FIRASAT

Apakah seekor kupu-kupu yang terjebak masuk ke dalam rumah kita adalah suatu peristiwa besar? Betapa banyak orang yang kemudian menjadi tahu hal-hal gaib hanya karena seekor kupu-kupu. Entahlah dari mana asal-usulnya, spontan saja kalau ada kupu-kupu di dalam rumah, mereka memperkirakan akan ada tamu datang. Wow, betapa hebatnya weruh sak durunge winarah. Qodarallah ada tamu yang datang, maka kepalang besar kepala kita. “Saya itu mikir-mikir, siapa ya yang mau datang. Lah wong ada kupu-kupu kog di dalam rumah. Tahunya panjenengan toh” kita lantas bertutur asal muasal perasaan yang jadi pembuka lalu lintas percakapan pada tamu.

Banyaklah gejala alam atau peristiwa biologis yang sebenarnya biasa-biasa saja tapi kemudian membuat kita heboh hingga berpanjang-panjang cerita. Mata cedhutan, tangan gatal, kejatuhan cicak dan lainnya yang menjadi pembuka pintu kekufuran. Begitu sok tahunya, kita meramal-ramal sesuatu yang akan terjadi lewat gejala-gejala tadi. Herannya lagi, ramalan itu begitu gampangnya dipercayai. Kita jadi hati-hati sekali lantaran habis kejatuhan cicak yang dalam kamus ramalan diartikan sebagai firasat mau apes. Astaqfirullah, namanya hati-hati itu kan harus dipegang setiap saat sepanjang hidup. Bukan sesaat saja lantaran habis kejatuhan cicak. Takut apes sampai mengganggu pikiran berhari-hari. Tangan kanan gatal maka deg-degan terus-terusan, sambil menunggu rejeki nomplok yang katanya mau jatuh meniban kita. Astaqfirullah.  Manalah mungkin tanpa ikhtiar rejeki itu akan datang. Semuanya terjadi karena sebab dan akibat. Bukan tiba-tiba begitu saja bisa mendadak kaya. Tangan kanan gatal dibaca sebagai firasat baik yang menyenangkan. Kita jadi lalai, bahwa sesuatu yang akan terjadi adalah atas kehendak Allah. Peristiwa yang akan datang itu adalah perkara-perkara gaib yang bukan menjadi kuasa manusia untuk weruh sakdurunge winarah. Sepenuhnya adalah hak Allah Azza wa Jalla sebagaimana disebutkan dalam Qur’an Surat An Naml ayat 65 yang artinya “Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah”.

Apakah kita akan meniru perilaku jahiliyah dimana mereka meramal nasib dengan menghalau burung. Apabila mereka melihat burung tersebut terbang dengan cara yang tidak disukai, mereka pun mengurungkan niat untuk bepergian karena dianggap firasat tidak baik. Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memerintahkan kita untuk bertawakal hanya kepada-Nya saja. Apabila muncul kebimbangan dalam rencana dan perjalanan, bukankah kita dituntunkan untuk mendirikan shalat istikharah dan berdoa agar Allah menunjukkan pada jalan dan pilihan terbaik. Ikhtiar lainnya kita meminta bimbingan dari orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman.

Maka janganlah menjadikan firasat-firasat itu jalan untuk meramal kejadian yang akan datang. Bertawakal adalah lebih baik buat kita. Dalam hadits yang shahih riwayat Muslim dan Ahmad dijelaskan ramal-meramal yang kita percayai itu ( lantaran mendatangi dukun / peramal ) mengakibatkan tidak diterimanya shalat selama empat puluh hari. Sungguh merugi benar, karena pada akhirnya shalat yang ditegakkan hanyalah jadi penggugur kewajiban tanpa berbuah pahala dan ganjaran.

Barakallahu fikum.

1 Comment

  1. “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah”.
    “” I LIKE “”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: