RAMADAN SEMANGAT

Ramadan sudah di tengah perjalanan. Terbayang di awal Ramadan kita begitu semangat menyambutnya. Deres Qur’an tak berhenti, lafaz dzikir tak berjeda. Segala bacaan dzikir terulang dari bibir kering kita meski sesungguhnya ada bacaan dzikir yang utama. Sebagaimana Riyawat Ibnu Majjah dan Imam Tirmidzi, pertanyaan Aisyah pada Rasulullah, apa yang aku ucapkan ya Rasulullah agar aku mendapati malam lailatul qodhar. Lalu Rasulullah berkata kamu berdoa Allahumma innaka affuwun tuhibbul afwa fa’fuani. ( Ya Allah Engkau Maha Pengampun, menyukai permohonan ampun, Ampunilah hamba ini ). Dzikir ini dibaca sendiri, abukan berjamaah sebagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintah Aisyah untuk membacanya sendiri. Maka seyogyanya bacaan inilah yang banyak kita amalkan di bulan Ramadan karena keutamaanya. Lebih-lebih di sepuluh hari terakhir untuk meraih malam lailatul qodhar.

Hari ini, semoga kita tetap istiqomah dan semangat mengisi amalan kebaikan di bulan Ramadan. Kunci pikiran jahil untuk sekedar membuang waktu mengumbar nafsu. Tetap matikan TV toh acara yang dibilang Islami tidaklah semua memberi manfaat. Cicipi kelezatan hidangan Qur’an yang sering kita abaikan di luar Ramadan. Para Shahabat mengkhatamkan Qur’an 3 hari sekali di sepuluh hari terakhir sebagaimana dilakukan Imam Syafi’i. Tak mengapa kita cuma mampu mengkhatamkan Qur’an sekali pada setiap Ramadan karena itulah kemampuan kita. Syukur – syukur bisa lebih. Maka rasakan magnit kebaikan yang menguat di bulan Ramadan. Setiap kebaikan akan menarik kebaikan lainnya hingga membentuk medan magnit kebaikan yang luas pada diri kita. Kita baca Qur’an akan kita barengi dengan memperbaiki bacaan tawjid-nya. Setelah ibadah sahur maka kita akan tertarik untuk berjamaah sholat subuh. Kebaikan menularkan kebaikan lainnya.

Yang saya khawatirkan adalah justru di sepuluh hari terakhir kita sudah ngos-ngosan kehabisan nafas. Loyo tak semangat karena pikiran terganggu rencana-rencana merayakan lebaran. Keutamaan Ramadan kita lewatkan seolah kita tak paham tentang keutamaannya. Padahal siapa yang bisa menjamin kita masih bertemu dengan Ramadan tahun depan? Lihatlah umat terdahulu yang umurnya mencapai 1000 tahun sebagaimana Nabi Nuh yang dijelaskan dalam Qur’an Surat Al Ankabut 14. Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding umat terdahulu tetapi mengapa kita begitu gegabah mengabaikan jalan menuju surga. Maka malam lailatul qodar yang terhitung 83 tahun itu seolah bonus buat kita dan membuka peluang untuk mensejajarkan hitungan amalan kita dengan umat terdahulu.

Maka mohon maaf jikalau saya bertanya, sudah berapa juzz yang kita baca hingga saat ini?

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: