Happy Ending

Saya paling kecewa kalau nonton sebuah film yang dipamungkasi dengan keadaan terkalahkannya perjuangan sang lakon protagonis sehingga berakhir pada kesedihan. Mirip dengan penonton awam yang tujuannya mencari hiburan, maka saya lebih suka disuguhi akhir cerita yang happy ending. Barangkalj inilah katarsis saya untuk melepaskan diri dari realita dan fakta sosial yang terjadi yang seringkali berakhir secara tragis. Lumpur Lapindo Sidoarjo berujung pada kesedihan nan berlarut – larut, bahkan untuk membayangkan bagaimana keadaan terakhir para korbannya saya nyaris tak berani. Atau lantaran tak menemukan gambaran yang representatif, alih – alih media mengekspos adanya kegagalan komunikasi terbukti masih ada korban yang turun ke jalan. Ending drama kolosal warga Sidoarjo yang unhappy. Saya yakin, anda pun ikut kecewa atas kenestapaan korban lumpur Lapindo yang masih sering demo menuntut keadilan.

Bagi saya, happy ending adalah puncak pencapaian. Jika dalam naskah film endingnya bisa didesign sedemikian rupa oleh script writer-nya tergantung pesan filmis yang mau disampaikan, maka kita pun dalam menghadapi lakon kehidupan bisa menargetkan agar berujung happy ending. Semuanya bisa kita design dengan memperkokoh prinsip dan sikap hidup. Sebagaimana dalam kisah film, maka dalam kehidupan kita happy ending hanya bisa didapat dengan perjuangan yang berat, pengorbanan yang besar. Perjuangan dan pengorbanan itu memungkinkan langgeng oleh adanya penyikapan yang dewasa. Hati yang rapuh dan lebay tidak akan melanggengkan pengorbanan dan perjuangan itu. Pasti tersungkur di tengah jalan. Tak merasa ditempa, justru menganggap ditimpa beban. Simba dalam lakon animasi The Lion King dikisahkan kian tegar karena tempaan alam yang mendewasakan. Simba harus kuat untuk menghadapi intrik jahat pamannya sendiri yang hendak merebut tahta dari ayahnya. Begitu intensnya sang ayah membangun karakter Simba supaya menjadi pribadi yang kokoh sehingga siap menghadapi tantangan dan ujian kehidupan. Maka di akhir kisahnya Simba berhasil mewarisi tahta kebanggaan. Inilah puncak pencapaiannya. Happy ending.

Kehidupan pribadi kita tidak selamanya mulus. Selalu ada ujian. Selalu hadir cobaan. Ujian membuat kita naik kelas, begitu komentar seorang sahabat baik pada sebuah note saya. Alangkah datarnya lakon hidup kita jika tanpa ujian. Mirip permukaan laut yang tak bergelombang. Flat dan monoton. Maka berbahagialah jika ada ujian yang mewarnai hidup anda. Inilah kesempatan menjadi seorang kreator agar di ujung ujian itu anda mendapati happy ending. Design dan kelola ujian itu dengan penyikapan yang dewasa. Tiga tahun yang lalu saya diuji Allah lewat kondisi fisik istri yang melemah lantaran vertigo hebat yang menyerangnya selama dua tahun. Istri hanya bisa berbaring sepanjang hari sementara di rumah ada 2 balita yang harus diurus. Maka betapa saya sibuk di rumah dan di kantor. Mendampingi anak, merawat istri, mengurus rumah, menyelesaikan tugas kerja, ah serasa tak ada waktu untuk memikirkan diri sendiri. Seolah terpuruk tak berkutik. Saya hanya pasrah menjalani lakon hidup itu sambil berikhtiar ke sana kemari mencari kesembuhan istri, selebihnya bertawakal karena hasil akhir sepenuhnya di tangan Allah. Dua tahun bukan waktu yang singkat. Saya tak ingin menodai perjuangan hidup itu di tengah jalan karena ingin mendapati happy ending di akhir lelakon. Menyingkirkan prasangka buruk pada takdir, meyakini akan ada senyum bahagia di ujung perjalanan. Itulah yang memang pada akhirnya saya rasakan sebagai puncak pencapaian. Happy ending.

Maka jangan ngenes jika ada ujian. Jangan pernah menganggap sebagai kesialan. Hadapi dengan kesabaran sehingga menyuburkan kelapangan hati kita. Hati yang sempit tak akan sanggup memuat beban seringan apapun karena tak siap untuk berkreasi, mendesign langkah – langkah taktis menuju puncak happy ending. Seolah – olah melewatkan sebuah tangga untuk naik kelas. Padahal ujian itu sungguh tak seberapa dibanding yang harus dihadapi orang lain. Kita menjadi kagum ketika orang lain lulus dari suatu ujian, maka fikirkanlah agar orang lain juga kagum menyaksikan keberhasilan anda menyelesaikan ujian. Jangan malah membuat orang lain menyangsikan kemampuan anda, lantaran memergoki anda lari terbirit – birit dari ujian yang ada di depan mata. Anda justru memilih menjadi ayam sayur, bukan ayam petarung. Bukankah Allah sudah punya ukuran – ukuran tersendiri untuk setiap ujian yang diselipkan dalam lakon kehidupan kita? Pede aja lagi, untuk sekedar mengutip bahasa iklan yang memang punya daya magis memotivasi. Yakinlah pada kemampuan diri bersama kemauan anda menghadapi ujian. Dan anda tidak sendirian. Banyak doa dari kerabat dan sahabat yang mengawal anda untuk lulus cumlaude dari ujian seberat apa pun. Sesungguhnya sesudah kesulitan selalu ada kemudahan. Itulah happy ending. Itulah janji Sang Khalik.

Barakallahu fikum.

Thx to Mbak Nina Septriana who has inspired this note.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: