KAYA

Obrolan apa sih paling banyak muncul saat karyawan pada kumpul ? Kalau kita pasang telinga, tentu pembicaraan paling sering dilontarkan antara lain gaji yang tidak cukup, pekerjaan menumpuk, atasan galak, capek badan dan fikiran hingga ujung- ujungnya stress berat. Saling mengeluh meski tak kunjung menemukan jalan keluar. Seandainya bisa menyontoh yang pernah diterapkan pengelola bis angkutan umum, mungkin paling tepat diberi rambu peringatan sesama karyawan dilarang saling mengeluh. Bener loh, kalau ini terjadi maka yang ada hanyalah demotivasi karena satu sama lainnya saling menularkan aura negatif. Dua praduga saya untuk sekedar memberikan penilaian, pertama bahwa mereka lihai  menginventarisasi masalah tetapi tidak mampu merumuskan solusi atau kedua, sudah terlanjur pasrah pada keadaan. Di antaranya ada yang berkomitmen work hard stay humble, tapi tetap saja dihadapkan pada tumpukan masalah yang menggunung dan tidak terselesaikan. Atasannya sudah menyarankan agar menerapkan konsep work smart tetapi ternyata tak semudah dan seindah omongan para motivator sekelas Mario Teguh. Lantas kalau tujuan bekerja agar bahagia, apakah kemudian mereka bisa dikatakan bahagia? Jangan – jangan para karyawan itu bisa dibilang bahagia kalau lagi bercengkerama dengan anak istri, tetapi di kantor sesungguhnya ngempet perasaan yang tertekan. Lebih celaka lagi, di rumah nggak harmonis dan di kantor nggak sinkronis dengan habitatnya. Lengkap sudah penderitaannya.

Apa sih sebenarnya yang dicari seseorang dalam bekerja? Tentu saja penghasilan agar tercukupi semua kebutuhan hidupnya. Target ke depan adalah menjadi kaya raya. Ketika saya bertanya pada seorang kawan baik, bagaimana orang bisa dikatakan kaya. Saya mendapat jawaban yang mengejutkan. Kaya itu adalah seseorang tidak bekerja tetapi punya penghasilan tiga kali lipat. Wow ! Ini jawaban yang luar biasa, meski sepintas saya menganggapnya hil yang mustahal. ” Mana mungkin, mas Bro! ” Sanggah saya. Kenapa harus diukur dengan tiga kali lipat? Kawan baik tadi menjelaskan sejumlah itu adalah satu kali gaji untuk kebutuhan sehari – hari, satu kali gaji untuk perputaran usaha dan satu kali gaji buat beramal Dia sendiri tidak perlu bekerja karena usahanya dikelola oleh anak buahnya sehingga punya waktu luang mengurus keluarga, beribadah dan rileks tanpa diperbudak waktu dan uang. Setiap tahun tidak bertanya berapa gaji saya, sebagaimana gambaran karyawan yang sering mengeluh tadi. Tetapi setiap tahun pertanyaan yang muncul adalah berapa saya akan menggaji karyawan saya.

Senang rasanya bertemu dengan kawan baik yang cerdas ini. Sesungguhnya dia telah memberi solusi bagi banyak teman – teman yang sering mengeluh tadi untuk memulai sesuatu yang menantang: wira usaha. Memang tidak gampang  memulainya. Pertama yang harus dihadapi adalah mental. Berapa banyak orang yang akan diliputi rasa malu ketika harus menawarkan barang dagangan, meski ke teman dekatnya sendiri. Boleh Anda coba.   Betapa malunya ketika menenteng bawaan, apalagi ada yang iseng bertanya, Bawa apa tuh? Kikuk kita menjawabnya,  “anu ini loh buat anu “. Jawaban yang nggak jelas persis seperti visi kita yang tidak jelas. Padahal kalau boleh tahu, para wira usaha yang sudah running usahanya, tiap minggu mereka masih membuka lapak sederhana di pasar minggu  pagi yang banyak dibuka di tempat – tempat strategis. Upaya ini sebenarnya dilakukan  untuk  tetap menjaga stabilitas mental berdagang, agar tetap terputus urat malunya. Agar tidak malu untuk berdagang. Malu tanda menolak rejeki. Maka manfaatkanlah teman – teman dimana Anda bekerja. Sulaplah  mereka menjadi pasar Anda. Bawalah dagangan tawarkan pada mereka. Pertama – tama barangkali masih malu – malu kucing, tetapi pada akhirnya anda akan punya jurus  menyeruduk seperti banteng ketaton. Nggak bisa lihat teman sedikit. Ada teman muncul, naluri berdagang langsung mencuat menawarkan dagangan yang dibawa. Sungguh ini proses yang butuh waktu lama, seolah Anda sedang membangun brand image. Pada akhirnya Anda akan menjadi top of mind bagi teman Anda, kalau butuh pulsa ingat si Maman, kalau mau beli bed cover ingat si Mimin, ingin pernak – pernik terbayang si Mumun, pesan chicken nugget langsung menghubungi si Momon. Senangnya kalau pencapaian ini sudah Anda raih. Seolah rejeki sudah datang dengan sendirinya. Pintu kesuksesan terbuka lebar. Nggak perlu memasang boneka kucing yang satu tangannya melambai – lambai seolah memanggil pembeli dan mendatangkan duit.  Jauhi klenik hindari api neraka. Ikhtiar yang  kuat jauh lebih mulia.

Selanjutnya ikan – ikan yang sudah mulai tergiring ke arah Anda, janganlah dilepas. Siapkan jaringnya dengan mulai menyiapkan outlet kecil di rumah. Cara ini untuk makin memantapkan niat dan usaha Anda sebagai upaya deklarasi kepada relasi bahwa Anda serius dan siap mengakomodasi setiap permintaan. Bersamaan itu mulailah untuk mempelajari sistem dan cara pengelolaan. Dalam hitungan dua tahun, Anda sudah akan berani untuk melepaskan pekerjaan utama berpamit resign pada atasannya. Tak lagi Anda mendengarkan keluh kesah yang sedu sedan. Sambil terus memikirkan pengembangan usaha, ada banyak waktu luang untuk memperbanyak ibadah, memperbanyak amal, mendatangi kajian dan taklim bersama ustadz yang mumpuni. Jangan lupa untuk memperhatikan kesejahteraan karyawan agar mereka tak menjadi burung cicit cuit yang menyiulkan keluhan seperti pernah Anda dengar di kantor lama. Maka Anda telah menjadi orang pertama yang memutuskan mata rantai keluh kesah. Kalau dibayangkan,  oh betapa indahnya hidup tanpa keluh kesah sementara Anda sudah menyandang status kaya raya dan insya Allah mati masuk surga.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: