CINTA

Pada setiap penciptaan manusia, sesungguhnya selalu diselipkan sepotong rasa cinta dalam hatinya. Meski berbeda tekstur kulit, berlainan bentuk mata dan bermacam warna rambut, tetapi mereka sama – sama memiliki rasa cinta. Berbeda – beda tetapi tetap satu dalam cinta. Maka manusia akan tumbuh untuk saling mencintai dan dicintai. Dua pribadi yang tak saling kenal, bisa bersatu lantaran cinta. Barat dan timur memungkinkan bisa bertemu tak lain hanya karena dorongan cinta. Betapa dahsyatnya kekuatan cinta. Sepenggal rasa itu menjadi sisi indah bagi kehidupan, menyuburkan benih kedamaian. Ketika rasa cinta dinisbikan, yang tersisa hanyalah amarah yang membara dan peperangan yang memusnahkan rasa kemanusiaan dan eksistensi manusia itu sendiri. Sungguh mengerikan hidup tanpa cinta, ibarat hidup di negeri antah berantah yang gelap gulita tak berwarna. Makanya banyak penyair yang melukiskan bahwa dengan cinta hidup menjadi penuh warna, laksana pelangi yang terjulur di ufuk senja selepas gerimis menetes lembut.

Cinta sejati tak bersyarat, diekspresikan kapan saja, dimana saja dan untuk siapa saja. Tidak ada pengkhususan, termasuk pada waktu. Pengkhususan hanya membuat kejutan menjadi hambar. Istri bisa menebak paling – paling pada 14 Februari suami pulang kerja bawa mawar merah dan cokelat bergambar hati sambil membisikkan rayuan ala kadarnya, Be my valentine. Besoknya ribut sebagaimana rutinitas yang terjadi di dalam kamar setiap harinya. Ada saja gara – garanya. Bahkan perkara kecil menjadi pencetus keributan, semisal kaos kaki yang tak tersedia. Padahal suami tahu seminggu hujan tak berhenti dan kaos kaki masih bau apek cementhel di tali jemuran. Cinta bukanlah diekspresikan dalam eforia tahunan. Tanam benih cinta di ladang hati Anda agar bisa dipetik setiap hari untuk dipersembahkan pada istri, anak, orang tua, saudara dan sahabat. Kapan saja dan di mana saja. Sejuta mawar yang tertanam di ladang hati Anda, tak bakal merepotkan kalau mertua minta bukti, karena mawar kasih sayang sudah Anda delivery-kan pada istri dan anak. Sejuta mawar yang siap dipetik dari ladang hati, bisa dijadikan surprise pada istri, kapan saja Anda mau. Mengapa harus menunggu setahun sekali ? Sudah basi kaleee …

Manisnya cinta bisa memabukkan perasaan. Lupa daratan tak mampu meluapkannya secara proporsional. Cinta yang berlebihan berujung pada buta rasa. Cenderung jadi memanjakan. Akan jadi masalah besar jika tak dikendalikan. Anak jadi tidak mandiri karena ungkapan cinta orang tua yang berlebihan. Dan orang tua terjebak pada keadaan yang kritis karena cintanya tak dibentengi dengan iman. Terlanjur cinta pada anak, harta, kekuasaan dan materi seolah dunia ada dalam genggamannya. Sebaliknya dalam ibadah tak ada sentuhan cinta pada Allah dan Rasul-Nya. Lihatlah bagaimana Allah azza wa jalla mengingatkan kita dalam Qur’an surat At Taubah ayat 24, ” Katakanlah: “Jika bapak – bapak, anak – anak, saudara – saudara, istri – istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah – rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan ( dari ) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. ” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang – orang fasik.

Pertanyaannya sekarang adalah seberapa besar cinta Anda pada Allah? Pilih melotot di depan tivi kesayangan atau mendatangi masjid saat seruan adzan dikumadangkan ? Pilih mendengarkan kajian sunnah atau window shopping saat istirahat kerja ? Alangkah meruginya kita, dunia dijadikan tambatan hati sementara akherat cuma dijadikan tambalan hati. Baru sholat kalau tertimpa ujian. Banyak berdoa jika dihimpit petaka. Mau diukur dengan skala apa cinta kita pada Allah dan Rasul-Nya, kalau aktivitas rohani begitu amburadulnya. Lihatlah pengorbanan para shahabat yang mengiringi perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kekalahan dalam perang Uhud yang mengorbankan raga 70 shahabat hingga seorang shahabiah kehilangan tiga orang yang dicintainya sekaligus: bapaknya, saudara laki-lakinya dan suaminya. Tetapi apa yang dilakukannya? Shahabiah yang mulia itu justru menanyakan keadaan Rasulullah. Sama sekali dia tidak terlena dalam kesedihan atas kematian 3 orang yang lekat di hatinya. Yang diharapkan hanyalah keselamatan atas Rasulullah. Itulah bukti cintanya pada Rasulullah.

Maka tebarkanlah cinta pada semua orang. Dengan begitu Anda telah memberikan rasa aman dan selamat bagi siapa pun yang ada di sekitar. Bukankah sebuah hadits sudah menuntun kita bahwa orang muslim itu adalah jika orang muslim lainnya terselamatkan dari lisan dan tangannya?. Kalau sudah mengusung cinta, manalah mungkin bakal mengganggu atau ngrecoki. Cinta akan memadamkan api permusuhan, menenangkan gelombang amarah, meluruskan tikungan tajam kedengkian. Segera tebarkan cinta, jangan ditunda. Cinta di hati memang untuk selalu dibagi. Lebih dari itu semua, pastikan untuk meletakkan rasa cinta kita pada Allah dan Rasul melebihi dari segalanya. Jadikan cinta ( mahabbah ) sebagai landasan dalam beribadah kepada Allah, sejajar dengan pengharapan ( rodja ) dan takut ( khauf ). Insya Allah jalan keselamatan telah Anda raih.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: