SENDIRI

Pernahkah kita benar-benar merasa sendiri secara mutlak?

Kesendirian bisa menjadi sebuah masalah atau sebaliknya juga bisa menjadi potensi bagi setiap orang. Bapak tua Jumena dalam lakon drama Sumur Tanpa Dasar tercekam oleh kesendirian hanya lantaran tak punya anak. Di masa tuanya seolah hampa tak punya siapa-siapa meski masih didampingi istri yang mencintai. Kesendirian adalah selimut kecemasan, kata seorang kawan baik.

Orang yang bekerja di dunia kreatif justru sering mencari mood dalam kesendirian. Woflgang Amadeus Mozart komposer era klasik dengan 600 lebih mahakarya yang diakui sebagai puncak karya simfoni, merasa memiliki ide terbaik yang berlimpah saat benar-benar sendirian. Pablo Picasso pelukis Spanyol pendiri gerakan Kubisme
mengatakan tanpa kesendirian tidak ada pekerjaan serius.

Teman saya yang lain tak akan pernah mau dan mampu sendirian. Sendiri baginya seperti dihunus maut yang memanggil manggil. Dia begitu paranoid sampai-sampai memilih tidur campur orang lain meski punya kamar yang privat. Entahlah, saya tak paham bagaimana keyakinannya akan perkara “gaib” karena wilayah gaib bukan cuma setan yang menyeramkan itu. Malaikat pembawa rahmat bukankah juga tak pernah menampakkan sosoknya dihadapan kita, tetapi mengapa justru bayangan setan yang berkecamuk dalam top of mind – nya?

Hamid dan Emak – nya dalam film Di Bawah Lindungan Ka’bah produksi MD Entertainment tahun 2011 seolah mengajarkan pada kita untuk merekonstruksi kembali makna kesendirian itu. Ketika Hamid harus sendirian menjalani hukuman dalam pengasingan ke desa lain, Emaknya meyakinkannya bahwa Hamid tidaklah sendirian.Kalaulah dia sendirian sesungguhnya Allah bersamanya dan sekali lagi Kata Emak Hamid, bersama Allah sangatlah lebih dari cukup. Demikian juga ketika Emak Hamid hendak berpulang ke alam keabadian, masih menyempatkan berpesan bahwa Hamid tidaklah sendirian.

Maka, apakah sekarang kita masih menganggap sendirian ketika tak ada siapapun di sekitar kita? Bocah pengembala kambing yang diuji oleh shahabat Umar bin Khaththab saat diminta menjual seekor saja kambingnya tetaplah menolak meski pemilik kambing itu tak tahu. Bocah pengembara kambing memastikan bahwa Allah bersamanya.

Maka, mari kita merekonstruksi pikiran kembali apakah kita benar-benar masih merasakan sendiri secara mutlak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: