BOLA

Sepak bola memang sudah menjadi olah raga yang membumi. Dari anak – anak hingga dewasa, kaya atau miskin, laki – laki maupun perempuan semuanya sepakat menyukai sepak bola. Begitu banyak ragam olah raga, toh sepak bola tetap menjadi pilihan manusia sejagad. Dunia bisa memfokuskan perhatian pada satu hal yang sama pada waktu yang bertepatan justru ketika terjadi pertandingan bola dunia. Bahkan oleh para pemimpin yang terhormat urusan dalam negeri rela ditinggalkan sejenak hanya untuk bola. Segala kepentingan sengaja ditunda agar tak melewatkan moment penting di atas yang penting, sepak bola. Berapa banyak yang tak mengindahkan nasehat orang tua hanya untuk mendukung kesebelasan tercinta langsung di Senayan dalam konvoi di atas bus yang membahayakan sambil meneriakkan yel – yel provokatif. Larut dalam eforia sesaat hingga memacetkan jalan raya dan akhirnya berani adu fisik sampai memakan korban puluhan nyawa justru di dalam lapangan hijau, dimana di situ baru saja diikrarkan semangat fairplay. Sesuatu yang wajib dikerjakan semisal sholat pun juga dilalaikan. Hanya demi bola.

Di depan layar tivi begitu cakapnya mengomentari setiap pertandingan seolah kita sudah punya seribu pengalaman berlaga. Selebrita, politikus, kyai kondang hingga anak sekolah semuanya cuap – cuap jual kecap mencermati bola yang mengelinding diperebutkan oleh dua kesebelasan. Giliran di suruh main mewakili RT dalam pertandingan Agustusan ternyata kocar – kacir dipermainkan dan dipermalukan lawan. Habis jadi bulan – bulanan. Kita berdalih menyalahkan lapangan yang tidak rata dan becek. Yang lain nyeletuk salah formasi dan strategi. Kalau saya bilang ya salah kostum makanya keok kayak ayam sayur. Tapi bangga sih sudah berani membela nama baik RT, mati – matian dalam pertandingan hidup mati yang menegangkan, penuh teriakan dukungan oleh anak – anak meski akhirnya komentar lemas terlontar, ” yaaa…Bapak kalah ! “. Tapi sungguh, Anda sudah jadi pemain sejati.

Dalam hidup ini, sejatinya Anda adalah pemain bola. Bersama Anda, ada 3 bola yang harus digiring ke gawang cita – cita kehidupan. Tiga bola yang memiliki karakter berlainan sehingga treatment-nya pun harus berbeda agar bola tetap lekat dalam kendali. Bola – bola kehidupan ini akan mengantarkan keberhasilan dan kebahagiaan sesuai kelihaian Anda mengolahnya di lapangan. Bola yang bundar itu harus dimainkan, tidak harus dengan permainan yang bagus tetapi Anda tidak boleh melakukan kesalahan satu pun. Bisa fatal akibatnya.

Bola pertama adalah bola yang terbuat dari karet. Bola karet. Sifatnya lentur sehingga membal bila terkena benturan. Inilah bola yang harus Anda mainkan di tempat kerja. Begitu seringnya benturan yang terpaksa harus Anda hadapi di kantor, dengan berbagai karakter teman – teman yang berbeda. Tetapi sungguh benturan itu akan membuat Anda menjadi pribadi yang tangguh. Tetap mainkan bola karet Anda dengan sportifitas tinggi, berkarakter dan bangun selalu kerjasama untuk bersama -sama melesakkan bola ke titik tuju dengan tajam. Jangan pernah takut gagal, karena bola Anda sangat lentur. Kalaulah terlepas, pada saatnya akan kembali ke kaki Anda. Seribu benturan yang Anda hadapi, seribu pula pengalaman yang didapatkan. Pahami betul arah dan sikap teman di kantor. Kalau ada yang suka menjilat, cari muka demi jabatan berhati – hatilah karena mereka ibarat srigala lapar yang mau kenyang sendiri. Bisa – bisa Anda jadi korban keganasannya. Ditelan mentah – mentah, disantap dengan lahap. Meski bola Anda membal, lebih baik untuk tidak Anda operkan pada kawan macam itu. Pilihlah partner bermain yang punya iman, nurani dan etika. Bersama orang yang baik, tendangan yang lemah pun terasa berenergi. Bola tak bakal terlempar ke lumpur dimana daya membalnya tak bisa diukur.

Bola kedua, bola api yang bakal Anda mainkan bersama teman di luar. Bola yang ini butuh pengawalan lebih hati – hati. Anda tidak boleh berlama – lama mendekapnya lantaran bola api gampang tersulut dan menyulut. Lidah apinya selalu terjulur merespon setiap aksi yang menariknya. Artinya bahwa banyak pengaruh eksternal yang akan mewarnai hidup Anda di luar sana. Anda dan orang di sekitar Anda masing – masing membawa bola api. Konsekuensi logisnya bisa saling memanas menghadapi suatu urusan. Saling mengompori hingga kita keluar dari alam kesadaran. Ujung – ujungnya adalah penyelasan setelah tertimpa resikonya. Maka jangan berlama – lama memainkan bola api. Tinggalkan bola api liar, segeralah pulang ke rumah jika tak ada urusan yang memberi manfaat. Ketuklah pintu dan sesaat tunggulah teriakan anak – anak yang menyambut Anda. Semburat bunga bahagia seiirng pintu yang trebuka untuk Anda. Gapai kebahagiaan di rumah surgawi Anda bersama istri dan anak – anak.

Bola ketiga adalah bola kristal yang mesti Anda mainkan bersama istri dan anak – anak. Bola yang sangat rentan, gampang pecah berkeping – keping sehingga akan sulit untuk menyatukannya kembali. Menjaga bola kristal akan menjadi ritme permainan terberat tetapi sungguh menjanjikan kebahagiaan dunia akherat. Maka kawallah bola kristal Anda dengan sikap bijak. Terserah mau menggiringnya dengan gaya samba atau gaya aristokrat yang konservatif,yang pasti tak bisa mentolerir satu kesalahan pun. Sekali salah, bola kristal akan retak atau lebih parah lagi kondisinya. Itu akan menjadi awal petaka dalam hidup Anda. Bola kristal harus selalu dilindungi dari benturan kecil sekali pun. Giring dengan cinta sepenuh hati, jangan terlepas satu kali pun dari jangkauan. Tak perlu dioperkan karena Anda adalah pemain tunggal sekaligus kapten kesebelasan yang bertugas menjaga irama permainan. Seluruh lini harus dalam penguasaan Anda. Siapkan stamina paling prima sehingga bola kristal dalam pengamanan maksimal. Bola kristal sesungguhnya bola terindah yang Anda miliki, menjadi amanah luhur yang kelak dimintai pertanggungjawaban. Apakah Anda mampu mengantarkan bola kristal di tempat termulia yang diinginkan bersama ataukah justru tersia – siakan kilau indahnya sehingga terjerembab dalam kubangan kotor yang menjijikkan. Kini pilihan ada di tangan Anda !

Barakallahu fikum.

Thx to Nanang DS & Andri Kusjanto for sharing big idea.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: