir ini dan akan ke depan lagi, bahwa perbincangan semua orang tak terlepas dari sebuah nama Jokowi.  Sosok yang sangat fenomenal, yang dengan kesadarannya ingin ikut memberikan perubahan besar pada tatanan negeri ini. Jokowi sesungguhnya hanyalah hendak menjalankan sebuah garis takdir dengan caranya sendiri, apa adanya dan ora neko – neko. Justru pada titik inilah Jokowi memberikan pembelajaran pada kita, pada pemimpin kita dan pada bangsa ini. Betapa banyak di antara kita yang sudah mendapat kesempatan untuk menjadi pemimpin tetapi kemudian lupa siapa dirinya dan dimana ia berada. Tiba – tiba saja kehilangan fitrahnya sebagai manusia. Dia terbelenggu oleh fitnah kekuasaan yang sedang digenggamnya. Lupa diri lupa daratan. Amnesia. Seolah dia tengah meneruskan transaksi jual beli atas sebuah kekuasaan. Maka dia tak ingin rugi. Praktik kekuasaan dijalankan dengan pamrih materi sehingga sangatlah lazim diselesaikan dengan wani piro. Inilah realita yang ada di tengah kita sehingga sebuah iklan komersial berhasil mengemasnya secara satire dan makin menyadarkan kita fenomena wani piro pada birokrasi pemerintahan.

Jujur, saya sendiri terlambat mengenal sosok Jokowi. Baru ketika meledak berita mobil esemka, saya mulai mengikuti kiprah Jokowi sedikit demi sedikit. Dari setiap kehadirannya, tertangkap kesan Jokowi yang sangat humblesederhana dan rendah hati. Tak terkesan kemewahan layaknya label para selebrita yang haus popularita.  ” Ini figur pemimpin yang keren “, saya menggumam dalam hati. Bagaimana perjuangan dan pengorbanannya memberikan ruang hidup bagi anak bangsa yang mengukir prestasi lewat konstruksi mobil esemka. Banyak status di FB kala itu memberikan pujian dan sanjungan pada Jokowi. Maka saya menangkap kesan, pemimpin seperti inilah yang sebenarnya diharapkan oleh masyarakat. Pujian dan sanjungan yang memang sudah sepantasnya diarahkan padanya. Bagaimana tidak, ketika di daerah lain pemindahan pasar selalu diwarnai keributan, di tangan Jokowi ratusan pedagang kaki lima bisa manut direlokasi  di lapak baru. Nggak pakai debat nggak pakai ribut. Wow, ini pasti orang hebatsuper sekali, sekedar meniru gaya Mario Teguh.

Tak bisa dipungkiri, maka Jokowi telah berhasil mencuri perhatian siapa pun. Jokowi menjadi pencuri ulung yang berhasil meresahkan banyak orang. Lihatlah di setiap sudut semua orang membicarakannya dalam sanjungan, membahasnya dalam pujian. Dengan gaya kepemimpinannya yang out of the box, sudah pasti seorang Jokowi telah menjadi breakthrough karena mengimplementasikan gaya kepemimpinan yang unik, yang cuma segelintir orang saja melakukannya karena berpijak pada personality. Gaya kepemimpinan Jokowi bukanlah model konvensional yang memposisikan diri sebagai seorang atasan dan seorang penguasa yang cuma punya satu kata kunci wani piro supaya semua urusan beres. Sebaliknya seperti apa yang disampaikan sendiri, justru pemimpin baginya adalah buruh. Pelayan bagi masyarakat. Oleh karenanya Jokowi tak pernah canggung  jika makan di warung. Bahkan sudah terbiasa. Suasana yang egaliter terbangun, di perkampungan kumuh, warung tegal, di pasar tradisional dan lapak – lapak kaki lima. Saat – saat seperti inilah Jokowi menghirup aroma keinginan warga sebagai bentuk aspirasi dan mengendapkannya dalam program yang akan dijalankan.

Lantaran itu semualah Jokowi pada akhirnya menjadi pencuri hati jutaan konstituen di DKI saat pemilihan gubernur. Jokowi jauh lebih dikenal daripada tetangga sebelah rumah, itulah kenyataan yang muncul di kampung – kampung Jakarta. Popularitasnya melesat dari Solo ke Jakarta, lebih cepat dari bayangannya sendiri. Semua orang terlanjur sudah mengenalnya. Dan akhirnya semua orang menitipkan harapan padanya, untuk membenahi Jakarta. Memberikan suara untuk Jokowi tanpa lontaran wani piro sebagai  jasa pengganti dukungan. Banhkan banyak pula pendukung yang mengeluarkan kocek pribadi untuk membeli baju kotak – kotak. Ini fenomena unik di demokrasi kita. Bukankah selama ini justru kandidat yag membagi – bagi kaos kampanye ? Maka banyak pedagang baju kotak – kotak yang kebanjiran rejeki. Baru kampanye saja Jokowi sudah mampu menghidupkan perekomonian rakyat, apalagi nanti saat memimpin.

Menerima kenyataan unggul di perhitungan secara cepat, Jokowi pun dengan rendah hati menegaskan pada kosntituennya bahwa kemenangan yang diraihnya bukanlah kemenangan sebuah lomba tetapi kemenangan atas tanggung jawab. Sikap yang tepat untuk mengingatkan konstituennya agar tidak larut pada eforia pesta pora kemenangan yang mubazir. Dan satu lagi yang mengesankan dari seorang Jokowi, beliau segera meminta maaf kepada pesaingnya jika selama proses demokrasi berlangsung, kubu Jokowi melakukan hal yang menciderai perasaan pesaing. Dan hebatnya lagi bahwa Jokowi memohon kepada incumbent pesaingnya supaya berkenan menjadi penasehatnya.

Saya kira, inilah awal perubahan yang akan terjadi di Jakarta dan Indonesia pada umumnya. Strategi kemenangan Jokowi akan menjadi model kampanye di tanah air. Barangkalj setelah kotak – kotak, motif lain seperti lorek, polkadot, hawai dan garis – garis akan menjadi incaran, meski sebenarnya esensi kemenangan tidaklah pada atribut semacam ini. Bukanlah pencitraan tampilan yang menjadi kunci kemenangan tetapi lebih pada aksi keberpihakan kepada masyarakat. Kemenangan Jokowi dengan motif kotak – kotaknya, bisa jadi akan bikin keblinger siapapun yang mengekornya ketika berkampanye dengan motif polkadot yang jauh lebih mirip badut main di panggung politik karena tidak didukung program yang mengaspirasi kebutuhan warganya. Jangan sampai ini terjadi di tempat lain, ketika Jakarta sudah bersiap tampil dengan wajah baru.

Jakarta baru, ini baru Jakarta.

Barakallahu fikum.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: