INDONESIA BERAMAL

Lewat FB, seorang kawan yang berada di sebuah desa terpencil di perbukitan kabupaten Majene – Sulawesi Barat sebab tugas sebagai pengajar lewat program Indonesia Mengajar, mengabarkan butuh Al Qur’an untuk masyarakat setempat. Kondisi yang sangat jauh dari pusat kota menyebabkan Al Qur’an menjadi barang mahal di sana, selain juga memang karena kondisi perekonomian yang teramat tertinggal. Al Qur’an meskipun dibutuhkan tetapi tak tersentuh sebab banyak kebutuhan lain yang harus diprioritaskan.  Saya tak mampu membayangkan, bagaimana sumber segala sumber petunjuk hidup bagi umat Islam tetapi tak mereka miliki. Kapan mereka bisa melantunkan bacaan indah tiap ayat kalau fisik Al Qur’an saja tak ada di dalam rumah mereka ? Iqra, begitu pesan mulia diawal Islam turun, bagaimana mungkin mereka bisa mengamalkan perintah Iqra ? Walaupun kemudian kenyataannya Al Qur’an tak ada di dalam rumah mereka, sejatinya tetap ada di dalam hati warga desa itu. Tak heran kalau mereka tetaplah ingin memiliki.

Maka pesan dalam FB itu saya copy-paste ke dalam email dan saya posting ke beberapa teman dengan subyek UNDANGAN BERAMAL. Tak lebih dari satu jam, keisengan saya itu mendapat sambutan yang luar biasa. Saya terperangah! Subhanallah, bahagianya saya berada di lingkaran kehidupan yang sungguh sangat peduli pada sesama. Tetapi lebih dari itu saya percaya bahwa karena landasan iman yang kuat maka teman-teman saya itu berkenan mengulurkan tangan. Tak perlu lagi saya harus mengkonfirmasi, masing-masing justru mendatangi saya sambil menitipkan amplop berisi uang untuk membeli Al Qur’an. Belum 1 x 24 jam, uang amanah yang terkumpul mencapai dua juta rupiah. Saya tak kuasa membendung ghirah beramal teman-teman yang begitu memuncak, hingga akhirnya harus saya tutup aktivitas pengumpulan dana ini, karena dua juta tadi sudahlah cukup untuk memenuhi kebutuhan sebagaimana dikabarkan kawan saya. Toh saya masih tak bisa menolak titipan lainnya karena ternyata ada beberapa teman yang masih mengulurkan bantuan Al Qur’an secara langsung.

Saya mencoba mengambil hikmah dari peristiwa ini. Bukankah saat ini sedang mendekati lebaran dimana saya yakin teman-temanku sedang membutuhkan biaya besar buat persiapan lebaran. Tetapi untuk saling berbagi teman-teman tak lagi berfikir panjang, menimbang sana menimbang sini.  Ada semacam panggilan jiwa dan kesadaran diri yang mendasari ruang keimanan teman-teman untuk menginfakkan harta dari kucuran keringat sendiri. Tentu ini adalah perkara baik yang sangat dicintai Allah. Dan apabila Allah ridho, maka tak ada gantinya selain bahwa Allah akan memberikan ganti yang lebih baik daripada apa yang sudah diinfakkan. Maka siapa pun tak lagi mementingkan lebaran. Teman-teman lebih memilih ambil posisi berada dalam genggaman Allah daripada menggenggam dunia. Bukankah apa yang berada dalam genggaman dunia akan lenyap sementara apa yang berada dalam genggaman Allah adalah kekal ? Tak ada satu keberatan apa pun yang akan bisa menghentikan semangat berinfak kalau kita memahami benar landasan syariat seperti itu. Berinfak pada saatnya nanti akan menjadi urusan hati yang sangat ringan sebagaimana kita ingin membelj kebutuhan yang sangat penting. Manalah mungkin kita menunda-nunda kalau kebutuhan itu sangat penting. seperti itulah harusnya kita menggerakkan hati untuk berinfak.

Memang akan menjadi sejarah yang luar biasa, bagaimana mungkin teman-teman saya itu bisa berinfak hingga tempat yang jauh yang barangkali tak pernah terbayangkan seperti apa keadaan di Majene sana. Tentu bukan maksud teman-teman agar secara batin merasa menjadi lebih dekat dengan masyarakat di sana. Sungguh, lebih dari itu yang diharapkan adalah bahwa infak itu bisa  menjadi jalan bagi kami untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bukankah dekat dengan Allah adalah sebaik-baik tempat bagi manusia sehingga siapa pun akan menginginkannya. Ada ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan yang terbayang dan sungguh itulah sebaik-baik tempat kita kembali kelak, dekat dengan Allah dan mendapati wajah Allah.

Seandainya Undangan Beramal ini tidak segera saya tutup, bisa sangat mungkin akan terkumpul saldo yang teramat besar. Tetapi karena pertimbangan sudah memenuhi sebagaimana permintaan dari kawan yang mengikuti program Indonesia Mengajar, maka sangatlah tepat untuk ditutup segera. Tetapi saya melihat ada potensi besar yang bisa diberdayakan dari ghirah berinfak teman-teman yang memiliki kelapangan harta. Barangkali yang terputus adalah saluran untuk mendistribusikan ke mana infak ini akan diberikan. Maka, terisnpirasi oleh Anis Baswedan yang telah sukses dengan Indonesia Mengajar, sangatlah mungkin apabila kita bersinergi mendesign semangat baru dengan nama Indonesia Beramal. Terus beramal, jangan pernah berhenti sebelum akhirnya kita tersadar bahwa apa-apa yang kita miliki tak mampu menjadi penolong kita di hari akhir nanti.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: