MENGELUH

Berturut – turut dalam 2 minggu terakhir, pembantu di rumah sering nggak masuk. Bahkan sampai emp4t hari. Mau nggak mau pekerjaan rumah saya bertambah, makin rempong lantaran mengambil alih tugas “Budhe”, panggilan kami untuk pembantu. Sungguh, buat kami dan keluarga, panggilan ini menjadi penting. Kami tak ingin menempatkan pembantu dalam celah khusus, melainkan memeluk mereka dalam bagian keluarga. Maka tak pernah kami memanggil “Mpok” atau “Yuk” atau sejenis panggilan lain yang terkesan dikotomi. Dengan panggilan pilihan tadi, mereka kami posisikan seperti saudara sendiri dan anak-anak pun menjadi tak semena-mena dalam berinteraksi. Soal kerepotan tadi saya kemudian komplain pada istri. “Apa nggak sebaiknya ganti orang saja“, rengek saya. nggak dinyana, istri justru ingin mempertahankan Budhe dengan argumen selama satu tahun ini Budhe tak pernah mengeluhkan segala masalah pribadinya, terutama soal perekonomian. Biar serba kekurangan, tak sekali pun Budhe sambat, mendramatisir keadaan yang ujung-ujungnya pinjam duit. Meski kalau pinjam pun bakal diberi.

Budhe menjalani kehidupan sesuai kemampuannya. Kalaulah sakit ( sakit apa saja ) cukup disembuhkan dengan obat tiga ribuan, katanya. Buat kami ini tidak masuk akal. Makanya kemarin waktu sakit buru-buru Budhe diculik istri perlunya diajak bekham, sebagaimana istri memilih terapi untuk segala keluhan penyakitnya.

Maka saya kemudian berfikir, rupanya secara fitrah, kita nggak suka kalau ada orang yang sering mengeluh. Sekali dua kali mungkin hanya sekedar curhat colongan, tetapi kalau setiap kali bertemu mengeluh, itu bisa jadi tabiat diri, karakter yang terbentuk. Kita yang mendengar jadi gringsingen, gatal sendiri, jadi berpeluh tanpa sebab. Seorang teman pernah menulis status di FB begini, banyak mengeluh banyak peluh. Saya pun mengomentari senada, banyak sambat banyak keringat. Mungkin pelajarannya buat kita, jangan gampang mengeluh di depan teman soalnya saya juga yakin tempat berkeluh kesah terbaik dan solutif hanyalah Allah Sang Pencipta. Sadari orang lain juga punya masalah, jangan paksa untuk masuk dalam wilayah yang mereka tak punya otoritas. Kalau terlalu banyak mengeluh pada teman, tunggu saatnya Anda bakal dilabeli dengan predikat Mr. Sambat.

Coba kita ambil keteladan seorang shahabat bernama Imran Ibnul Husain, yang baru berbai’at pada Rasulullah setelah kemenangan di perang Khaibar. Karena kesucian jiwanya, kebersihan hati dan keselamatan lisannya dari hal yang buruk, Malaikat mengucapkan salam dan menjabat tangannya seakan-akan ia salah satu dari golongan Malaikat. Ia memenuhi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya sehingga dunia tidak mendapat tempat di hatinya. Sangat senang menghadiri majelis dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan dakwahnya. Sampai saatnya Allah menguji Imran Ibnul Husain sebagaimana Allah menguji hamba yang dekat dengan-Nya untuk menunjukkan ketulusannya. Imran dicoba dengan penyakit busung air selama 30 tahun tetapi tak sekali pun lisannya melontarkan keluhan dan rintihan. Bila seseorang bertanya mengenai penyakitnya, ia menjawab: “Alhamdulillah, aku senantiasa menyukai apa yang disukai oleh Allah“. Selama itu, Imran Ibnul Husain tetap menjadi teladan kaum mukmin yang sabar, banyak bersyukur dan tak menjadikan alasan untuk meninggalkan shalat berjamaah lantaran penyakit itu.

Sungguh, kita jadi merasa kecil di depan Budhe, apalagi di banding shahabat Imran Ibnul Husain. Sedikit – sedikit sambat seolah tak mensyukuri nikmat Allah. Teman jadi wadah tumpahan keluhan sambil berharap bisa memberikan jalan keluar. Mengunci waktu mereka agar rela menjadi pendengar yang baik sampai telinganya memerah penuh lontaran kata yang kita tumpahkan. Jadi kelihatan betapa egoisnya kita. Padahal dengan kita mengunci mulut untuk tidak berkeluh kesah sungguh terampuni dosa – dosa kita sebagaimana HR. Athabrani, barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapa pun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuninya. Jadi, saatnya tidak lagi hiasi hari – hari kita dengan keluhan tetapi justru mewarnai dengan rasa syukur. Sesungguhnya segala takdir yang terjadi bagi seorang muslim akan selalu dipandang sebagai nuansa keindahan dalam kehidupan.

Barakallahu fikum.

2 Comments

  1. Jennyfer ( Jenward )

    Really nice thing to think, we are a human that never realize from the mistakes..
    Thanks for your blog that remind me about “complain”
    As i read in a book, critic can’t fix anything and complain just leave the bad result..^^,
    Thanks for the reminder about thankful for everything from God..

  2. Thank you Jennyfer. Right you say, complaining only bring bad results. Instead, be grateful will bring a positive aura for us. May the good always increases for life and our lives.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: