NURANI

Anak-anakku, buah hatiku

Malam ini bapak ingin cepat pulang dari kantor, hasrat kangen Bapak pada kalian sepertinya memuncak, apalagi mengingat Adik Dika yang sudah 3 hari ini badannya panas. Bapak harus menjaganya sambil membelai adik supaya nyenyak dalam tidurnya. Meski hujan begitu deras hingga butir airnya terasa menampar wajah. tak mengapa anak-anakku. Memang inilah yang harus Bapak hadapi. Meski dingin menyergap seluruh tubuh, Bapak lebih membayangkan lezatnya dalam kehangatan bersama kalian. Sungguh, segala usaha yang Bapak lakukan ini akan menjadi cerita indah untuk kalian, sebagai ikhtiar Bapak memungut rejeki yang telah Allah sebar di bumi ciptaan-Nya. Hidup dan kehidupan kita agar tercukupi untuk kemudian menjadi bekal beribadah, sebagai satu keharusan kita manusia pada Sang Khalik.

Anak-anakku, semoga kalian juga selalu memanjatkan syukur, betapa segala kebutuhan kita tercukupi saat ini. Meski kalian semua tak tahu, bagaimana perjuangan Bapak dan Mamamu di awal menata tekad hidup bersama. Sulit tapi menyenangkan saat mengenangnya. Bapak merasakan masa krismon 1998 yang menghimpit, bahkan untuk membeli susu kehamilan Mama saja Bapak harus memasang telinga mencari sumber discount paling murah. Itu dulu, anak-anakku. Kalian tidak usah cemas, cukup Bapak dan Mama saja yang merasakan. Tanpa ujian seperti itu, barangkali Bapak tak cukup bisa membedakan yang manis dan yang pahit. Dan alangkah enaknya hidup Bapak kalau tak diberi ujian seperti itu. Serba gampang serba lapang cuma melahirkan pribadi yang cemen. Lebay. Sekali disentuh ujian langsung luruh mirip bunga putri malu. Tak tertantang oleh problematika hidup yang justru membuat otak bekerja menyusun strategi dan taktik untuk menemukan problem solving.

Jangan khawatir, anak-anakku. Itu dulu. Sekarang semuanya serba enak. Mobil mewah terbaru begitu banyak melintas di jalanan. Kursi mewah wakil rakyat bisa didatangkan dari Jerman. Harganya berlipat-lipat dari gaji Buruh Kerawang yang turun di jalan. Jauh di pelosok Banten, anak – anak sekolah harus menyeberangi jembatan gantung yang nyaris putus, mirip acting Indiana Jones di film Hollywood yang cuma rekaan itu. Bapak bilang, dewan yang terhormat itu tak punya nurani. Orang-orang kaya itu tak punya hati. Mereka terlena dengan kacamata kudanya sehingga tak leluasa melirik compang-campingnya kehidupan orang-orang di luar mereka, yang susah payah menambal sulam kebutuhan hidup dari hutang ke Abang Kredit yang cuma mentok di approve sebanyak lima lembar sepuluh ribuan. Itupun harus mengembalikan dengan nilai yang berlipat-lipat. Jangan pernah kalian menyudutkan Abang Kredit. Jangan sampai kalian menyalahkan orang-orang itu. Sebaiknya kita berlapang diri, inilah sebuah kehidupan yang tak tersentuh oleh tatanan yang paling ideal yang pernah dibangun oleh Umar bin Abdul Azis dimana tak ada seorang warga pun yang terkategori pra sejahtera alias miskin.

Buah hatiku tersayang,
Tabu rasanya kalau Bapak harus berkata miskin untuk digelarkan pada teman Bapak. Masak sih hidupnya di tengah kota Jakarta dengan segala gaya hidup metropolitan kog dibilang miskin. Kamus Besar Bahasa Indonesia barangkali harus meredefinisi arti miskin, nggak patut buat orang perkotaan yang bertuhan pada gaya hidup. Pantasnya buat wong dheso kaaaleee. Di kota orang gampang cari duit dan orang kota bisa mendapatkan side job dari segala pintu. Maka, Bapak ingin cerita padamu, Nak, apa yang sudah terdengar dalam telinga Bapak, sesuatu yang membuat nurani Bapak teriris perih. Bapak merekam wajah gundah seorang teman sore itu, kuyu seperti bunga tak tersiram air. Sapaan Bapak padanya terjawab dengan penuturan panjang gundah hati kawan baik. Katanya, wajah kuyu ini sedang membungkus semua wajah keluarganya, anak dan istrinya. Sama sekali tak bisa berbuat sesuatu lantaran tak punya uang buat kebutuhan sehari-hari. Anak-anak cuma makan Indomie pagi – siang – malam. Tak ada gizi, yang penting kenyang. Dan untungnya warung depan rumah cukup kooperatif dan punya nurani untuk tidak melarang berhutang lagi meski hutang teman bapak sudah mencapai 3 juta. Maka ingatlah Bapak, pada masa – masa lalu Bapak dan Mama yang sulit, meski tak sampai berhutang. Kawan baik ingin menjerit tapi tak pantas karena toh masih ada orang yang berbaik hati memberinya pinjaman sekalipun berupa belanjaan sehari-hari. Sementara untuk beli bensin dan bayar listrik, belum tahu dari mana bisa meminjam. Dan fakta itulah yang sedang terjadi di lorong – lorong gang sempit kota Jakarta. Tanpa perkecualian, itu pun terjadi pada teman Bapak yang bekerja di sebuah broadcast dengan kantor megah bertingkat – tingkat. Siapa yang bisa menyangka ? Sebuah ironi yang menyedihkan sekali. Betapa banyak nasehat yang sudah Bapak sarankan untuk kawan baik itu, tetapi cuma nasehat. Dan teman Bapak tidak butuh nasehat. Mungkin sudah cukup banyak nasehat yang diterimanya dan kalau dicetak sudah menjadi sebuah buku best seller karena berisi kumpulan nasehat indah untuk sebuah gundah, yang sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia. Anak – anakku, kawan baik Bapak hanyalah butuh uluran tangan yang siap berbagi. Dekapan hangat dari mereka yang punya nurani. Nasehat saja tak cukup untuk mengenyangkan perut istrinya yang keroncongan dan tak akan sanggup menghentikan rengekan putera – puterinya yang meminta permen lolipop.

Anak – anakku pelangiku dalam mejikucintaku,
Bapak bercerita ini pada kalian, supaya kelak kamu adalah sosok pilihan yang siap menolong, meski ingat bahwa kamu bukanlah dewa penolong. Maha penolong tetaplah hanya pantas diberikan untuk Sang Khalik. Kalian saat itu hanyalah suatu perantara. Sungguh ini sangat penting Bapak sampaikan pada kalian supaya benih nurani yang tersimpan di dalam hati kalian tetap tersiram pesan kebaikan hingga saat kalian dewasa akan sangat mudah untuk berbagi dan mengulurkan tangan. Semoga Sang Khalik merahmati semua orang yang menyimpan gundah dalam hatinya dan semoga Sang Khalik memudahkan segala urusan mereka.

Anak – anakku, sungguh Bapak mencintai kalian semua.

Barakallahu fikum.

Thx to Someone for sharing with me in edit room.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: