BARU

Adalah kodrat manusia untuk menyukai yang baru. Bahkan anak kecil sekalipun. Baju baru, mainan baru hingga sepeda baru menjadi sesuatu banget buat anak – anak kita. Coba saja janjikan pada mereka untuk membeli sepatu baru, pasti setiap detik akan ditagihnya jika belum kita wujudkan janji itu. Buat Anda, mobil baru, rumah baru atau furniture baru seolah memberikan kepuasan tersendiri bila sudah terbeli. Bahkan bisa menjerumuskan kita pada jebakan berbangga diri. Sebaliknya, tetangga yang sedang berbahagia dengan mobil barunya menyebabkan kita menjadi ngenes nelangsa seolah menjadi manusia yang tidak beruntung. Coba yang mereka beli semisal mobil second, meski kita tak mampu beli tapi masih bisa berkilah, ” Hallaaa, mobil bekas aja kog yang dibeli. Ntar juga gue bisa beli yang baru “. Sombongnya kita meski gigi ompong tak punya daya untuk membuktikan. Sementara beli motor aja mesti kredit 36 kali angsuran. Benarlah, sesuatu yang baru berpotensi membolak – balikkan suasana hati kita. Kalau lemah iman kita.

Apa pun yang berbau baru seolah mendapat apresiasi sebagai sesuatu yang lebih baik. Karena dianggap inovatif, mengikuti jaman dan berkelas. Betapa sibuknya kita mengikuti kabar trend mode terbaru. Ketertakutan akan stigma ndeso. Beruntung Tukul dengan percaya diri bisa menjual kekurangan dirinya sebagai komoditi satire untuk merubah persepsi mapan antara kota dan ndeso. Sekarang batasnya menjadi tipis, yang ndeso tak lagi minder yang modern tak bisa menyombong. Spirit Tukul telah mengangkat kelas sosial wong ndeso setara dengan orang kota. Jadi tak perlu lagi Anda bersusah – susah memelototi trend busana, trend potongan rambut terkini, trend lainnya yang sebenarnya teramat sangat menyita waktu, biaya dan perasaan Anda. Sekarang sudah ada pahlawan Tukul yang membela hak – hak wong ndeso untuk tampil sesuai diri mereka sendiri. Tak harus terpasung pada paritas mode yang tak lagi bisa membedakan masing – masing secara personal. Ingatlah kita, di tahun 90 – an tergaung tagline ” Lorek Maneh ” lantaran dimana – mana orang memakai baju lorek. Motif lorek menjadi busana nasional. Lorek lagi lorek lagi. Demikian juga trend rebounding rambut. Tiba – tiba saja saya tak lagi bisa membedakan tetangga yang bejibun banyaknya itu. Bangun tidur saya melongo, kog semua tetangga wajahnya jadi sama. Semua rambutnya lurus memanjang dengan alis yang njlirit tipis oleh sapuan pensil alis. Tak ada alis rambutnya. Saya shock sebenar – benarnya. Trend bergaya telah mendelete porsonality yang demikian khas. Dan orang – orang rela menggadaikan keunikannya untuk masuk lorong gelap dimana kita jadi buta orientasi, tak bisa membedakan orang per orang. Sadis.

Hati – hati loh dengan trend. Karena sudah tak bisa membedakan lagi, orang yang mau menolong kita susah menemukan sehingga kita jadi celaka. Contoh ekstremnya lihatlah film dramatis The Boy in the Striped Pyjamas. Kebijakan politis sang komandan kamp konsentrasi yang mengharuskan semua tawanan Yahudi memakai piyama dengan kepala digundul pelontos, justru memakan korban anaknya yang begitu kagum melihat “trend ” baju piyama yang oleh bapaknya semua tawanan Yahudi harus memakainya. Saat semua gembala tawanan digiring ke ruang kedap udara untuk dihabisi, sang komandan tak lagi bisa menemukan anaknya yang membaur di dalamnya. Politik ( baca: penyeragaman ) memakan korban anaknya. Memang yang ingin disampaikan oleh film ini bukan seperti itu, tetapi saya hendak  mengatakan bahwa kalau kita sudah masuk dalam paritas trend, sulitlah kita dikenali.

Jadi jangan gampang larut dalam trend untuk mengikuti yang terbaru. Jadilah diri Anda sendiri. Ada teman baik yang tak pernah pusing walau tak mengikuti perkembangan berita aktual di negeri ini. Saat kita membicarakan tentang Gayus, dia bertanya siapa Gayus. Semasa simpati terkonsentrasi pada Prita, teman baik dengan innocent nyeletuk Prita yang mana ya? Tetapi sungguh teman baik sangat bahagia dengan pilihannya. Santai tanpa pernah merasa terpojok. Jadi diri sendiri dengan pilihan sendiri jauh lebih membahagiakan. Cuek aja biar yang lain lagi pakai Blackberry, saya tetap dengan HP lama toh fungsinya tetap buat komunikasi saja. Bukan buat bergaya biar dibilang gadget freak. Mesti selalu selektif menghadapi yang baru. Selektif bersandar pada azas manfaat. Saat iPad diluncurkan, saya menimbang yang ini saya butuhkan, maka saya membelinya. Sungguh akhirnya bagi saya barang baru itu jadi maksimal pemakaiannya. Dengan menjadi diri sendiri, kita bisa terhindar dari kesia-siaan yang menyakitkan. Beli sesuatu padahal tidak butuh. Akhirnya barang nglemprak tak terpakai.

Detik – detik terakhir di penghujung tahun, betapa sempatnya teman – teman saling bersalaman mengucapkan Selamat Tahun Baru. So What! Seorang teman muda sebelum meninggalkan kantor pamit ke saya sambil mengucapkan selamat tahun baru. Saya bilang, saya nggak merayakan tahun baru loh ! ( karena pemahaman aqidah saya dan ini juga pilihan loh! ) Dia agak senewen sambil bilang, nggak apa2, Pak. Biar tambah semangat. Helloow, saya tunggu kamu ya di awal tahun apakah tambah semangat atau tetap nglokroh seperti benang basah. Bagi saya, semangat harus selalu dibangun setiap memulai aktivitas. Tak perlu mengkhususkan setiap tahun baru. Alangkah menyedihkannya kalau begitu semangatnya di tahun baru, tetapi 360 hari berikutnya semuanya flat ibarat lautan tanpa gelombang.

Saya akhirnya bahagia, puteri saya yang cantik Divasa yang baru kelas 1 ( dan adiknya Dika ) sudah menjadi dirinya sendiri. Tak terlontar sekali pun untuk meminta membeli terompet atau kembang api di tahun baru. Sesekali di mobil saya mendengarkan celoteh mereka sendiri, “Kita tidak merayakan tahun baru” . Juga ketika temannya yang sudah membeli terompet menanyakannya, Divasa pun dengan tegas menjawab, “ Aku tidak merayakan tahun baru “. Subhanallah. Sungguh, saya bangga padanya. Anakku telah menjadi dirinya sendiri. Tak terbawa arus dimana orang lain pada sibuk melakukan yang saya yakin mereka itu sekedar ikut – ikutan kebiasaan yang ada. Petasan dan kembang api yang meledak – ledak di langit Depok, tak sekali pun menggoda anak-anak sampai melongok lewat jendela karena mereka paham itu cuma uang yang dibakar dengan sia-sia. Kami justru sibuk dengan bermain bersama di kamar, tanpa juga terganggu oleh acara televisi yang katanya gempita dan spektakuler.

Sungguh bahagia jika kita telah menjadi diri kita sendiri.

Barakallahu fikum.

1 Comment

  1. Anonymous

    laik dis,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: