PERASAAN

Berkumpul bersama keluarga di kampung halaman mengantarkanku pada ingatan masa kecil. Sungguh perasaan senang berbunga – bunga. Terbayang saat – saat masih belia yang belum mengerti apa – apa. Berantem sama kakak, ribut sama adik. No wonder. Hantam kromo mau menang sendiri. Saat sekarang saling berjauhan tempat tinggal, rasa saling menyayangi makin kuat, menguasai kesadaran kami bahwa bersaudara memang demikian mahfumnya. Kalau merujuk pepatah yang terdengar di kampung, adhoh mambu kembang cedhak mambu telek, ah, saya pun tak sepakat dengan pepatah itu. Jauh atau dekat, sudahlah saling mengetahui kepribadian dan sifat di antara kami. Kekurangan dan kelebihan akan kami jadikan sandaran untuk menjalin silaturahmi sambil saling bernasehat. Bukankah dalam sepetak rumah yang menjadi saksi sejarah telah merekam bagaimana Ibu mengajarkan kami budi pekerti, sopan santun dan segala kebaikan yang harus saya tanamkan dalam sikap. Kalaulah dulu berantem di siang hari, malamnya pun kami sudah rukun lagi di tempat tidur yang terbentang tak berkamar. Di luar itu, sesungguhnya kami: saya, kakak dan adik seolah seperti satu tubuh, jikalau yang satu sakit yang lain turut merasakan, sebagaimana pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shahih.

Dulu, setiap maghrib Ibu selalu menyuruh untuk pergi ke musholla yang kini sudah menjadi masjid megah di dekat rumah. Ya, selesai menunaikan sholat, kami akan mengaji. Menghafal surat pendek, mengupas hadits dan memperbaiki tawjid. Beberapa hafalan seperti surat pendek kelak akan sangat bermanfaat karena sadarlah kini kalau di usia yang sudah lanjut susahlah untuk menghafal lagi, seolah begitu sesak data yang terakumulasi di dalam otak hingga menolak setiap data baru yang terkirim. Ilmu agama yang saya dapatkan dulu, ternyata tidak semua sepenuhnya shahih untuk merujuk pada cara beragama yang benar. Entah dari mana  sumbernya, sejak dulu kalau mau sholat melafalkan niat dan selesai sholat selalu mengusap wajah. Memang itulah yang kami lihat di musholla dulu ( bahkan sampai saat ini ). Seolah ada kekhusyukan yang menyatukan jiwa dengan Sang Ghaib kalau sudah melafalkan niat dengan mantap. Seolah ada rasa tenang yang mengerubuti perasaan kalau sudah mengusap wajah seusai shalat. Sepertinya kita telah mengkhatamkan sebuah pekerjaan mulia dalam rangka menyirami kalbu dengan kesejukan ritual sholat.  Gerakan ini selalu kami lakukan di setiap sholat, seolah menjadi rangkaian dan kesatuan tatacara yang tak terpisah dari sholat itu sendiri. Selalu dan selalu bahkan tak bisa menghindarkannya. Ada rasa yang kurang, ada runtutan yang hilang kalau tak baca “Usholi” dan mengusap wajah. Otak buru – buru akan mengirimkan perintah kepada syaraf dan hati untuk melakukannya di setiap ibadah sholat. Tetapi betapa kagetnya kami ketika menyadari bahwa ada larangan tegas melafalkan niat dan mengusap wajah selesai shalat. Maka mau tak mau saat ini kami harus mereview dan menata ulang cara beragama dan beribadah.

Sami’na wa ato’na. Kami dengar dan kami taat, itulah kesepakatan yang harus di terima. Cara beribadah yang mengedepankan perasaan sungguh harus kami tinggalkan  untuk selanjutnya berhujjah pada dalil. Semudah itu kog. Tetapi akan menjadi masalah besar apabila hawa nafsu yang menguasai fikiran kami. Berat meninggalkan suatu amalan hanya karena beralasan sudah menjadi tradisi. Sungguh seperti itulah syetan menjebak kita dengan cara halus, mengobok – obok perasaan menyeret ke dalam kekaguman masa lalu dan sejarah yang harus dihargai. Mengajak jauh dari sunnah dan menjebloskan kita pada amalan – amalan yang tertolak, yaitu amalan yang sama sekali tak dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in. Kita bersikukuh ini sudah diamalkan oleh pak Kyai saya. Mati – matian dibela, dipertahankan dan dicari-cari pembenarnya. Pokoknya kalau pak Kyai begitu ya saya juga begitu. Ketahuilah ya Akhi, ini sungguh musibah besar. Kalau itu adalah amalan yang benar, mintalah pada pak Kyai dalil shahih yang menjadi pijakan. Ada yang mengomentari jenggot dengan alasan faktor kepantasan. “ Kalau tidak pantas ya nggak perlu memanjangkan jenggot “, katanya. Jika sekadar berlogika, tidakkah berfikir bahwa fitrah laki-laki itu berjenggot dan sudah pasti sangat – sangatlah pantas melekat pada fisik seorang pria. Mengapa harus ditolak dengan beribu alasan mengada-ada agar memuaskan perasaan yang menguasai fikiran.

Bagaimana mungkin ada seseorang yang mengaku Kyai tetapi dalam berdakwah justru menjadikan agama sebagai tumbal dimana sunnah sengaja ditinggalkan dan jamaah dijauhkan dari sunnah. Sampai – sampai memusuhi dan membenci orang yang mendakwah sunnah. Maka saya berdoa semoga petunjuk Allah tercurah pada mereka dan kita yang senantiasa memegang erat sunnah dengan geraham, selalu diberi keistiqomahan dalam beramal shalih. Sungguh, kita tak hendak memecah belah persaudaraan, tetapi justru dalam rangka saling bernasihat dalam kebaikan, bernasihat agar  bersama – sama bisa menjauhkan diri dari kemunkaran, untuk selanjutnya mempersatukan persaudaraan dan mempertemukan kita dalam keindahan sunnah.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: