MATA

Lihat lihatlah, betapa Allah azza wa jalla telah menganugerahkan indahnya bola mata sehingga kita bisa menangkap keelokan alam seisinya, kecantikkan seorang wanita yang menjadi istri kita dan kemungilan anak-anak yang menyejukkan pandangan mata. Tanpa mata yang berfungsi maka dunia hanyalah hamparan gelap yang tak berwarna dan bercahaya. Coba Anda tutup mata sementara waktu dan bayangkan keadaan itulah yang harus Anda alami sepanjang usia. Mampukah Anda menghadapinya? Maka nikmat itulah yang harus kita syukuri. Bola mata, menjadi amanah suci untuk menjalani hidup ini dengan kebaikan. Tetapi seringkali kita dustakan kepercayaan itu. Pandangan yang tak terjaga, sorot liar mata nakal yang memandang tajam kemaksiatan sehingga menyebabkan tertutupnya mata hati. Dan itulah keingkaran yang kita tunjukkan pada Allah yang mahasuci lagi matatinggi.

Hati – hatilah. Gajah di pelupuk mata tak tampak dan kuman di seberang lautan tampak. Alangkah jahatnya kita. Mata seolah tak mampu melihat kekurangan yang ada dalam diri sementara kesalahan orang lain yang meski kecil, kita sebar-sebarkan hingga ke ujung jalan tak beraspal. Seolah – olah kita membutakan mata yang jelas-jelas masih berfungsi normal. Buat apa kalau kemudian kita membanggakan diri merasa memiliki mata indah bola ping-pong. Dihias dengan bulu mata biar terlihat lentik, tapi tidak difungsikan secara benar. Memata-matai orang lain supaya bisa melihat semua kekurangannya. Tak ubahnya seperti tokoh wanita cantik bernama Mata Hari dalam novel sejarah Sang Penari karya Dukut Imam Widodo. Kecantikkannya hanyalah dijadikan alat untuk mencari keuntungan lewat pilihannya sebagai mata – mata. Sebuah Distorsi fungsi mata. Di ujung cerita Mata Hari harus mengakhiri takdirnya di depan juru tembak yang mengeksekusinya. Tragis. Tetapi saya bangga ketika anak-anak saya berperan sebagai mata-mata yang baik dan benar. Di rumah, saya menerapkan aturan larangan menonton TV, lebih-lebih sinetron. Maka ketika Budhe-nya nonton sinetron di jedah istirahatnya, anak-anak pasti akan mengumumkan pantauannya, ” Bapakkkk, tadi Budhe lihat sinetron …”.

Ingat – ingatlah. Kodrat wanita menjadi mata duitan dan fitrah pria adalah mata keranjang. Ini gurauan atau serius, saya tak tahu pasti tetapi ada kisah segaris dengan pernyataan itu bahwa kelak pria di surga lebih memilih ditemani bidadari cantik yang banyak dan wanita memilih diberi istana yang megah. Wow. Yang pasti, baik pria maupun wanita untuk harus tetap menjaga mata, tidak mata keranjang saat mendapati ada wanita yang secara fisik lebih bening dari istri kita. Ada yang bilang, saat pacaran, calon istri adalah wanita paling cantik tetapi setelah menikah seseorang jadi sadar bahwa banyak wanita cantik di luar sana. Ingat! Anda sudah teken untuk sehidup semati dengan istri, membangun maghligai rumah tangga surgawi. Juga makanya jangan pakai pacar-pacaran segala buat yang belum menikah. Berbahaya menurut kaidah agama. Dan sebaliknya wanita juga jangan mata duitan. Mata jadi hijau melihat uang setumpuk meski itu bukan milik sendiri. Sudah langsung berangan-angan hendak membeli sekavling villa di Puncak. Uang dari mana, Jeng? Dari Hong Kong! Mata duitan jadi gampang tergiur dan pikiran tak realistis. Syukuri saja rejeki Allah yang sudah di tangan, dari segala mata pencaharian yang kita tekuni. Insya Allah jadi berkah dan berkecukupan.

Jika Allah menakdirkan seseorang tak bisa melihat, tentu itu bukan suatu adzab melainkan cara Allah mengangkat derajad hamba-Nya. Sejarah Islam mencatat nama Shahabat Abdullah Ibnu Ummu Maktum seorang buta pembawa panji jihad dalam peperangan. Subhanallah. meski buta sejak kecil, Abdullah tidak mendapatkan sesuatu kecuali nikmat Allah. Selalu memperbanyak syukur lantaran Allah telah menggantikan penglihatannya yang hilang dengan hati yang mampu melihat kebenaran. Ia yakin akan janji Allah dalam sebuah hadits Qudsi, jika Aku mengambil salah satu anggota mata hamba-Ku, maka Aku tiada menemukan ganjaran yang layak baginya kecuali surga.
Allah Tabaaraka wa Ta’ala menurunkan ayat dalam Al Qur’an sebanyak 2 kali berkenaan dengan Ibnu Ummu Maktum. Kita tentu ingat satu peristiwa teladan ketika Allah memberikan peringatan bagi Rasul saat duduk bersama pembesar Quraisy sehingga beliau berpaling dari Abdullah ibnu Ummu Maktum, padahal bisa jadi shahabat buta ini ingin mendapatkan pengajaran untuk kebaikan. Sementara ayat yang kedua berkaitan dengan ketetapan syariat Islam tentang orang yang tidak bisa ikut berperang, semisal bagi orang yang buta. Ada perkecualian baginya. Tetapi sungguh, Ummu Maktum tetaplah ingin bergabung dengan barisan mujahidin sehingga ia menyatakan tekadnya berulang kali, ” Berikanlah bendera Islam padaku, karena aku orang yang buta, maka aku tidak bisa lari, dan tempatkanlah aku di antara dua barisan.” Qadharallah, dalam peperangan Qadisiyah, Ibnu Ummu Maktum menjadi pembawa panji jihad.
Kemuliaan lain yang ada dalam diri Abdullah ibnu Ummu Maktum adalah terpilihnya beliau Radiyallahu anhu sebagai imam pengganti manakala Rasulullah pergi berperang. Inilah bentuk penghormatan Rasulullah kepada Abdullah Ibnu Ummu Maktum. Semoga apa – apa yang baik dari kehidupan shahabat ini bisa kita petik keteladanannya.

Sadar – sadarilah, dari mata turun ke hati. Dengan menjaga pandangan mata akan mengarahkan mata hati pada perkara kebaikan. Menyelamatkan raga dari kesia-siaan. Kalau ada pemandangan alam yang indah dan mengagumkan, mengapa kita malah memilih melihat kemaksiatan sampaj mata jelalatan tak karuan, nafas ngos-ngosan dan detak jantung melaju diburu nafsu yang membara. Pilih dan pilah konsumsi yang sehat untuk mata kita, seperti menikmati keindahan pemandangan alam ciptaan Allah. Tentu aktivitas ini akan sangat bermanfaat bagi kesegaran raga. Sambil menikmati arsitektur alami yang mengagumkan itu, kita akan sadar, betapa besar keagungan Allah dengan segala penciptaanNya. Pada akhirnya rasa syukurlah yang akan membungkus mata batin. Maka atas segala kekaguman itu seyogyanya juga kita mengumamkan bacaan ” Maa Syaa Allah. Laa quwwata illaa billah ( Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah ) sebagaimana dituntunkan dalam Al Qur’an surat Al Kahfi ayat 39.

Barakallahu fikum.

Thx to Mas Djuarifin Aliman who inspired this note.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: