SEMALAM DI MELAKA Catatan Perjalanan Liburan part 1

Hanya satu jam perjalanan dari Pulau Bengkalis dengan speed boat, maka dalam setiap kunjungan ke Bengkalis saya selalu mengharap bisa menghirup udara Melaka sambil menikmati eksotika warisan dunia yang sangat terpelihara di sana. Gelora batin saya dibaca oleh istri, maka serta merta beliau mengurus passport bersama anak – anak. Dengan segala kemudahan, akhirnya liburan lebaran kemarin kami berkesempatan menyeberang menyambangi Melaka Bandaraya Bersejarah.

Dalam speed boat yang berkapasitas hingga 300 orang itu, harga tiket sekali jalan Rp. 280.000 per orang atau Rp. 400.000 untuk return. Masing-masing punya kepentingan sendiri, sebagaimana kami sengaja melancong sementara banyak penumpang yang bermaksud mengikuti program medical tourism, berobat sambil jalan – jalan. Jangan salah, warga kepulauan Bengkalis untuk berobat memang ke Melaka karena jika ke Pekanbaru mereka harus menempuh waktu yang lebih lama dan belum tentu rumah sakit di Ibukota Riau itu memiliki peralatan lengkap. Melaka menjadi pilihan utama untuk berobat mengingat lengkapnya peralatan medis dan berteknologi tinggi dengan berbagai fasilitas tambahan untuk pasien. Di gerbang pelabuhan Melaka misalnya, shuttle bus yang gratis dari beberapa rumah sakit akan menunggu para calon pasien. Bahkan saat check in di hotel pun keluarga pasien akan mendapat diskon tambahan dengan menunjukkan kartu berobat. Dalam catatan Batam Pos, terhitung 500 warga Kepri berobat ke Melaka setiap bulannya. Tentu fenomena ini harus menjadi konsentrasi khusus pemerintah RI, selain tampaklah bahwa pemerintah tak cukup mampu menyediakan layanan kesehatan yang layak, berarti juga pemerintah membiarkan fulus masyarakat sebesar 1 milyar mengalir mulus ke Melaka setiap bulannya.

Menginjak Melaka meninggalkan Bengkalis, seolah memasuki sebuah peradaban meninggalkan hutan belukar. Memang begitulah adanya. Meski Bengkalis memiliki letak yang strategis karena dilalui jalur perkapalan internasional menuju ke selat Melaka, tetapi pembangunan terasa sangat lambat, terutama sarana publik. Hal ini saya rasakan di pelabuhannya. Di gerbang imigrasi pelabuhan laut Bandar Sri Setia Raja – Bengkalis hanya terdapat 2 loket imigrasi dengan bangunan yang sangat sederhana. Saat memasuki Melaka kita akan disambut oleh pelabuhan dengan bangunan modern yang megah. Dan mulailah kami menghirup udara Melaka setelah sekian waktu mengharapnya. Khas kota pelabuhan, suasana terik menyambut kami. Kereta sewa ( taksi ) yang mengantarkan ke hotel tak memakai argometer sehingga cenderung memberi tarif harga yang tak  berkawan. Dalam jarak yang sangat dekat, kami mengawali transaksi dengan uang ringgit sebesar RM15. Cukup mahal untuk jarak yang begitu dekat. Tak mengapalah, toh kami juga tak mengenal kota ini. “ Jadi terserahlah, Pak Cik, hantarlah kami ke rumah tumpang yang elok”. Rumah tumpang adalah sebutan untuk penginapan.

Karena kami cuma semalam di Melaka, maka setelah check in di hotel Trend ( hotel yang difavoritkan oleh pelancong Bengkalis ) dan melaksanakan sholat dzuhur – Ashar yang dijamak qoshor, kami nak langsung berpusing-pusing di sekitar Dataran Pahlawan, sebuah mall megah dengan hamparan lapangan hijau yang sangat luas dimana dimanfaat oleh pengunjung untuk sekedar nongkrong seadanya sambil berbual – bual sama kolega. Masing – masing bergabung dalam kerumunan kecil menikmati udara segar yang sepoi-sepoi. Ikutlah seronok hati kami, seolah inilah sambutan yang bersahabat dari orang Melaka. Lepas kami berfoto – foto, kami menuju taman di sekitar situ dimana diletakkan beberapa konstruksi kuno mulai dari kereta api, pesawat terbang hingga mobil pemadam kebakaran yang semuanya elok terawat. Nak macam mana sukanya budak – budak awak, Ais, Diva dan Dika. Semua minta berfoto dengan gaya yang comel. Tak jauh dari taman itu, terlihatlah Menara Taming Sari yang merupakan menara pandang setinggi 110 meter. Dari atas, para pelawat bisalah memadang panorama Bandar Melaka. Maka anak – anak meminta naik ke wahana itu. Dengan biaya RM20  bagi dewasa dan RM10 untuk anak ( warga setempat bahkan mendapat harga khusus sebagai hak privilege ), antrilah kami menikmati Menara Taming Sari. Awalnya saya girang sambil membujuk Diva yang tampak nervous di barisan antrian. Tetapi begitu di atas justru pucatlah wajah saya dan sebaliknya Diva yang kegirangan. Alangkah takutnya saya berada di atas ketinggian. Lima minit kami berpusing – pusing di atas menara itu untuk selanjutnya turun dalam tempo satu minit. Legalah hati ini.

Selanjutnya saya memilih untuk tengok – tengok Merdeka Street sambil mencari souvenir khas Melaka. Tempat  ini semacam pasar malam yang digelar setiap hari, selain juga ada Jonker Street yang lebih tersohor. Sayangnya kami tak sempat ke Jonker Street karena anak – anak keburu lapar. Kugiring mereka memasuki Mahkota Parade Shopping Centre yang banyak menampung gerai produk international. Awalnya anak – anak merengek minta makan di KFC tetapi saya sarankan agar menikmati makanan lokal yang khas. Maka mereka menyetujui saat saya tunjuk food court yang ada dalam mall itu. Apalagi ada fasilitas wifi gratis buat pengunjung sehingga bisalah kita leluasa mengakses intrenet sambil makan. Ternyata menu yang tersedia lebih di dominasi chineese food dan masakan Melayu sehingga pilihan akhirnya jatuh pada chicken rice with sausage. Tadinya saya berharap bisa menemukan chicken rice ball yang khas di Melaka tetapi tak kunjung jumpa di foodcourt ini. Ok-lah kalau begitu, yang penting budak-budak saya bisa menikmati hidangan makan malamnya. Saya sendiri justru terkesan dengan tahu bakar yag saya beli di pasar malam Merdeka Street. Semacam tahu kuning yang dibakar kemudian ditaburi irisan halus beberapa jenis sayuran segar dan dilumuri sambal kecap yang tak terlalu pedas. Cukup dengan membayar RM3 pembeli dapat 2 potong tahu ukuran sedang.

Kelar makan malam, anak – anak langsung minta balik hotel. Rencana menikmati river cruise batal dan saya lebih mempertimbangkan mood anak – anak. Esok pagi ada banyak destinasi yang bakal dikunjungi sebelum melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur. Malam ini sudah menyelesaikan semalam perjalanan yang menyenangkan di Melaka. Di hotel selepas merampungkan sholat maghrib – isya dengan dijamak akhir, kami tidur pulas dalam bayangan indah menyusuri pedestrian Melaka yang menyambungkan pada bangunan – bangunan kuno dan kecil tetapi terawat dengan baik.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: