PEMUDA

Sudah teramat banyak saya menemui berbagai cara manusia mengoptimalkan kompetensinya menuju puncak karir. Tak cukup hanya dengan bekal ilmu dari petak kampus dan sekolah, penyikapan pun turut menentukan pilihan mana yang harus dilakukan. Seusia saya yang sudah melesat di kisaran usia empat puluhan mestinya tinggal memetik buah yang sudah ditanam puluhan tahun lalu. Lumbung ilmu dan pengalaman akan terus membumbung dari setiap ladang urusan dan persoalan yang harus dihadapi. Sesekali gagal panen bolehlah karena tak selalu pupuk terbaik yang kita miliki. Sangat – sangat panjang waktu yang sudah terpakai untuk memikirkan kebutuhan keluarga sebagai bagian dari tanggung jawab. Nyaris tak menyisakan untuk orang lain. Apakah suatu keharusan untuk sedikit berbagi bagi orang lain? Exactly yes! Belajar dari filosofi kehidupan tanaman, kebun kita bisa berbuah bagus karena kualitas serbuk sari tanaman tetangga yang terkirim oleh hembusan angin. Maka jika sekitar kita bahagia dalam kehidupannya, kita pun turut merasakan hembusan angin kebahagiaan itu.

Dalam safar baru – baru ini, saya berkenalan dengan seorang pemuda yang baru lulus tapi sudah sempat kerja di 5 perusahaan. Betapa saya melihat alangkah tangguhnya “bocah” ini. Bisa disimpulkan dia punya lumayan banyak hasil peneropongan dari pematang jalan yang sudah dilaluinya. Pengalaman yang didapatnya akhirnya mendewasakan cara berfikirnya. Katakanlah ia kini sudah berada di atas gunung, sudah pasti ia mampu melihat lembah dengan leluasa. Maka pemandangan yang didapatnya adalah dia merasakan bahwa kerja sebagai seorang karyawan tak akan mampu mengantarkan pada posisi yang mapan, lebih – lebih melekat stigma putera betawi yang sulit menerobos dominasi pekerja urban yang sukses menguasai comfort zone di berbagai instansi. Pada kesadarannya itu, ia memilih untuk berwirausaha dengan mempekerjakan orang-orang yang butuh pekerjaan. Senyampang itu, ia akan turut membina keimanan orang-orang yang dipekerjakannya. Manakala terdengar adzan panggilan sholat berjamaah, para pekerjanya dipersilakan bergegas ke masjid. Lebih baik mereka meninggalkan pembeli terakhir, daripada tertinggal takbir pertama, begitu katanya. Subhanallah! Value yang amat sangat berarti. Ia pemuda tanggung tapi berfikirnya tak tanggung-tanggung. Sementara kita barangkali justru berkata “Ahh tanggung, dikit lagi kerjaan selesai kog!” yang kemudian melewatkan keutamaan sholat berjamaah dengan tanpa bersalah. Begitu tegas ia menarik garis untuk memisahkan kewajiban dunia dan kewajiban akherat yang bersifat personal. Sekali waktu orang yang bekerja pada pemuda itu meminta ditempatkan tivi di ruangannya. Pemuda itu menjawab belum bisa sambil terbayang betapa dahsyatnya gempuran televisi yang potensial mencemari kemurnian akidah seorang muslim.

Mendengar penuturan ceritanya itu, sungguh saya berdecak kagum sambil memuji kebesaran Allah. Bisa jadi Allah Azza wa Jalla telah mendekatkanmu padaku untuk menjadi seorang “guru”. Seorang yang mengingatkanku kembali untuk juga mewujudkan tekad tetap berbagi pada orang lain. Seandainya semua pemuda sepertimu Nak, aku akan merasakan kedamaian di tengah rimba kota yang serba materialistis ini. Semoga Allah merahmatimu. Juga merahmati para pemuda yang memberikan perubahan ke arah lebih baik. HMI sebuah organisasi kader kepemudaan terbesar di Indonesia yang diprakarsai oleh Lafran Pane pada tahun 1947, tak salah kalau menjuluki mahasiswa ( baca: pemuda ) sebagai agent of change. Bahkan Bung Karno pun menyadari kekuatan generasi muda. Beri saya sepuluh pemuda dan saya akan merubah dunia, begitu katanya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan porsi khusus pada pemuda dalam mengembangkan dakwah Islam. Untuk menakhlukkan tentara Romawi, Usamah Ibnu Zaid yang masih berusia dua puluh tahunan ditunjuk sebagai komandan pasukan. Beberapa sahabat tidak setuju karena menganggap Usamah masih hijau. Ketika hal itu terdengar oleh Nabi, maka beliau yang sedang sakit panas segera mengambil air untuk mendinginkan tubuhnya, kemudian ke masjid dan menjelaskan duduk masalahnya, ” sebagian para sahabat ada yang meremehkan kepemimpinan Usamah sebagaimana dulu mereka pun meremehkan kepemimpinan ayahnya ( Zaid bin Haritsah ) padahal ayahnya pantas untuk memegang pimpinan ketika itu. Sesungguhnya ia adalah salah seorang yang paling aku cintai setelah ayahnya. Aku berharap semoga ia menjadi orang pilihan di antara kamu. Karena itu berbuatlah yang baik padanya”.

Ketangguhan Usamah pun terbukti. Saat memimpin pengusiran tentara Romawi yang menjajah suatu perkampungan di perbatasan Syam, Pasukan Islam meraih kemenangan tanpa harus kehilangan pasukan seorang pun.

Maka tak perlulah malu kalau memang harus belajar pada pemuda. Ada semangat perubahan, ada idealisme yang kadang tak kita miliki. Ada banyak harapan dan teladan pada seorang pemuda. Mereka pun bisa menjadi guru kehidupan kita, sejauh kita bisa mengambil hikmah indah di balik jalan hidup yang telah terjadi padanya.

Barakallahu fikum.

Thx to Akhi Maulana Bagus who has inspired this note.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: