HARTA

Cuaca di Singapore sedang bersahabat. Mentari enggan berbagi kehangatan tetapi hujan juga belum menetes. Angin sejuk menyeruak, menenangkan rasa sekaligus melengkapi kesempurnaan atmosfir kota megah yang disentuh keramahan teknologi.  Semua orang dengan berbagai warna kulit seolah tumpah ruah di Orchard Road, masing-masing berhasrat dengan keperluannya sendiri, bergerak ke depan dan nyaris tidak ada senyum, apalagi tegur sapa. Persis dalam kehidupan koloni robot yang dimonitor oleh remote control dalam gerakan serba mekanis. Hampa. Sampai saya bertanya sendiri inikah sebuah kehidupan? Atau orang-orang ini sedang memperagakan gerakan Flash Mob dalam irama yang monoton? Ah, betul. Memang sehari-hari warga kota itu terjebak dalam irama yang monoton, sibuk mencari harta!

Saya kemudian menusuk ke dalam Lucky Plaza, menuju satu resto khas Indonesia untuk meeting bersama seorang teman yang akan membantu selama syuting disana. Padat sekali di dalam dan ada satu pemandangan yang juga terkesan monoton: banyak wanita dengan wajah sangat familiar dan semua memakai kaos model you can see yang teramat mengganggu. Ya, wajah mereka adalah wajah yang kebanyakan kita jumpai di tanah air. Wajah-wajah “saudara” kita yang mencoba mengadu nasib di negeri jiran. Kemudian saya bertanya sendiri, mengapa mereka menjadi “berani” dalam berpenampilan. Bukankah di negeri sendiri justru sedang tumbuh gerakan untuk tidak mengumbar aurat. Lihatlah betapa banyak saudara kita yang dengan kesadarannya sendiri ( juga atas hidayah Allah ) telah menutup diri dengan kerudung dan jilbab?

Saya beristiqfar sambil menenangkan hati yang teriris miris. Jumlah mereka sangat banyak. Mereka ada di setiap sudut, mencoba menebar pesona. Kemanakah rasa malu yang melengkapi keimanan mereka? Speechless. Para sosiolog barangkali menyebut fenomena ini sebagai melting pot dimana unsur heterogen yang menjadi ciri masing-masing individu berubah menjadi homogen, unsur-unsur yang berbeda meleleh bersama dalam budaya paritas. Sampai segitunya ya. Mereka pamit pada keluarga untuk bekerja mengubah nasib. Terbayang bagaimana kehidupan perekonomian mereka di rumah. Menangis setiap waktu. Di dapur tak ada makanan tersaji kecuali garam yang siap jadi pelengkap nasi putih dan krupuk. Baca buku sambil menangis. Menyedihkan sekali. Belakangan ternyata ketahuan yang dibaca adalah buku tabungan suami yang ternyata tersisa saldo cuma lima puluh ribu rupiah lantaran memang angka minimal yang bisa diblokir bank. Nelangsa. Belum akhir bulan dompet sudah menipis, siapa yang nggak bakal menangis?

Maka terpaksalah mereka bekerja jauh meninggalkan kampung halaman. Sayangnya, keselamatan akhirat diabaikan. Itulah fitnah jaman ini. Sesungguhnya setiap umat manusia punya fitnah dan fitnah umat ini adalah harta. Saudara-saudara kita yang di Lucky Plaza itu seolah “berjatuhan” hanya karena mengejar harta. Kalaulah mereka mencari rejeki dengan cara yang diridloi Allah, sungguh amat mulia kehidupan mereka. Memanglah bahwa tabiat yang melekat pada manusia adalah tidak puas dengan harta. Seandainya kita diberi 2 lembah harta yang menumpuk, sudah pastilah kita akan meminta lembah harta yang ketiga, minta terus sampai akhirnya kita benar-benar berkalang tanah yang tak lagi butuh harta itu. Tetapi Allah memberikan urgensi yang besar pada persoalan harta. Dalam Al Qur’an kata harta ( dan turunannya ) diulang-ulang sampai 86 kali. Bukankah itu pertanda sebuah perhatian khusus bab harta yang harus diperhatikan oleh hamba-Nya.

Semoga kita selalu dilimpahi harta yang barokah. Diberi petunjuk agar mampu mencari harta dengan cara yang elegan dengan taat pada aturan yang sudah ditetapkan Allah dan disampaikan oleh rosul-Nya. Kita bertawakal bahwa rejeki sudah diatur dan memang sebanyak itulah yang menjadi harta kita. Apakah kita tak bisa meniru sikap tawakal burung yang cuma makhluk lemah, tetapi bisa kenyang setiap sore hanya dengan kekuatan paruh dan cakar?

Barakallahu fikum.

2 Comments

  1. Bagus banget mas…seirama dengan pemikiran saya mengenai hal etrsebut diatas walaupun tidak 100% sama (nanti malah saya dikirain plagiat)😀
    anak saya pernah berujar pada saya,”mim salah satu tanda kiamat itu kata guru agamaku adalah banyaknya para istri yang bekerja diluar rumah”…:(
    Saya terangkan ke dia dalam bahasa dan pemahaman saya yang tidak banyak bahkan hanya seujung jari semut🙂
    Yang saya pahami tentang sosok seorang istri (belajar dari pemikiran alm bapak saya) bahwasanya tempat terbaik istri / ibu adalah dirumah untuk mengabdi, merawat, melayani, suami dan memberikan pengajaran, pendidikan, pengarahan pada anak-anaknya dengan mengharap ridho dari Allah SWT. Tapi sedihnya serinkali pemikiran saya ini dijadikan bahan olok-olokan oleh mereka yang “bekerja” diluar rumah demi terlihat “pintar” tanpa bergantung penghasilan pada suami…bagaimana pandangan mas Karianto tentang hal tersebut ?
    Mohon masukannya ya mas…terima kasih

  2. Terima kasih atas apresiasi untuk tulisan ini, ya Bu. Pemahaman Ibu tentang sosok seorang istri sudah tepat, karena sebaik-baik istri adalah di rumah untuk sepenuhnya mengabdi pada keluarga. Sungguh saat mulia baginya, karena telah menjaga martabatnya dari berbagai fitnah yang bakal muncul seandainya dia keluar rumah. Mengapalah harus bekerja kalau suami sudah mampu memenuhi sepenuhnya kewajibannya memberi nafkah. Kalau masih kurang, sebaiknya bersabar sambil membuat usaha sendiri di rumah. Ada banyak cara. Kalau ada teman yang mengolok-olok, sesungguhnya kita tidak menyenangkan di mata mereka tetapi di mata Allah kita telah meraih ridlo dan kemuliaan. Mengapa harus bersedih? Tetap semangat ya, Bu. Semoga Allah merahmati panjenengan. salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: