MELAKA BANDARAYA BERSEJARAH, Catatan Perjalanan liburan part 2

Saya sangat terkesan dengan branding Melaka sebagai Bandaraya Bersejarah. Sungguh tagline ini memposisikan Melaka sebagai bandar ( kota ) besar yang memang sangat concern dengan sejarah masa lalu. Branding ini menegaskan bahwa pemerintah setempat berkomitmen untuk melestarikan bangunan Bandar yang memiliki nilai sejarah dan dieksploitasi dengan benar sebagai pesona wisata yang mengagumkan. Saya kira, siapa pun yang datang ke Melaka akan punya kesan yang sama dengan saya.

Dalam kamar hotel type family  dengan rate harga RM149, kami berlima cukuplah leluasa berbaring dengan cara merapatkan 1bed besar dan 2 bed kecil yang tersedia. Inilah satu – satunya kamar yang tersisa. Kami tak mendapatkan lagi kamar yang lebih besar karena memang tidak melakukan reservasi terlebih dahulu. Dengan view jalanan, anak – anak pun punya hiburan tersendiri melihat geliat orang yang lalu lalang. Dini hari sebelum adzan subuh berkumandang, saya terbangun oleh geliat aktivitas orang – orang yang mendistribusikan koran. Rupanya persis depan hotel adalah agency sebuah surat kabar pagi. Lepas subuh saya terpesona oleh sekawanan burung gagak yang terbang bebas di atas gedung. Bertengger lalu terbang merendah ke jalanan. Pemandangan yang sangat langka buat saya, karena di Jakarta tak lagi menjumpai burung yang begitu damai menikmati kebebasan kehidupannya tanpa diusik oleh manusia bodoh.

Pagi selesai sarapan di hotel, kami langsung menuju beberapa lokasi bersejarah yang memungkinkan untuk dikunjungi. Maka pilihan saya adalah menuju benteng A Famosa yang di sekitarnya juga banyak bangunan kuno peninggalan Portugis dengan dominasi warna merah. Makanya city tour dengan jalan kaki pun cukup mengasyikkan. Dengan panduan peta wisata yang saya ambil di lobby hotel, cukuplah untuk menyusuri beberapa tujuan menarik.

A Famosa adalah benteng Portugis yang merupakan sisa arsitektur Eropa paling tua di Asia. Gerbang kecil yang disebut Porta de Santiago menjadi satu-satunya bagian benteng yang masih berdiri kokoh hingga kini. Benteng ini sepertinya menjadi landmark Melaka sehingga siapa pun yang melawat Melaka terasa wajib untuk berfoto disini. Satu blok dengan benteng ini banyak bangunan bersejarah yang dijadikan museum, seperti Istana Kesultanan Melaka, Independence memorial, Museum Islam, Museum Perangko, gereja Santo Paul dan masih banyak lagi dari ujung ke ujung hingga berdirinya museum Maritim yang memperkuat karakter Melaka sebagai Bandar pelabuhan.

Cukup melelahkan memang menyusuri jejak sejarah yang telah diukir oleh bangsa Portugis di Melaka. Tetapi toh ada pilihan bagi Anda nak berpusing – pusing dengan becak yang bersolek bunga warna warni di seluruh tubuhnya. Pada malam hari, becak wisata ini makin mencuri hati lantaran lampu hiasnya yang menyala. Musik yang lantang pun akan terdengar menembus telinga kiri dan kanan Anda hingga pekak terasa. Cuma dengan RM15, becak ini akan menghantar Anda keliling menyambangi semua bangunan bersejarah sambil lalu.

Melirik jam, ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, berarti sudah 2 jam kami berjalan menghabiskan waktu. Memang belum semua dikunjungi, tetapi rasanya sudah sangat banyak yang kami dapatkan. Sayangnya hanya semalam saja di Melaka saya  agendakan dalam itinerary. Jam dua belas siang nanti kami harus bergegas melanjutkan perjalanan menuju Kuala Lumpur untuk menjajaki new challenge bersama istri dan budak – budak. Di terminal TBS KL, seorang teman akan menjemput saya dan secara sukarela  menawarkan diri untuk menjadi tour guide kami selama di KL dengan mobil pribadinya. Nanti saya dan istri akan tertawa ngakak karena mendapati mobilnya sama dengan mobil Grand Livina kami di Depok, baik warna maupun type-nya. Hanya tahun pemakaiannya yang berbeda.

 

Dari hotel menuju terminal bus yang dinamakan Melaka Sentral, kami naik kereta sewa dengan ongkos RM15. Kali ini sesuailah tarif yang diberlakukan karena jaraknya cukuplah jauh. Driver yang ramah, memberikan layanan menyenangkan bagi kami, dengan berbagi cerita sisi kehidupan masyarakat Melaka yang mereka banggakan. Menurut saya sudah sepantasnya mereka berbangga, karena memiliki komitmen kuat untuk mempertahankan dan merawat berbagai situs sejarah yang menjadi milik dunia. Pantaslah jika Unesco menetapkan Melaka sebagai World Heritage Site sejak tahun 2008. Bandingkan saja dengan Jakarta yang sesungguhnya memiliki kekayaan sejarah, tetapi tak mampu mengembangkannya sebagai potensi wisata yang menarik. Ajablah nak dibual.

Saat check out, saya memberikan saran kepada receptionist yang berjaga agar memperbaiki AC di kamar karena terasa kurang dingin. Tak disangka ternyata saya diberi diskon tambahan untuk menggantikan komplain saya. Ini namanya excellent service, selain juga menampakkan bahwa semua lini sangat sadar wisata. Begitu juga ketika sampai di Melaka Sentral, terminal bus dikelola dengan sangat rapi dan terpadu dengan pusat perbelanjaan yang ramai pengunjung. Area yang bersih, bahkan tidak mengesankan sebagai terminal yang jorok, rungsep dan seram sebagaimana terminal di tempat kita. Saya pun tak kesulitan mencari akses menuju terminal antar kota karena adanya petunjuk yang jelas. Sesampai di gerbang terminal, saya langsung membeli tiket bis tujuan KL dengan harga RM12 per orang.

Sambil menunggu bis yang segera berangkat, saya menghuruf M.E.L.A.K.A sembari mengharap bisa menghirup udara segar bandaraya bersejarah Melaka suatu saat nanti.

Semoga Anda juga berkesempatan tengok Melaka nan elok walau sekejab. Jangan lupa, saya nak berbual – bual tentang KL di kemudian waktu. Jom tunggulah ceritanya !

Barakallahu fikum.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: