PRIORITAS

Hidup selalu berada dalam arus pilihan. Lika – liku perjalanan mempertemukan pada persimpangan yang mengharuskan kita menentukan ruas pilihan agar perjalanan sampai di tujuan  dengan tepat dan selamat. Pada pilihan itulah segala pertimbangan di sandarkan. Seringkali ego menguasai fikiran sehingga prioriras diabaikan. Jelas – jelas harus berbelok ke kanan lantaran istri sudah menunggu dari tadi untuk di antar ke dokter karena keluhan pusing yang sudah dirasakan 3 hari terakhir, eh masih sempat juga berbelok ke kiri sekedar mampir beli rujak cingur kesukaan.

Begitulah kelemahan yang kita lakukan sehingga seringkali menuai masalah baru. Kalau sudah mentok, kita berdalih ” dijalani saja “. Padahal harusnya melakukan identifikasi masalah, dimana sebenarnya sumber persoalan ditemukan. Percikan api yang dibiarkan akan potensial berkobar menjadi jilatan api yang membesar. Maka jangan sekali – sekali menggampangkan beberapa urusan yang harus Anda hadapi dalam waktu yang bersamaan. Dengan identifikasi masalah, Anda punya dasar pertimbangan manakah yang harus diprioritaskan dan jauh lebih fokus.

Budaya ewuh pakewuh juga menjadi salah satu penyebab gagalnya kita menerapkan azas prioritas dalam konsep diri. Aktualisasi jadi terhambat lantaran suasana serba nggak enak begitu kuatnya menekan perasaan. Meeting yang bertele – tele sudah berlangsung dua jam sampai kemudian memasuki waktu sholat Ashar. Mau pamit ijin sholat maju mundur karena tekad belum mantap. Padahal pembicaraan meeting sudah jauh melebar ngalur ngidul hingga ngomongin gossip terhangat yang jadi trending topic di berbagai  media. Maka kalau sudah begitu keadaannya, tak ada alasan yang memberatkan untuk berpamit diri menegakkan sholat memenuhi seruan adzan yang berkumandang. Tinggalkan ewuh pakewuh karena  satu  urusan memiliki bobot lebih kuat untuk dilakukan daripada urusan yang satunya lagi. Kalau kita istiqomah dan selalu menegakkan sholat tepat waktu, maka orang lain pun akan memahami dengan baik pilihan itu. Saya mengalaminya sendiri. Atasan saya yang seringkali mengajak diskusi untuk pekerjaan dan proses kreatif, secara otomatis mempersilakan saya untuk ke masjid manakala sudah terdengar adzan. Saya tak perlu lagi memohon. Hal ini  bisa dimungkinkan karena atasan saya memahami betul sikap saya terhadap skala prioritas dalam beribadah. Begitu juga ketika ada undangan meeting dari seseorang, maka saya selalu bernegosiasi agar waktu meeting bisa dilaksanakan tanpa mengganggu waktu sholat berjamaah tepat waktu.

Penting buat kita bahwa urusan akherat adalah menjadi prioritas dibandingkan dengan urusan dunia. Inilah yang sering kita abaikan, seolah tak perlu mencetak prestasi untuk kepentingan kampung akherat. Barangkali karena prestasi duniawi bisa langsung dirasakan reward-nya sementara prestasi akherat seolah tak penting – penting amat lantaran cuma mendapat hitungan pahala yang tak kasat mata. Paradigma terbalik yang masih banyak dianut manusia, bahkan oleh teman sebelah Anda. Pembiaran terus dilakukan untuk tidak melakukan ibadah, padahal melihat dengan mata kepala sendiri Anda berpamitan mau sholat. Hati tak tergerak dan jiwa tak tergugah. Merasa cukup dengan berbuat baik tanpa harus menegakkan sholat. Sungguh ada yang salah dalam skala prioritas yang sudah mereka tetapkan. Dunia dikejar – kejar akherat disia – siakan. Dunia menjadi prioritas dan akherat dijauhkan dari pentas kehidupannya. Meski sesungguhnya, kita bisa menemukan betapa galaunya perasaan mereka yang tak memprioritaskan kehidupannya untuk beragama. Mengaku beragama tetapi tidak beribadah. Pada KTP tertera beragama Islam, tetapi tak menjadwalkan diri untuk sholat dan kewajiban beragama lainnya. Mereka telah menipu diri sendiri, berbelok pada arah yang salah saat dipersimpangan, meski pun rambu penunjuk arah yang benar sudah terpasang. Semua hanya karena satu sebab: dunia semata – mata telah menjadi prioritas. Menyedihkan.

Semoga hidayah selalu tercurah pada kita untuk selalu istiqomah dan mereka yang belum memprioritaskan ibadah dalam hidup dan kehidupannya.

 

Barakallahu fikum.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: