MAAF

Tahun 1998 adalah ramadan pertama kali di Jakarta, sejak kepindahan kantor yang menyertakan saya menjadi kaum urban. Tak banyak perbedaan suasana menjelang ramadan yang justru hanyalah mengingatkan bahwa inilah puncak kesibukan kami orang televisi. Selain riuh oleh program baru bernafaskan religi yang tayang 24 jam, iklan pun bersesakan berebut spot. Tak ada kompromi bagi kami, kecuali harus bekerja keras membuat campaign khusus agar semua program baru di ramadan itu sukses merebut hati pemirsa. Mirip bola bekel, hari-hari ini saya akan hadir dimana-mana, membal sana-sini untuk menyusun persiapan kerja yang panjang, hingga tak terasa puasa pun tinggal sehari lagi. Maka, di tengah-tengah irama kerja yang kian meninggi itulah, beberapa teman menghadang jalan sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman, ” maaf lahir batin ya, Pak. Besok puasa ! “. Saya kaget dan belum bisa menangkap makna sesungguhnya kejadian ini. Semakin banyak bertemu teman, semakin mereka “reseh” mencuri waktu dan mengganggu konsentrasi saya, untuk bermohon bermaafan. Ya besok ramadan dan kawan-kawan saya sedang masuk sebuah pusaran tradisi bermaafan yang tak saya jumpai di Surabaya sebelumnya. Kog aneh ya!, pikir saya. Ini kan berkaitan dengan amalan dan ibadah, tetapi di Jakarta ada dan di Surabaya tak dijumpai. Bukankah agama itu ajaran telah menyebar secara holistik. Dan sungguh, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam telah menyebarkan semua ajaran Islam secara sempurna. Meski mempertanyakan dalam hati, tetapi saya tak kuasa menolak setiap uluran tangan dan pinta maaf itu. Ini kejadian  yang baru saya alami dan tak saya pahami.

Sungguh, Meminta maaf itu adalah kemuliaan seseorang dan pakaian terindah dari seorang muslim. Meminta maaf berarti tumbuhnya kesadaran diri akan suatu kesalahan yang telah dilakukan sehingga tersambunglah kembali oleh suatu kebaikan di antara dua fihak yang berselisih. Sekat-sekat permusuhan tak akan melebar dan senyum yang tulus akan menjadi dekorasi indah dalam kebersamaan. Meminta maaf pun sudah diajarkan oleh orang tua kita sedari kecil, manakala kita nakal dan mengganggu teman bermain. Dan dalam syariatnya, agama pun memerintahkan kita meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

Maka yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa muncul keberagaman sikap meminta maaf saat menjelang puasa ramadan ? Bahkan hari-hari ini, tak cukup dengan mengulurkan tangan, tetapi juga lewat SMS dan status di facebook. Tentu, mereka yang melakukan itu, merasa tak afdhol puasanya jika belum meminta maaf. Dan tentu akan muncul keberterimaan kalau yang tak meminta maaf adalah salah besar. Meminta maaf menjelang ramadan menjadi pengkhususan. Mereka yang menjadi pimpinan organisasi, kepala departemen saling berinisiatif mengumpulkan para bawahannya dan menyampaikan maaf atas berbagai kesalahannya yang sudah menumpuk. Yaa, saking sibuknya para pimpinan itu sampai punya catatan kesalahan yang ditumpuk dan merasa perlu untuk meminta maaf secara kolosal. Bapak dan Ibu pimpinan yang terhormat, mengapa sih meminta maafnya mesti menunggu ramadan ?

Dan nanti setelah masa ramadan berakhir, maka akan ditandai dengan berakhirnya obral diskon di departement store yang kemudian digantikan oleh obral “maaf lahir dan batin” di setiap lisan dan hati kita. Meminta maaf lagi dan kita merasa menjadi manusia paling suci. Yakin dan meyakini tak lagi punya kesalahan. Sok pede dengan atribut kembali fitri. Saling berkunjung dan ajangsana sambil berujar, ” Maaf lahir dan batin, ya “. SMS maaf bersemburat dan status facebook terbarukan. Kicau di twitter kian nyaring. Pun kartu lebaran yang masih konvensional atau bahkan terkesan jadul masih juga eksis untuk menyampaikan kata maaf lahir dan batin. Semua orang seolah-olah telah meraih kemenangan besar. Padahal, sesungguhnya kita telah melewatkan satu kekhawatiran yang paling masuk akal, apakah amalan kita di bulan ramadan benar-benar diterima? Apakah kemudian kita secara otomatis menjadi seperti bayi yang terlahirkan tanpa dosa setelah melewati ramadan ? Sungguh, terbukti kalau kita tak pernah berfikir dan tak berintrospeksi. Mari kita bercermin pada sikap para salafus shaleh, bahwa yang dilakukan pada hari lebaran adalah dengan saling berdoa, Taqaballahu minna wa minkum. Semoga amal ibadah kia diterima oleh Allah. Mereka menyerukan doa dan harapan di setiap jabat tangan saat bertemu teman. Bukannya saling meminta maaf ala minal aidzin wal faidzin yang tak jelas sumbernya. Sungguh, kita telah berbelok jauh dari jalan lurus menuju keselamatan.

Saling meminta maaf yang dikhususkan di awal Ramadan dan di setiap lebaran, semoga tak lagi menjadi kebiasaan dan tentunya yang tak perlu terulang setiap tahun. Maaf, ini adalah perkara yang bisa jadi sangat berat untuk kita tinggalkan, tetapi marilah kita pahami kembali cara pandang beragama kita, apakah masih diwarnai tradisi ataukah telah murni mengamalkan ajaran agama sesuai yang telah dicontohkan oleh penutup para Nabi, Muhammad Rasulullah.

Barakallahu fikum.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: