MOBIL

Inilah kisah saya dan sebuah bendawi yang menjadi simbol peradaban masyarakat modern. Di tengah perjuangan manusia dalam jungkir balik membanting tulang memeras keringat, moda beroda empat ini menjadi salah satu target dan obsesi. Apalagi di perkotaan yang teramat sangat memandang pencitraan seseorang secara duniawi. Maka benda ini adalah keniscayaan. Entahlah. Seratus persen saya tak percaya tetapi betapa banyak orang yang termakan hipotesa itu. Lihatlah di lorong rumah petak sewa yang berderet di pinggiran kota Jakarta. Biar mereka mengontrak rumah tetapi nyaris teronggok sebuah mobil di depan pintu. Bayangkan kalau mobil itu dibeli secara kredit dan masih harus bayar sewa rumah setiap bulan, alangkah pusingnya kepala mereka. Mengendarai mobilpun dalam ketegangan. Sudah terjebak kemacetan Jakarta, masih harus ditambah memutar otak menyediakan dana untuk cicilan mobil. Itulah kenyataan yang ada di sekitar kita hari ini. Serba memaksakan. Pencitraan menjadi nomor satu meski nafas kembang kempis mengejar target. Tentu tidak semua orang begitu. Seorang kawan baik dengan penampilan yang sederhana, berangkat dan pulang kerja justru naik Metro Mini. Siapa sangka kalau dia adalah putera seorang direktur utama TV Swasta nomor satu. Tak ada yang pernah menyangka kecuali yang mengenalinya. Benar – benar down to earth. Tinggal kita bercermin, pada yang manakah kita menempelkan pencitraan diri, seperti kawan baik saya ataukah justru hanyut dalam hedonisme sebagaimana contoh pertama yang saya kutip.

Memandang karut marut Jakarta dan kemacetannya, saya tak berani memayangkan untuk memiliki mobil. Enggan. Saya lebih suka war-wer naik motor. Beberapa teman juga selalu mengingatkan, sudah waktunya punya mobil. Anak – anak sudah besar dan car port sudah tersedia. Saya tersenyum lantaran tak cukup simpanan untuk membelinya. Semoga motivasi teman tadi menjadi doa yang Allah kabulkan. Memang tetangga sebelah rumah sudah memiliki mobil, tapi sungguh tak menjadi “panas” hati ini ingin juga memiliki. Allah sudah mengatur rejeki masing – masing. Ternyata alhamdulillah, tetangga sebelah rumah mampu beli mobil baru lagi. Hebat. Ada dua mobil. Tak lama kemudian, tetangga sebelah rumah datang menemui istri saya,
Mama Ais, kalau ada yang mau beli mobil saya kasih tahu ya. Mama Ais juga boleh kog“.
Tapi itulah, kami tak cukup simpanan untuk mengambilnya “ jawab istri saya.
Ambil saja dulu kalau mau. Kurangnya gampang. ”

Subhanallah. Maka hari itu saya sudah punya mobil. Marem-nya hati ini. Kabar gembira pun kami kirimkan ke semua keluarga dan teman – teman. Semua ikut senang. Entahlah. Karena memang tak disangka-sangka saya yang baru beberapa tahun merapat ke Jakarta, sudah beruntung memiliki tongkrongan beroda empat. Tragisnya, saya pun belum bisa menyetir. Hehehe, itulah yang menjadi gurauan kami di kantor. Waktu berlalu dan rupanya, mobil tak maksimal penggunaannya. Kami sekeluarga lebih suka di rumah. Ogah jalan – jalan. Maka mobil lebih banyak parkir di rumah. Sesekalilah kami jalan, itu pun intensitasnya bisa dihitung dengan jari. Ke kantor saya tetap naik motor. Untuk lebih mempercepat waktu tempuh, mengingat akses yang kusut oleh sesaknya pengguna jalan.
Suatu ketika seorang tetangga yang sudah kami anggap sebagai orangtua curhat pengen jualan di pasar pagi mingguan tapi tak ada mobil. Dengan ikhlas saya persilakan untuk memakai mobil saya berjualan, tanpa ada kewajiban apa-apa. Sungguh saya ingin membantu sepenuh hati. Dan juga ingin sesuatu yang kami miliki punya arti yang lebih.

Allah selalu punya rencana indah untuk kita. Siapa kira kalau kemudian kami ketiban rejeki yang tak disangka-sangka sehingga mampu membeli lagi sebuah mobil baru, saat dimana kami mulai sering perjalanan ke Sukabumi untuk menengok si Sulung yang mondok di sana. Semua diluar rencana kami. Kami merasakan dengan mobil baru ini perjalanan makin nyaman. Lebih dari itu, kami tak pernah menyangka kalau akhirnya bisa memiliki dua mobil. Sungguh Allah Mahapemurah dengan segala rencana indah yang digariskan pada kami. Rasa syukur terus kami lafalkan dan tentu juga kami amalkan. Suatu hari datang teman istri. Ngobrol sana ngobrol sini rupanya tertarik dengan mobil lama kami tetapi tak punya simpanan cukup. Allahu Akbar! Sesuatu yang pernah terjadi pada kami, kini terbentang di depan mata. Akankah kami melanggengkan sebuah rantai kebaikan atau justru memutus? It’s my turn. Maka sebuah kalimat yang pernah membuat kami terenyuh, kini meluncur dari mulut saya, ” Ambil saja dulu kalau mau. kurangnya gampang. “. Seketika itu saya dan istri merekam sebuah kebahagiaan yang mendekorasi ekspresi teman istri tadi. Sama seperti yang kami rasakan beberapa tahun lalu. Lucunya, si suami belum bisa menyetir mobil, mirip seperti yang saya alami ketika itu.

Baru – baru ini saya berteman dengan seseorang, tetapi sungguh saya merasa seperti sudah lama mengenalnya. Lantaran kesamaan cara beragama dan beramal, kami merajut ikatan pertemanan yang kuat. Bahkan sudah seperti saudara sendiri. Maka tak heran kalau kami siap berbagi, walau baru mengenal. Wow, indahnya persaudaraan. Kami saling mengulurkan tangan, untuk saling meringankan urusan. Suatu hari teman baru menyampaikan keinginan untuk meminjam mobil. Saya tak keberatan. Saya merasa senang kalau bisa menolong kawan baru. Lebih-lebih sesuatu yang kami miliki jadi punya arti yang lebih.Tetapi saya ingin membicarakan dulu dengan istri. Maka pembicaraan di rumah sunguh menjadi “hidup”, lantaran istri punya argumen ingin menolong, tetapi juga ada argumen lain sebagai kehati-hatian, lebih-lebih mobil ini akan dipakai untuk beberapa hari ke luar kota. Diskusi kami terus berkembang. Semua detil informasi perihal safar kawan baru saya sampaikan. Please, Mama !. Ini kesempatan emas untuk bisa menolong orang lain, karena kita telah menjadi orang pilihan bagi kawan baru untuk berbagi. Istri terus menimbang rasa. Lantaran belum ada kemantapan hati, sehingga khawatir salah memutuskan, saya persilakan shalat istikharah dan berkonsultasi dengan guru mengajinya. Akhirnya saya memperoleh keputusan istri meski berikutnya saya tahu tak sejalan dengan harapan saya. Istri menyatakan keberatan dengan berbagai pertimbangan yang logis. Saya pun menerima keputusan itu dan saya sampaikan langsung ke kawan baru. Dengan rasa duka saya menutup pembicaraan kami lewat pesan singkat, “ maaf kawan. Saya sedih tak bisa membantu, tetapi juga tak ingin menyakiti hati istri saya “. Saya mengirim sms itu dengan mata yang berkaca-kaca.

Semoga kita selalu dimudahkan dalam segala urusan.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: