HUJAN

Deskrispsi terindah untuk sebuah cerita barangkali adalah hujan. Gerimis mengundang keromantisan, hujan lebat menghadirkan perjuangan. Gemerciknya menyuarakan komposisi simfoni alam paling merdu. Bahkan sisa tetes air hujan masih memberi makna: ketenangan paling syahdu. Daya magis hujan sanggup menyihir seseorang jadi penyair secara tiba – tiba. Barisan kata tersusun mengekspresikan limpahan air dari langit yang dirasa. Macam – macam gayanya dan selalu puitis. Seorang blogger mengidentifikasi Sapardi Djoko Damono punya belasan puisi indah bertema hujan. Aih – aih, jangan – jangan diary Anda juga terselip kisah hujan yang mengguyur hati Anda yang kasmaran. Maka bolehlah “karya” Anda itu ditimbangrasakan ( sekedar pembelajaran ) dengan bait pertama novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari yang sangat – sangat teramat indah saat menyelipkan suasana hujan, sebagaimana kutipan di bawah ini:

Dari balik tirai hujan sore hari pohon – pohon kelapa di seberang lembah itu seperti perawan mandi basah; segar, penuh gairah, dan daya hidup. Pelepah – pelepah yang kuyup adalah rambut basah yang tergerai dan jatuh di belahan punggung. Batang – batang yang ramping dan meliuk – liuk oleh embusan angin seperti tubuh semampai yang melenggang tenang penuh pesona. Ketika angin tiba – tiba bertiup lebih kencang pelepah – pelepah itu serempak terjulur sejajar satu arah, seperti tangan – tangan penari yang mengikuti irama hujan, seperti gadis – gadis tanggung berbanjar dan bergurau di bawah curah pancuran.

Indah bukan? Ah, membayangkan hujan jadi ingin kembali ke masa kecil. Bermain hujan, berlari riang dan girang meresapi kesegaran rintik hujan yang menimpa badan. Main – main dengan hujan? Kenapa tidak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hujan segera membuka tutup kepalanya kemudian mengibas – kibaskan rambutnya menikmati dan mensyukuri rahmat Allah yang tercurah. Sementara kita, saat mendapati hujan yang terlontar adalah keluhan, kegelisahan dan kekhawatiran. Astaghfirullah. Mengapa kita justru takut dengan rahmat Allah yang tengah dicurahkan? Khawatir banjir, males macet, takut sakit ? Salahkan diri kita ! Pembangunan yang tidak memperhatikan drainase, pengaturan jalan yang tambal sulam, polusi yang tinggi itulah yang menyebabkan hujan menjadi seperti monster yang kita takuti. Dengan mensyukuri hujan, keimanan kita insya Allah bertambah dan kita bisa ingat dan menyadari sepenuhnya bahwa saat hujan adalah saat doa diijabah Allah. Maka munajatkan doa dan gantungkan harapan. Sementara kalau hujan kita anggap monster, boro – boro berdoa, yang ada hanyalah fikiran negatif menyesali keadaan. Dalil disunnahkannya berdoa saat hujan disampaikan oleh Ibnu Qudamah dalam Al Mughni, “ Dianjurkan untuk berdoa ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Carilah doa yang mustajab pada tiga keadaan, (1) bertemunya dua pasukan (2) menjelang shalat dilaksanakan dan (3) saat turun hujan.

Atas kehendak Allah azza wa jalla, hujan tercipta setelah uap air naik ke lapisan udara, lalu memadat menjadi awan yang kemudian terbawa angin ke tempat – tempat kering hingga awan itu berubah menjadi tetesan air yang turun sebagai hujan. Al Qur’an surat An – Nur ayat 43 secara detail menjelaskan proses alam itu, jauh sebelum para ahli kimia fisika merumuskan dalam temuan mereka. Maka jangan sampai kita terjebak pada satu kesimpulan yang tragis. Yaitu saat memikirkan hujan, kita berhenti pada proses alam yang dipublikasi dari buku – buku ilmiah para ahli itu, sehingga yakin bahwa hujan turun karena awan yang bergerak. Really? Kalau itu jawaban kita, maka selayaknya harus membenahi ketauhidan kita. Hujan tercipta karena kehendak Allah robbul idzati. Suatu rahmat yang memberi kehidupan pada bumi sehingga menumbuhkan tanam – tanaman yang bermacam warnanya. Berani – beraninya kita mengesampingkan Allah sama seperti ketika sakit kita berharap dokter yang menyembuhkan. Ya Akhi, dokter hanyalah perantara. Tanpa ridlo Allah, dokter spesialis sekalipun tak akan bisa menyembuhkan kita.

Hujan adalah rahmat Allah. Begitu Al Qur’an menegaskan dalam surat Al Furqon 48 – 50: ” Dialah yang meniupkan angin ( sebagai ) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat – Nya ( hujan ); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri ( tanah ) yang mati, dan dengan air itu Kami memberi sebagian besar dari makhkuk Kami, binatang – binatang ternak dan manusia yang banyak. Sesungguhnya Kami telah mengatur hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran ( daripadanya ); tetapi kebanyakan manusia tidak mau kecuali mengingkari ( nikmat ).” Maka nikmat Allah mana lagi yang akan kita dustakan? Bayangkan penguapan air laut yang demikian luas tak membuat hujan berasa asin. Padang gersang tanah haram justru disitu melimpah ruah air zam -zam yang bisa mengenyangkan sekaligus menjadi obat segala penyakit. Berjuta jamaah haji dari segala penjuru dunia membawa pulang jirigen air zam – zam, tak kunjung mengering sumber mata airnya. Subhanallah. Yang demikian itulah tanda – tanda kebesaran Allah bagi mereka yang mau berfikir.

Sungguh Allah menurunkan hujan tidak menjadi sia – sia. Itulah wujud rahmat-Nya untuk semua makhluk. Tetapi kita juga mesti ingat bahwa beberapa kaum terdahulu terkena adzab Allah melalui hujan. Maka tak heran kalau suatu ketika Rasulullah dengan wajah tidak suka saat datang mendung dan angin. Ibunda Aisyah yang keheranan pun bertanya dan Rasulullah menjawab, “Wahai ‘Aisyah, apa yang bisa membuatku merasa aman? Siapa tahu ini adalah adzab. Dan pernah suatu kaum diberi adzab dengan datangnya angin. Kaum tersebut (yaitu kaum ‘Aad) ketika melihat adzab, mereka mengatakan, “Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.”

Semoga kita selalu menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: