KB

Mutiara terindah dalam kehidupan kita adalah anak, lebih – lebih bila kehadirannya menjadi penyejuk pandangan mata dan memberi cahaya dalam rumah tinggal. Anak yang tumbuh sontoloyo tentu menjadi ujian keimanan. Bisa jadi karena adanya kesalahan dalam cara pengasuhan. Bukankah seorang anak itu fitrahnya adalah lembaran putih bersih? Kelak menjadi berkilau atau justru hitam pekat adalah orang tuanya yang menjadikan dan mempertanggungjawabkan. Anak yang sholeh akan menjadi pemberat timbangan amal orang tuanya, karena dia akan selalu mendoakan orang tuanya. Sebuah investasi akherat yang sungguh bernilai tinggi, sebab lantaran doa anak sholeh catatan amal kebaikan orang tua tak akan terputus. Sebuah keyakinan yang tentu kita semua sudah sepakat, lantas mengapa kita memilih membatasi jumlah anak ? Bayangkan jika anak – anak semuanya mendoakan untuk pengampunan dosa – dosa kita dan doa itu terangkat ke langit hingga diaminkan oleh para penghuni langit ? Subhanallah. Begitu indahnya menata keluarga surgawi tetapi mengapa kita justru termakan provokasi duniawi keluarga kecil keluarga bahagia. Jangan punya banyak anak, repot, biaya sekolah tinggi, cari makan susah. Kita telah menyandarkan keyakinan makan nggak makan pada pemikiran manusia yang cekak. Takut tak bisa memberi makan anak, takut nggak bisa menyekolahkan, takut dan takut hingga akhirnya membatasi jumlah anak. Lihatlah, kalau bertemu dengan seorang teman yang sudah punya anak dua, buru – buru kita komentar, “Wis cukup. Wis pas… cewek cowok “. Sebaliknya kalau melihat seseorang yang anaknya banyak, kita terheran – heran seolah nggak percaya, ” Kog bisa ya ? Gimana repotnya … “.

Dalam lingkungan sehari – hari yang saya temui adalah kawan – kawan yang membangun rumah tangganya dengan konsep minimalis. Bisanya membeli rumah sederhana sehingga tak cukup leluasa untuk menampung anggota keluarga yang banyak. Pilihannya akhirnya adalah membatasi anak. Membangun keluarga minimalis, keluarga kecil yang berencana. Tetapi kemarin dalam sebuah safar saya bertemu dengan seorang kawan baru. Masih seusia saya, tetapi qadarallah beliau memiliki 9 anak yang terurus dengan baik. Kalau generasi orang tua kita punya anak banyak sangatlah lumrah dalam pandangan kita. Sekian tahun lamanya, baru kali ini saya bertemu dengan seseorang yang ” unik “. Siap repot, siap capek tetapi saya juga yakin dia siap ditinggikan derajadnya di jannah. Hari gini, gitu loh. Karena ketertarikan saya, maka saya mencoba banyak bertanya pada beliau dengan harapan mendapat ibrah darinya. Sungguh betapa saya terhenyak ketika tahu manakala gajinya sebagai seorang pengelola pondok pesantren hanyalah di bawah satu juta. Bayangkan harus menghidupi sembilan anak. Istrinya membantu di rumah dengan menerima jahitan baju gamis. Tak pernah ada keluhan, semua urusan rumah diselesaikan sendiri dengan suka cita dalam kemeriahan bersama anak – anaknya. Sang istri justru akhirnya menjadi reference dan tempat curhat para ibu yang pusing mengurus rumah. Sering didatangi tetangga dan teman untuk berbagi cara mengurus anak dan rumah. Semua kebutuhan tercukupi meski dalam hitungan matematika paling cermat pun tak akan menemukan perimbangan bahwa beliau bisa memenuhi berbagai kebutuhan keluarga. Tetapi nyatanya semua berjalan lancar, tak pernah kekurangan materi apa pun. Sungguh, betapa memang Allah mahaadil dengan segala penciptaanNya. Kunci apa sesungguhnya yang dipegang oleh kawan baru tadi ?

Dari kesederhaaan penampilan kawan baru tadi, saya bisa menangkap itulah kunci kehidupan yang dipegangnya. Kesederhaan itu menjadi bukti bahwa dia telah berlepas diri dari materi yang bersifat duniawi. Tak ada angan – angan untuk memiliki ini dan itu yang akhirnya hanya membangkitkan ambisi dan keterikatan pada materi. Dunia di lepasnya, karena semakin dikejar betapa seseorang makin tersesat jauh dari negeri akhirat. Terperosok pada buaian dunia yang menyilaukan akal dan hati. Sebaliknya saya melihat begitu seriusnya kawan baik memikirkan pendidikan anak – anaknya. Dua anaknya di pondokan di sebuah pesantren di Solo, nun jauh di sana yang berarti butuh biaya sangat besar. Tentu ini bukan menjadi masalah lantaran ada pencapaian yang diharapkan bagi masa depan anak-anaknya. Kawan baru sungguh memiliki keyakinan yang sempurna bahwa Allah azza wa jalla telah menyediakan serba berkecukupan segala kebutuhan manusia di bumi ini. Dialah Allah yang menciptakan untuk kamu segala sesuatu di bumi ini semuanya ( QS. Al Baqarah 29 ). Tak terbersit pada kawan baru akan ketertakutan tak mampu membiayai sekolah anak- anaknya. Semua running well padahal dengan sumber penghasilan yang kecil. Inilah keberkahan yang tercurah pada keluarga kawan baru. Bandingkan dengan mereka para eksekutif yang gajinya selangit tapi selalu pusing memikirkan biaya sekolah. Pusing mencari obat untuk anaknya yang sering sakit – sakitan.

Sungguh saya mendapat tarbiyah dari kawan baru tadi tentang tujuan mulia memiliki anak. Tak cuma sekedar untuk meneruskan trah garis keturunan, tetapi lebih dari itu bagaimana anak – anak kita menjadi anak sholeh yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, yang juga paham konsep birrul walidain ( berbuat baik pada orang tua ). Maka betapa bahagianya kita jika sepanjang hayat masih dikandung badan merasakan kehangatan bersama riuhnya di kelilingi anak – anak kita yang sholeh dan sepeninggal kita, anak – anak itu tak henti – hentinya beristiqfar memohon ampunan untuk kita. Jika memang demikian, jangalah ragu untuk bergabung pada program KB, Keluarga Berkah bersama kawan baru saya. Amalkan satu hadits indah yang pernah disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu di hadapan umat-umat (yang terdahulu)” [Shahih Riwayat Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma’qil bin Yasar].

Semoga Allah merahmati Anda dan keluarga.

Barakallahu fikum.

Thx to Abu Jundi who has inspired this note

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: