BONUS

Tahun ajaran baru memang masih beberapa bulan lagi, tetapi seorang kawan baik sudah mulai kebingungan. Masalahnya untuk mendapatkan kursi di sekolah pilihan, mulai awal tahun ini sudah dilakukan proses seleksi. Ujung-ujungnya pasti juga diminta membayar uang pendaftaran sekolah lebih dulu jikalau anaknya lulus seleksi. Nilai yang sangat besar yang mesti harus dikumpulkan bertahun-tahun lamanya dari menyisihkan sisa belanja bulanan. Itupun kalau tersisa. Bukankah kita tahu berapa sering istri mengeluh oleh harga beras yang terus digoyang, harga telur yang merambat pasti dan susu anak yang belum terbeli. Atau, kawan baik bolehlah berharap ada dana kagetan tahunan dari kantornya yang galibnya bisa diharapkan: BONUS.

Memang gembira saja tak cukup kalau sudah ketiban bonus, karena yang dirasakan adalah kebahagiaan yang memuncak. Urusan uang siapa sih yang bakal menolak? Orang kelewat satu lantai dalam lift yang kita naiki saja dengan kelakar kita katakan dapat bonus sambil tersenyum menertawakan ketololan kita. Apalagi ini urusan bonus uang yang bakal tak ada gangguan pada flow anggaran bulanan untuk segala rencana-rencana yang terpendam. Juga terbayang sudah bakal bisa memenuhi keinginan yang tertunda. Mengikutkan anak kursus bahasa Inggris, mengganti gordyn rumah yang sudah mulai kusam atau bahkan mewujudkan impian jalan-jalan ke KL menatap langsung Twin Tower yang spektakuler itu. Ada juga yang bahagia dalam kesedihan dengan pilihan menutup lubang kartu kredit yang terus menganga lebar sebelum dirinya terrguling jatuh ke dalam lubang yang makin dalam itu. Kegembiraan, kebahagiaan dan impian yang terwujud dari sesuatu yang diharapkan tapi tak bisa dipastikan: BONUS.

Benarlah adanya, bagi perusahaan, memberikan bonus bukanlah suatu kewajiban. Tetapi ketika perfoma dan citra perusahaan meningkat dan berimbas pada target revenue yang tercapai, maka sudah sepantasnya perusahaan membagikan bonus kepada karyawannya. Tentu berkat kerja keras semua lapisan, target itu bisa tercapai. Sebuah prestasi kolektif lantaran semua karyawan sesungguhnya memiliki kontribusi, meski tidak tampak secara langsung. Dari seorang manager hingga driver semuanya turut memberikan sumbangan sesuai porsinya masing-masing. Tanpa seorang manager, keputusan taktis tak akan bisa dirumuskan, demikian juga tanpa seorang driver operasional dan mobilitas tak akan terkendali. Bonus akan menjadi stimulus bagi karyawan untuk meningkatkan prestasinya karena merasa telah diapresiasi lebih oleh perusahaan. Lihatlah, dalam Islam pun ada bulan bonus yaitu saat Ramadan dimana Allah menjanjikan pahala yang berlipat atas setiap ibadah. Maka kita jadi mahfum manakala setiap orang saat Ramadan itu menjadi pribadi yang unggul dalam beribadah, saling berlomba-lomba menjadi hamba paling baik lantaran yakin dengan iming-iming bonus pahala yang berlipat ganda. Sayangnya selepas Ramadan komitmen itu tak digenggam erat. Masjid jadi kosong melompong kecuali hanyalah tampak seorang marbot tua yang setia mengumandang adzan sambil terbatuk – batuk. Kotak – kotak amal jadi ringan dijinjing karena tak ada lagi yang menyelipkan lembaran uang meski cuma seribu rupiah. Barangkali manusia dengan kesombongannya menantang Allah yang Mahakaya, tanpa bonus mereka tak semangat beribadah. Melakukan segalanya sesuai argometer. Hitung-hitungan dalam beribadah sementara Allah tak pernah menghitung nikmat yang sudah dikucurkan pada manusia. Orientasi yang sungguh – sungguh salah sebab otak manusia lebih menuhankan satu yang menjadi ambisinya: BONUS.

Bonus yang dikucurkan pada rekening karyawan bisa menjadi sinyal sebuah hubungan simbiosis mutualisme. Perusahaan diuntungkan dengan perolehan revenue yang besar dan karyawan mendapat perolehan lebih di luar salary yang diterimanya. Win – win solution dari sebuah hubungan industrial yang mengesankan. Perusahaan pun pada gilirannya akan menuntut pada karyawan agar terus meningkatkan kinerjanya dan karyawan pun serempak berdoa supaya perusahaan langgeng dan pemimpinnya sejahtera, sembari memantapkan diri bekerja lebih baik. Kalau keharmonisan ini tidak dibangun atas dasar kesadaran bersama, maka alangkah menyedihkan suasana yang didapat. Laju perusahaan mekeh – mekeh seperti motor kehabisan bensin sebab karyawan bekerja setengah hati, sering mencuri kesempatan dalam kesempitan, plintat – plintut makan hati mengelak setiap penugasan dengan dalih kerjaan sudah overload. Karyawan sendiri dalam fikirannya dihantui biaya hidup yang terus meningkat lantaran subsidi BBM yang akan dihapus yang berimbas pada peningkatan biaya hidup pada semua sektor kehidupan. Mereka yang tak sabar akhirnya termakan provokasi sehingga pada turun ke jalan, mengumbar kebrobokan kantornya, menghina jajaran pimpinan dan akhirnya semua orang terkena imbas duka derita saat jalanan dan tol mengalami kemacetan hingga berkilo – kilo meter. Sementara yang well educated lebih halus sindirannya dengan menyengaja ke kantor memakai t-shirt gaul bertuliskan: NO BONUS ON US.

Saya berdoa semoga perusahaan dimana Anda bekerja senantiasa maju dan kesejahteraan karyawan diperhatikan, sehingga semua menjadi indah pada saatnya. Gajian tak pernah tertunda, fasilitas serba tersedia dan pada akhirnya yang ditunggu – tunggu datang juga , sebuah memo terdelivery pada email Anda dengan subyek: BONUS.

Anda senang, keluarga bahagia dan pimpinan bangga. Senyum pun merekah bekepanjangan di setiap sudut rumah di bumi tempat kita berpijak oleh sebuah harapan indah yang kita namakan bonus.

Barakallahu fikum.

Thx to Abu Baaffi who motivated to do it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: