MAINAN

Semua orang tua tentu sepakat kalau kecerdasan anak tak cuma terasah dari buku, tetapi juga karena rangsangan permainan. Jadi ketika bunda menuruti rengekan anak untuk membelikan mainan, dasarnya bukan sekedar limpahan rasa cinta pada buah hati, melainkan punya perspektif lain bahwa mainan yang diminta itu melatih sang anak dalam menggerakkan sensor motorik, merangsang kerja bagian otak tertentu. Memang mainan tak harus dibeli, jaman saya kecil dulu banyak dolanan anak yang dipentaskan secara massal dengan suka cita. Ada gobak sodor ( dari kata go back to door ) yang dimainkan dua regu untuk saling menghadang agar lawan tak bisa menerobos memasuki areal yang dijaga. Seru dengan teriakan koordinasi pimpinan regu agar pasukannya selalu siaga mengamankan kotak – kotak ruangnya. Gedhebak – gedhebuk kami berlarian saling mengocek lawan di bawah terangnya sinar bulan purnama. Permainan lainnya kami sebut pathel lele, dari gagang sapu yang tak terpakai kami potong dalam 2 bilah dengan ukuran pendek kira – kira 15 cm dan satunya lagi berukuran tiga kali lipatnya sebagai pengungkit. Pada sebuah lubang kecil, kayu yang kecil diungkit sehingga terlempar. Lawan yang bisa menangkap akan mendapat poin atau jika tidak berhasil menangkap, dia harus membidik kayu pengungkit yang diletakkan di dekat lubang tadi. Sungguh, banyaklah dolanan rakyat semacam itu yang kini tak dikenal oleh anak – anak kita. Jaman telah berubah dan anak kita menjadi anak jaman yang mengikuti geliat peradaban yang tumbuh. Kini, anak kita lebih mengenal Play Station ketimbang gobak sodor dan pathel lele. Mereka asyik masyuk di dalam kamar sendiri seolah anti sosial. Sebagian menjadi tambun karena sambil main PS, mulutnya sibuk mengunyah makanan ringan yang mengandung MSG.

Dulu, dari dus bungkus odol kami jadikan mobil – mobilan dengan menambahkan roda yang dibuat dari kempyeng tutup botol. Kadang disusun dalam rangkaian panjang hingga mirip kereta. Paling depan diberi lampu dari senter sehingga terang benderang menyorot jalanan yang dilalui. Dari batang bulpen berbahan kuningan, kami juga bisa bikin tembakan yang ditusukkan pada biji alpukat kemudian didorong oleh jeruji sepeda yang masuk secara presisi pada batang pulpen tadi. Kami saling berlarian berkejaran membidikkan tembakan berpeluru biji alpukat. Benarlah kalau permainan dulu itu memang merangsang kreativitas dan bikin cerdas. Dalam keadaan yang serba terbatas, tetap meretas masa depan dengan kepantasan permainan sesuai usia dan keadaan kami, tidak neko – neko. Bandingkan dengan permainan PS saat ini dimana anak dihadapkan pada simulasi kehidupan dan karakter yang serba jahat, supaya dapat nilai tinggi dia harus mencuri, menabrak mobil orang dan menghindari kejaran polisi. Saya mengenal game itu dengan nama Grand Thief Auto. Permainan yang mestinya diperuntukkan orang dewasa, di sini dengan bebas bisa dilagakan oleh anak – anak belia. Orang tua tak sepenuhnya menyadari bahaya yang mengiringi dimana memungkinkan anak menjadi reaktif, sensitif, gampang tersinggung dan emosional. Maka bukan rangsangan positif yang didapat melainkan justru pembentukan karakter yang semau gue dan tidak tepo sliro, bahkan cenderung anti sosial.

Suatu ketika saya lagi di rumah, tiba – tiba datang Adek Dika yang minta uang seribu buat beli mainan di Abang – Abang yang lewat. Ketika saya lihat, mainan yang di dapat semacam figur karakter robot dari bahan plastik dengan bau aneh yang sangat menusuk. Saya kaget dan takut. Jangan – jangan mainan ini terindikasi kandungan zat yang tidak ramah. Secara cuma seharga seribu gitu loh. Kalau dijadikan candaan, mungkin kita akan nyeletuk, seribu minta aman!. Seketika saya meminta Adek Dika untuk menukar yang lain sambil saya dampingi. Benarlah, Abang mainan juga menjual mainan lainnya seperti suntikan beneran yang di-recycle dari sampah medis. Saya nggak habis pikir, kenapa barang berbahaya ini bisa dijual bebas, lebih – lebih pada pada anak – anak yang tak paham risikonya. Bukankah suntikan bekas itu harus dimusnahkan dalam alat incinerator? Bahkan residu pembakarannya yang berupa abu pun juga masih harus diproses demi keamanan kesehatan lingkungan. Sebuah ancaman bagi kesehatan keluarga ada di depan mata kita yang sesungguhnya tidak kasat mata. Data dari Seputar Indonesia, rumah sakit di Indonesia saat ini memproduksi sampah medis 370 ribu ton per hari. Jenis limbah yang dihasilkan ini termasuk dalam kategori biohazard yaitu jenis limbah yang sangat membahayakan lingkungan yang banyak terdapat buangan virus, bakteri maupun zat zat yang membahayakan lainnya, sehingga harus dimusnahkan dengan jalan dibakar dalam suhu diatas 800 derajat celcius. Bayangkan jika oknum tertentu meloloskan sampah medis seperti suntikan bekas, plastik infus bekas dll untuk diperjualbelikan demi keuntungan pribadi. Oleh pedagang yang ngawur, akhirnya sampah medis itu dipaksakan jadi mainan yang dibeli oleh anak – anak kita.

Maka perlulah kiranya kita bersikap sebagai smart parent. Tidak sekedar menjadi orang tua yang selalu memenuhi kebutuhan dan permintaan anak, tetapi secara cermat ikut memperhatikan bentuk permainan yang mereka pilih. Kadang kita membiarkan mereka bermain sesukanya lantaran istirahat Anda di rumah tidak terganggu tetapi justru itu menjadi investasi kehancuran moral dan akal anak – anak kita. Kita tidak sadar anak berada dalam cengkeraman permainan yang menyerempet bahaya, bisa dari materi fisik permainan ataupun isi materi pada permainan itu. Pada pengujian yang dilakukan YLKI pada Maret 2011 sejumlah mainan edukasi buatan China, Thailand, Inggris hingga Israel, didapati mengandung zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan seperti timbal (Pb), mercuri (Hg), cadmium (Cd) dan Chromin (Cr). Meskipun tidak memberi dampak langsung, namun untuk jangka panjang zat-zat kimia ini dapat memberikan dampak negatif pada kesehatan anak seperti misalnya gangguan pada saraf otak

Maka sangat penting untuk luangkan waktu bagi buah hati, buanglah jarak waktu untuk merubah diri menjadi sahabat mereka. Rangkai permainan bingkai kebersamaan dengan suka cita. Banyaklah yang bisa Anda pilih, permainan kata yang bisa dikreasi dengan berbagai cara atau permainan yang memanfaatkan properti yang ada untuk membuat rumah – rumahan. Bermain tak harus dengan membeli mainan. Banyak hasta karya yang kita peroleh di sekolah dasar dulu, tularkan pada anak. Sungguh, akan menjadi keasyikkan tersendiri. Anak senang dan Anda tenang. Selamat menikmati kehangatan bersama buah hati Anda.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: