REJEKI

Pagi yang ribet. Tapi indah dan menyenangkan. Urusan yang harus dipegang berderet dari bilik dapur hingga gerbang pagar. Maklum anak-anak semua belum mandiri, masih dalam tahap proses. Tak mengapa. Dari dalam rumah nyaris beres, anak-anak minta beli roti. Maka keponthal-kepanthil saya harus melakukan transaksi dengan penjaja roti keliling. Tak sadar, uang dua puluh ribuan hanya mendapat kembalian empat ribu untuk pembelian senilai enam ribu. Ingat-ingat pas penjualnya sudah berlalu. Akh, insya Allah rejeki Abangnya, bathinku memutuskan tegas untuk menenangkan kekurangan kembaliannya.

Maka pagi itu saya tengah mempraktikkan pelajaran ikhlas. Sesekali batin terguncang, tapi berikutnya legowo. Menerima apa yang memang sudah terjadi. Kalaulah sepuluh ribu itu menjadi hak saya, tentu akan kembali dengan cara yang sudah ditetapan Allah yang mahaadil. Saya coba me-review keteladanan para salafus shalih. Sungguh, tak ada apa-apanya dibanding keikhlasan Abdullah Mubarak, saudagar kaya raya yang tak sempat berzakat ( maal ) meski keuntungannya setiap bulan sebesar 80 ribu dirham. Keuntungan itu tak pernah singgah di pundi simpanannya lantaran langsung dibagikan kepada yang berhak disedekahi. Suatu hari datang pada beliau seorang yang menanggung banyak hutang dan meminta tolong sedianya membantu membayarkan hutangnya sebesar 4 ribu dirham. Maka Abdullah Mubarak menuliskan permohonannya dan diserahkan kepada sang bendahara untuk dibayarkan hutang itu. Bendahara melihat yang tertulis sebesar 40 ribu dirham. Sebelum menyerahkan uang itu, bendahara bertanya berapa besar hutangnya. Dijawab 4 ribu dirham. Maka bendahara melihat adanya kesalahan tulis oleh Abdullah Mubarak. Saat dijelaskan, Abdullah Mubarak menjawab dengan ringan, itulah rejeki dia. Kesalahan penulisan itu seolah menjadi sebab datangnya rejeki orang itu atas ijin Allah.

Oh, betapa indahnya akhlak seorang muslim yang sudah menyatu pemahaman ikhlas pada darah dagingnya. Tak ada hitungan untung rugi secara nominal. Allah sudah mengatur rejeki kita yang itu berarti bahwa semua makhluk yang hidup di bumi ini sudah ditanggung rejekinya oleh Allah. Bahkan seekor burung pun yang mengepakkan sayapnya di pagi hari untuk menjemput rejeki, sore harinya terbukti pulang dengan tembolok yang penuh cadangan makanan. Sungguh, Allah kaya raya dan punya beribu jalan untuk mengirimkan rejeki-Nya pada kita. Tak perlu buru-buru seperti para koruptor yang mengumpulkan harta dalam waktu singkat. Kalau sudah waktunya, mobil mewah pun bisa kita miliki dengan cara yang benar. Buat apa mobil idaman itu segera jadi milik kita kalau cara mendapatkannya melanggar aturan. Bukankah sejak masih janin, rejeki itu sudah tertuliskan untuk perjalanan hidup kita? Allah azza wa jalla sudah mengatur seadil-adilnya. Bisa jadi karena dosa yang kita lakukan ( seperti korupsi tadi ) maka terhalanglah rejeki yang semestinya melimpah untuk kita.

Jom kita ikhlas dan jangan pernah khawatir soal rejeki. Tetap bekerja sungguh-sungguh. Nabi Muhammad Shallallahu. ‘alaihi wa sallam pernah menasehati Ibnu Abbas, yakinlah andai seluruh manusia bersekongkol untuk memberikan manfaat padamu, tidak akan mungkin terjadi kecuali hal itu memang digariskan untukmu. Maka, tetaplah kita sandarkan semua ketentuan di muka bumi ini hanya karena ridlo Allah.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: