MAAF

Seringkali saat mendapati anak-anak kita mengganggu teman-temannya maka kita mengajarkan untuk segera meminta maaf. Menuntun mengulurkan tangan dan berujar kata maaf. Kita tidak pernah mengukur besar kecilnya kesalahan. Asal setiap ada tindakan yang mengganggu temannya, kita buru-buru membimbingnya, “Maafin Adek ya!“.

Buat kita, melakukan keteladanan meminta maaf dan memaafkan rupanya bukan perkara mudah. Perlu kekuatan besar untuk mampu menakhlukkan hati yang seringkali dikuasai hawa nafsu agar bersedia menyediakan bejana lapang guna menampung segala kemasan ketersinggungan dan paket amarah. Sungguh tidak gampang untuk mengenyahkan kado dendam yang terlanjur terkirim dalam lubuk hati. Terlanjur membekas meski dianjurkan melepaskannya.

Seringkali karena terbelenggu rasa jumawa dan memanjakan diri merasa sebagai manusia yang bermartabat, kita membiarkan rasa salah dan segala gundah mengendap berhari-hari menggerogoti perasaan. Menumpuk menjadi kotoran hati sambil berhitung menunggu lebaran untuk meminta maaf. Sebuah itikhad yang salah sedang berlangsung dalam pikiran kita.

Menyimpan dendam dan amarah sesungguhnya membutuhkan suplai energi yang teramat besar dan berpotensi menyumbat aliran daya hidup. Berat sekali meski hanya untuk tersenyum. Pikiran galau menghalau kebahagiaan yang mestinya kita nikmati. Keseimbangan emosional pun akhirnya terganggu. Tinggal tunggu waktu, perlahan tapi pasti jasmani dan rohani kita akan berada pada titik nadir.

Lantas bagaimana kita bisa berlapang dada untuk membuka pintu maaf itu? Kuncinya hanya satu, dengan iman. Ketika Matsah yang kehidupan ekonominya ditopang oleh Abu Bakar menyebar fitnah terhadap Aisyah putrinya, Abu Bakar bersumpah untuk tak lagi memberi makan Matsah. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan beliau untuk melapangkan dada dan memaafkan Matsah. Sebuah peristiwa indah yang diabadikan dalam Qur’an Surat An-Nur: 22, “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kerabatnya, orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah Mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Sangatlah banyak anjuran memaafkan yang difirmankan Allah Azza wa Jalla dalam Al Qur’an. Surat Asy-Syuura ayat 43 menegaskan, “ tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya ( perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”

Maka marilah kita bercermin pada keteladanan para shahabat yang akhlaknya merupakan pemahaman total atas segala ayat yang terkandung dalam Qur’an, serta pengamalan langsung dari pengalaman hidup bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Bagaimana Rasulullah begitu legowo-nya memaafkan orang Quraisy paska pembebasan Makkah. Hal yang sama yang juga dilakukan pada penduduk Thaif. Perlakuan kasar dan lemparan batu justru dibalas dengan doa indah yang menyejukkan bagi penduduk Thaif supaya hidayah tercurah pada mereka dan anak keturunannya. Inilah yang juga menjadi metode dakwah Rasulullah yang lembut sehingga Islam terus berkembang tumbuh menjadi agama yang rahmatan lil alamin.

Maka uluran tangan maaf dan memaafkan itu begitu mulianya. Allah amatlah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan yang tentu saja besar ganjaran pahala dan keutamaannya. Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Muslim no. 2588, “ Tidaklah Allah menambah bagi sesorang hamba dengan pemberian maafnya ( kepada saudaranya ) kecuali kemuliaan ( di dunia dan akherat )”. Jadi amatlah rugi kalau maaf memaafkan hanya kita khususkan pada moment lebaran. Lebih-lebih pengkhususan semacam ini bisa menjebak kita pada perkara yang mengada-ada.

Akhirnya, kita harus sepakat bahwa, pertama, mengulur tangan meminta maaf tak perlu ditunda-tunda, apalagi mesti menunggu lebaran. Segerakanlah senyampang kita berkesempatan melakukannya seketika itu, dan rasakan energi positif yang menggerakkan daya hidup kita. Kebersamaan menjadi begitu indah lantaran bermaafan begitu mudah kita lakukan. Kedua, dinding kokoh yang sering menghalangi kita sehingga gampang berseloroh “ tiada maaf bagimu ” tentu tidak lagi kita amalkan. Sebaliknya kemuliaan dan keutamaan memberi maaf lebih menjadi landasan dalam menyikapi konfliks yang kita hadapi. Bebaskan jiwa dan raga dari belenggu ego diri. Cari berbagai pembenar untuk memberi maaf walau hingga 70 alasan.

Barakallahu fikum.

3 Comments

  1. Harindra

    mari kita maafkan para pemimpin negeri ini, semoga segera mendapat hidayah Allah swt, amin yra,,,,

    • Benar Akhi Indra. KIta berdoa supaya pemimpin negeri ini mendapat hidayah sehingga bisa mengarahkan kemudi pada track yang benar. Itulah yang mestinya harus dilakukan oleh rakyat. Bukan menghujat pemimpin di sembarang tempat. Barakallahu fiukm.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: