TUA

Pulang kerja dini hari. Aku putuskan untuk naik taksi. Persis keluar gerbang kantor, sebuah taksi lewat dan dengan keramahan ala kadarnya pak sopir memberi salam. Umurnya kutaksir 50 tahun lebih, usia MPT, Masa Persiapan Tua. Setelah kutegaskan tujuanku, aku sempat komplain kog bau rokok. Sang sopir berkilah bahwa baru turun seorang penumpang yang merokok. Entahlah. Kemudian dari mana juntrungnya, sopir taksi memulai bercerita banyak hal satu tema. Tetapi pembicaraanya justru menjadikanku gerah dalam mobil yang ber-AC itu. Tiba-tiba saja dia bercerita tentang pesugihan dan itulah pokok pembicaraan sepanjang jalan. Aku yang berencana “tidur-tidur ayam” dalam taksi jadi merasa terganggu. Dia bercerita tentang tuyul, kandang bubrah, pesugihan lidi, gunung kawi, trik kaya hidup di Semarang dengan nyekar ke suatu tempat di Klaten dan banyak cerita cara lainnya dengan penuturan yang panjang lebar, historis dan penuh semangat.

Berulang kali aku beristiqhfar. Sekali kucoba bertanya, kalau bapak pakai cara yang mana. ” Oh itu dulu, Om ” katanya sambil mengisahkan salah satu lakon hidupnya. Berulang kali dia menyebutku dengan panggilan Om. Heranku, dalam larut malam yang teramat menggayut dan siapa pun bakal berhasrat merem meluruhkan kelopak mata agar menutup katup, pak tua ini masih lantang berujar kata. Sayangnya, tak bermanfaat sama sekali. Tak membuat raga dan rasa makin mendekat pada keshalihan, tetapi justru menerabas waktu dalam kesia-siaan. Entahlah, tiba-tiba aku menawarinya permen Fisherman karena dia terbatuk-batuk, seketika itu ceritanya terhenti. Aku lega. Mungkin dia lamat-lamat menikmati rasa mint yang menghangatkan peredaran darahnya. Sampai masuk gerbang perumahan dia memulai pembicaraan lagi. “ Om lahirnya hari apa? “. Saya menjawab malas dengan mengatakan lupa lantaran saat otak diajak searching data, tak keluar juga memori hari apa saya lahir. Maklum mengantuk berat. Kemudian saya bertanya perlunya buat apa. Pak sopir menjawab kalau masing-masing orang itu punya hari sial dan lewat hari kelahiran akan tahu kapan saat sialnya datang, supaya berhati-hati kalau keluar rumah. Astaqhfirullah.

Waktu yang terus berdetak, sesungguhnya membawa kita pada proses penuaan. Kita menjadi tua dan usia terus bertambah. Rambut beruban, penglihatan kabur, pendengaran samar dan kulit berkeriput. Ah, sesuatu yang tak bisa kita hindari. Sunnatullah. Dalam hitungan count down tinggal tunggu waktu kapan giliran berpulang ke alam abadi. Maka apa yang bisa dihandalkan untuk menyelamatkan diri pada pertanggungjawaban di akherat sementara usia kita sia-siakan bahkan hingga di masa tua. Pikiran terkunci pada kesesatan dan perkara syirik seperti pak sopir tua itu. Menyedihkan sekali kalau tak punya tabungan amal kebaikan lantaran di usia senja masih kemaruk harta. Lalai dan silau oleh urusan duniawi yang sama sekali tak sanggup menjadi pembela saat berlangsung pengadilan maha adil. Ibadah shalat sering ditinggalkan dan sebaliknya gampang sekali terbawa bisikan syetan yang menyesatkan. Tak sanggup meninggalkan kenikmatan asap nikotin yang jelas-jelas merongrong kesehatan. Berlarut-larut dalam obrolan sia-sia di pos ronda sekedar menemani pak RT yang main catur. Nonton sinetron berjam-jam termanjakan oleh kepalsuan panggung sandiwara. Ah, banyaklah waktu yang terbuang sementara tahun berganti tahun dan terus bergulir tanpa bisa mengambil faedah sedikit pun dari perjalanan waktu. Lantas, apa sebenarnya yang dicari di sisa umur yang tak lama lagi?

Amr bin Maimun al-Audy radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seorang pria, “Ambillah kesempatan lima sebelum datang lima: mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum miskin, senggangmu sebelum sibuk dan hidupmu sebelum mati“. Semoga nasehat indah ini mampu menggugah kita agar di usia tua makin mengenal dan cinta pada Allah dan Rosul-Nya, makin memperbanyak istighfar untuk memohon ampun atas segala dosa yang pernah diperbuat dan lima yang lima itu tadi menjadi concern kita untuk diwaspadai. Dengan segenap ketundukkan hati, mulai untuk mengamalkan agama dengan benar, tidak dengan hawa nafsu. Menerima kebenaran yang haq apabila ada koreksi yang menyangkut cara beribadah karena kita sadar bahwa kita beragama berdasar keturunan, mengikuti apa sajayang dilakukan orang tua kita. Bersyukur kalau memang amalan ibadahnya benar, tetapi kalau salah, tentu ibadah yang kita lakukan tertolak. Merugi sekali, sudah tua tetapi masih salah cara shalatnya, cara wudlunya, cara zakatnya, cara puasanya, juga cara-cara amalan ibadah lainnya. Maka manfaatkan waktu tersisa ini dengan mengaji ilmu yang benar, yang bersumber pada dalil shahih. Mengkritisi dan memperbaiki cara beragama senyampang masih punya kesempatan. Sebelum tua, sebelum sakit, sebelum sibuk, sebelum miskin, sebelum mati.

Betapa sempurnanya hidup ini jika saat muda rajin beribadah, tua bahagia dan mati masuk surga. Barangkali itulah impian saya dan Anda. Maka selalu berdoa agar diberi istiqomah dalam beribadah dan ketetapan qalbu karena hati manusia bisa selalu terbolak-balik sesuai kehendak Allah. Senantiasa berteman dengan orang-orang shalih sebab bersama mereka akan saling mengingatkan dalam kebaikan. Ibarat tua – tua keladi, jangan sampai hidup kita terpuruk pada kubangan kezhaliman, makin tua makin menjadi dalam mempraktikkan kesesatan.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: