MINUM

Dulu, waktu kecil di Surabaya saya suka main bola ramai-ramai di lapangan Flores yang jauh dari rumah. Lantaran menanggung haus yang hebat, maka hasrat ingin minum pun tak terbendung. Saat pulangnya kami mampir di rumah orang baik yang menyediakan kendi-kendi di depan rumahnya, untuk boleh diminum siapa saja yang lewat tanpa harus meminta ijin lebih dahulu. Kami berebut menenggak minum sambil berdiri, membiarkan air kendi tumpah mengena baju kami. Basah tapi happy. Sesampai di rumah, lagi-lagi rasa haus itu masih melanda kerongkongan. Yang saja tuju kali ini adalah gentong berisi banyu pet ( air kran ) yang tertampung setelah saya ngangsu sebanyak lima pikul dengan ongkos selaweh repes. Di samping gentong itu tertancap sebilah bambu tempat bertengger siwur dari bathok kelapa.  Tak ayal lagi, saya pun minum glek-glek-glek berdiri di depan gentong itu.

Kemarin, di pesta -pesta pernikahan saya masih banyak melihat orang yang minum sambil berdiri. Ya, suatu keniscayaan dari sebuah pergelaran standing party. Konsep pesta kekinian yang lebih praktis lantaran keterbatasan ruang sehingga terkesan terlalu padat jika harus menjejerkan kursi. Ada yang berdalih, kalau pestanya sambil duduk jadi kaku. Makan minum kurang ganyeng. Weleh! Maka lihatlah, para undangan pun makan dan minum dengan berdiri. Membentuk kelompok-kelompok kecil sambil ngomongin trending topic, apalagi kalau bukan pengantin yang duduk di pelaminan. Mulut terus mengunyah, kelompok para ibu lebih fokus mengomentari variasi makanan yang tersaji. Semua makan dan minum dengan berdiri, meski saya sering melihat betapa repotnya.

Tempo hari, saya masih banyak melihat teman-teman di break out area, minum dengan berdiri ( pakai tangan kiri pula ) sambil bercerita berbuih-buih berbagai pengalaman. Ya, serunya mereka bercengkerama menyiasati tekanan pekerjaan yang tak ada kelarnya. Revisi schedule, launching program baru dan special event seolah sebuah dinamika yang menuntut konsentrasi kerja. Maka bagi teman-teman, pertemuan rileks di break out area adalah hiburan kecil yang sungguh-sungguh menyenangkan. Mereka menuang air lagi dalam gelas, dan minum sambil tetap berdiri.

Tadi pagi, saya membuka kitab Ensiklopedi Larangan menurut Al Qur’an dan As Sunnah yang disusun oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali bab Minuman-miuman halaman 170, dijelaskan bahwa haram hukumnya minum sambil berdiri. Ada beberapa dalil yang jadi sandaran diantaranya HR. Muslim ( 2024 ). Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ” bahwasanya beliau telah melarang seseorang minum sambil berdiri.”Qatadah berkata,”Kami tanyakan: Bagaimana dengan makan?” Beliau menjawab: “Lebih buruk dan menjijikkan.”

Hadits yag lain menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang yang minum sambil berdiri. Tentu kita sepakat bahwa “mencela” memiliki bobot yang  lebih keras dari sekedar “melarang”. Lebih dari celaan tadi, dalam hadits yang lain Nabi justru    memerintahkan untuk memuntahkan bagi orang yang minum sambil berdiri, meski lantaran ia lupa. Sungguh, ada kemuliaan di balik semua ketentuan ini. Tidak ada kebaikan yang tersisa kecuali telah diberitakan oleh Rasul. Semuanya sudah tersampaikan pada kita, untuk makin mendekatkan jalan menuju kemuliaan dunia akherat.  Dari riwayat Imam Ahmad bahwasanya beliau pernah melihat seoang laki-laki minum sambil berdiri lalu beliau berkata, ” Jangan minum “. Laki-laki itu bertanya: “Mengapa?” Beliau menjawab,”Apakah kamu suka jika kucing ikut minum denganmu?” Lelaki itu menjawab:”Tidak” Beliau bersabda:” Sesungguhnya telah ikut minum denganmu sesuatu yang lebih buruk dari kucing yaitu syaitan”.

Sekarang, saya berfikir betapa indahnya adab yang dicontohkan oleh Nabi. Untuk minum saja kita diarahkan agar tak merugikan diri sendiri. Bayangkan jika setiap minum terselip syaitan yang turut terdorong ke dalam perut kita. Ah, jangan-jangan saya buncit juga lantaran sesak oleh timbunan syaitan yang bermukim dalam perut ini. Naudzubillahi min dzalik. Mari berlindung dari segala godaan syaitan yang terkutuk.

Kemarinnya kemarin, saya tertarik status di FB seorang kawan baik* tentang minum. Kutipan panjangnya seperti ini, “ Bila kita minum sambil duduk, air yang kita minum akan disaring oleh sphincter. Sphincter adalah suatu struktur maskuler ( berotot ) yang bisa membuka ( sehingga air kemih dapat lewat ) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada pos-pos penyaringan yang berada di ginjal. Jika kita minum berdiri, air yang kita minum tanpa disaring lagi langsung menuju kantung kemih sehingga terjadi pengendapan di saluran ureter. Limbah-limbah ( pengendapan ) yang menyisa diureter inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal yang merupakan salah satu penyakit ginjal yang berbahaya.”

Hari ini, kita barangkali jadi tersentak. Betapa kebiasaan yang kita lakukan adalah salah besar dimana saat minum cuek saja berdiri seolah membebaskan diri tanpa aturan. Padahal, Islam telah menetapkan regulasi indah dalam segala hal kehidupan. Bagaimana mungkin kita lari menjauh dari aturan itu ? Apa yang pernah diperintahkan oleh Nabi berabad-abad yang lampau, ternyata hari ini terbukti secara medis sangat bermanfaat untuk kebaikan kehidupan kita. Tidakkah kita berfikir ?  Semoga Allah penguasa langit dan bumi senantiasa menetapkan kita pada jalan kebaikan untuk selalu taat pada aturan-aturan yang disampaikan nabi Muhammad sang pembawa risalah.

Barakallahu fikum.

* Thx to Denny Hariadi, your status have inspired this note.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: