PEDAGANG

Satu profesi yang bisa digeluti secara tiba-tiba tak lain adalah sebagai pedagang. Secara naluri hampir setiap orang memahami betul prinsip berdagang, yaitu mengambil margin dari harga dasar yang nantinya akan menjadi nilai keuntungan bagi pedagang. Semua orang memahaminya lantaran semua orang nyaris selalu terlibat dalam proses menjual dan membeli. Pengadaan kebutuhan mau tak mau harus dengan cara membeli. Berarti semua orang adalah pelaku pasar. Maka sesungguhnya siapa pun menjiwai jika hendak menjadi pedagang, meski dilakukan secara tiba – tiba. Lihatlah, betapa banyak orang yang banting stir menjadi pedagang manakala menghadapi satu masalah dengan profesi sebelumnya. Itu pun yang juga dilakukan Ibu saya ketika menghadapi kenyataan saat Bapak meninggal dunia. Dari sebagai ibu rumah tangga yang mengurus kami 6 anak, ibu seketika beralih menjadi pedagang buah dan sayur di pasar untuk menjaga keberlangsungan income rumah tangga. Tanpa harus ikut magang atau training lebih dahulu. Ibu menaruh hal yang sangat penting yaitu naluri berdagang.

Tetapi adakah yang lebih menarik dari sekedar naluri itu ? Bukankah sebaliknya justru kita banyak mendengar kelakar nakal teman yang mendiskreditkan profesi pedagang. Lihatlah, saat ada teman yang memiliki sifat ” pelit ” dalam arti hitung – hitungan untuk urusan uang, maka dia digelari PDG, yang maksudnya treatment hidupnya seperti pedagang yang harus selalu mengambil keuntungan. Ah, lupakan itu!  Kita berdoa saja supaya teman – teman yang sok hitung – hitungan itu dibukakan hatinya sehingga punya rasa dan pengertian dalam satu urusan yang pada akhirnya tak lagi berrhitung, dan jangan kita nodai profesi pedagang untuk menjatuhkannya dalam canda yang tak pada tempatnya itu. Bukankah para pedagang itu memang harus berhitung, harus mengambil keuntungan supaya tak buntung. Supaya roda usaha terus berjalan dan bisa menghidupi keluarganya, juga supaya bisa menabung. Kalau pedagang tak boleh untung,  sungguh tak beruntung para pedagang karena kita telah menjadikannya bak patung yang tak lagi butuh sumber penghidupan.

Sungguh, pedagang adalah pelaku kehidupan yang memiliki aqidah paling indah, itu kata seorang Ustadz muda di hadapan saya. Pada pedagang, kita harus belajar bagaimana meletakkan sikap tawakal sepenuhnya. Inilah hal yang paling menarik dari seorang pedagang, yang nyaris kita lewatkan untuk mengambil pembelajaran darinya. Ketika seorang pedagang keluar rumah sambil membawa dagangannya, tak pernah terfikir bagaimana dagangannya nanti, laris atau justru miris karena tak ada pembeli. Tapi para pedagang itu keluar rumah dengan tawakal yang sempurna, sehingga semuanya dikembalikan pada keyakinan sebagai jalan hidup yang sudah didesign Sang Pencipta Alam Semesta. Tawakal yang didukung keyakinan akan pulang dengan membawa rejeki. Pedagang es buah punya kemantapan hati nanti akan banyak pembeli yang datang di hari yang terik meski sangat mungkin juga tiba-tiba cuaca berubah menjadi mendung secara ekstrim. Tapi pedagang es buah tetap yakin akan membawa keuntungan. Penjaja keliling jasa sol sepatu, siapa yang mengira akan ada orang ingin memperbaiki sepatu di lorong – lorong kampung yang dilaluinya, tetapi mereka optimis sepenuhnya kalau akan ada orang yang memanggil untuk memanfaatkan jasanya.  Usaha dan tawakal yang sepantasnya kita teladani karena saya yakin, orang kantoran seperti kita tak sepenuhnya memiliki sikap tawakal saat bekerja. Kita terlanjur kuat menanamkan keyakinan di akhir bulan akan menerima gaji utuh dari perusahaan. Selebihnya justru banyak yang berkeluh kesah karena gaji kecil dan tak cukup untuk mencukupi kebutuhan selama sebulan.

Pedagang adalah burung – burung kehidupan yang menghentakkan kakinya dan mengepakkan sayapnya untuk terbang mengais rejeki di pagi hari. Pada paruh dan jiwanya dipenuhi benih – benih tawakal yang saat pulang sore nanti akan berganti dengan buah rejeki.  Hmm, indahnya hidup dan kehidupan mereka karena digores warna tawakal dalam nuansa ikhtiar yang memadu satu. Sayang, kita melewatkannya, tak mengabadikan  dalam potret kehidupan kita agar bisa turut memotivasi semangat hidup dan membangun bingkai keimanan.

Saya tak hendak mengajak Anda untuk menjadi pedagang, tetapi saya ingin mengatakan bahwa Rasulullah pernah menekuni profesi pedagang di usia mudanya. Rasulullah adalah pelaku ekonomi yang menerapkan azas jual beli secara konsisten sehingga mampu memperkaya jiwa sekaligus menjadi pedagang yang kaya raya.

Barakallahu fikum

 

Thx to Ustadz Oemarmitta who has inspired this note.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: