HBD

Ketika bayi terlahir di dunia, betapa memancarkan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya. Tangisannya berbaur dengan sanjungan mengesankan memenuhi ruang udara yang menyelimuti. Hari itu, tanggal itu dunia mencatatnya sebagai penghuni baru. Dalam hitungan ke depan, usianya akan terus bertambah bersamaan dengan berbagai kehidupan yang dijalani. Siklus penanggalan tahunan akan terus terulang dan sang bayi tumbuh dan tumbuh lagi. Tak pernah ia meminta, tetapi sang mama sibuk menandai hari kelahirannya dengan perayaan ulang tahun. Sang mama berbangga diri menunjukkan ke teman – temannya kalau si kecil tumbuh sehat, kuat dan pintar. Sang anak bengong di depan kue tart sambil menepuk tangan tanpa ekspresi, di kepalanya melingkar topi khas yang menandai sebuah perayaan. “HBD ya sayang “, kata mamanya sambil diikuti para hadirin yang mendapat bingkisan berisi bermacam snack yang nanti menjadi pencetus batuk siapa pun yang mengkonsumsinya. Merasa dimanjakan, kelak sang anak akan selalu merengek untuk dirayakan setiap tahun hingga puncaknya di usia 17 tahun sebagai perayaan ulang tahun paling meriah seumur hidupnya.

Bukannya ngiri dan sirik, seumur hidup saya belum pernah merayakan dan dirayakan saat ulang tahun. Kondisi keluarga yang serba kekurangan waktu kecil, bisa jadi sebagai penyebab tetapi sungguh justru inilah yang membuat saya bersyukur dimana kebiasaan merayakan milad itu tak menyentuh sisi romantisme kehidupan saya hingga dewasa ini. Kalau orang lain begitu mengistimewakan hari kelahairannya, saya justru melewatkannya biasa – biasa saja. Yang saya ingat hanyalah angka usia yang bertambah yang berarti jatah hidup di alam mayapada ini semakin berkurang sambil menimbang – nimbang seberapa banyak benih kebaikan yang sudah tertanam. Saya tak merepotkan diri dengan membawa kue buat teman – teman biar dapat ucapan dan doa yang berujung cipika cipiki. Justru pada hari – hari biasa saya sering bawa sedikit kue buat teman – teman dekat sekedar berbagi dan menjadi surprise kecil – kecilan. Triknya, di saat pada suntuk dengan kerjaan, saya keluarkan kue sederhana itu seperti kue bantal, kue dorayaki, singkong goreng atau apa saja yang kadang saya temui di jalan. Lihatlah ekspresi teman – teman, “ lahhhhhhh ….”, kata pendek yang diucapkan dalam irama memanjang. Sungguh sudah jadi penanda moment kegembiraan.

Bukannya nggak romantis tetapi entahlah, tepat di hari ulang tahun, saya tak pernah berharap mendapat ucapan special dari siapa pun, termasuk istri tercinta. Saya memilih dan sepakat membangun suasana romantis dalam moment yang lain. Di jejaring facebook saya pernah mencantumkan data kelahiran waktu registrasi awal, ternyata berimbas pada pemberian ucapan HBD oleh teman – teman. Baru sadar, maka kemudian saya menghapus data itu. Tetapi herannya, satu – dua teman masih mengingatnya sehingga pada tanggal keramat itu terkirim greeting HBD. Mungkin sudah masuk memori. Saya pun sok cuek dan sok sibuk gitu, tak membalas ucapan itu. Toh ini juga tak membuat sakit hati mereka yang sudah mengirimkan ucapan. Seorang kawan baik yang suka usil bahkan punya cerita gokil. Setiap bulan dia mengganti tanggal lahirnya. Maka setiap bulan dia mendapat kiriman greeting HBD. Bahkan dari orang yang sama. Kawan baik sudah berhasil mengusili temannya sambil menertawakan ketololan yang terpelihara. Sebenarnya mereka itu perhatian atau justru terbelenggu kebiasaan sok perhatian sih?

Bukannya dendam masa lalu, pada anak – anak pun kami tak pernah merayakan hari ulang tahunnya. Mereka hanya bertanya mengapa sih tidak seperti anak lain yang mengumpulkan teman – temannya sambil meniup lilin di tengah gantungan pita – pita dan balon. Dengan memberikan pengertian yang benar, ketiga anakku tak pernah merajuk minta seremonial itu diperhelatkan di rumah. Lebih – lebih si kenes Divasa yang gampang mengadopsi kebiasaan temannya. Suatu saat nanti ingin kuceritakan kejadian tragis konon seorang nenek berusia 70 tahun merayakan ulang tahunnya. Tentu saja ada 70 batang lilin yang menyala di atas kue tartnya. Karena udzur maka kemampuannya hanyalah sebatas mematikan satu lilin dengan satu tiupan. Bayangkan, nenek yang berbahagia itu harus meniup 70 kali. Pada tiupan terakhir, nenek kehabisan nafas dan akhirnya jatuh pingsan. Cerita rekaan ini barangkali terlalu lebay, tetapi jadi pelajaran kita supaya jangan berlebihan. Biasa aja kaleee …

Bukannya nggak cinta, maka 12 Rabiul Awal pun saya gak ikut – ikutan merayakan Maulid Nabi. Sungguh saya cinta Rasul 100%. Ungkapan cinta itu saya wujudkan dengan meneladani sunnah – sunnah yang dicontohkan beliau. Juga mencinta apa yang beliau cintai dan menjauhi perkara yang tidak disukainya. Dengan begitu saya harus mengenal Rasulullah lebih dekat. Membaca sirah dan sejarah hidupnya. Menjalankan amal ibadah berpijak sebagaimana beliau melakukan. Tidak mengada – ngadakan dan tidak melebih – lebihkan. Mengapa saya tidak ikut merayakan? Lah sepeninggal Rasulullah saja para shahabat yang begitu dekat beliau tak merayakan maulid, kog kita merayakan dengan tatacara yang bermacam – macam di tiap daerah. Contoh dari siapa ? Contoh dari mana ? Sungguh kalau perayaan itu baik, para shahabat akan lebih dahulu melakukannya. Padahal mereka adalah sebaik – baik umat dan generasi terbaik dari umat ini ( lihat Qur’an surat ali Imran ayat 110 ).

Bukannya pilih – pilih, kalau happy birthday saya nggak ikut – ikutan tetapi kalau happy day saya sepakat. Happy setiap hari dan happy dimana – mana karena kita selalu menanamkan benih kebaikan untuk orang lain dan untuk diri sendiri. Insya Allah berkah bagi umur dan kehidupan kita. Kalau sudah begitu ijinkan saya untuk memplesetkan HBD menjadi Happy Berkah Day, hari penuh berkah yang membahagiakan. Selamat beraktivitas, lalui hari demi hari Anda dengan kebaikan.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: