THE POWER OF GOOD WILL

Usai sholat Jumat. Aku bertemu dan bersalaman dengan seorang kawan baru, seorang putera Banjarnegara. Santun dan tampak menghidupkan sunnah dalam kesehariannya. Jenggotnya dipelihara sebagai niat untuk membedakan dirinya dengan kaum musyrik. Dan celana yang dipakai cingkrang seukuran mata kaki. Orang banyak yang menyebut sebagai RCTI, Rombongan Celana TInggi. Ada – ada saja. Padahal itulah salah satu sunnah yang banyak dijelaskan oleh hadits shahih. Ancamannya bagi mereka yang isbal ( yaitu yang mereka celananya turun melebihi mata kaki ) adalah neraka. Wallahu a’lam. Dengan senyumnya yang bersahabat, kawan baru makin tampak bersahaja. Bahkan dari senyumnya saya bisa menangkap sikap ikhlasnya.

Lantaran harus meneruskan pekerjaan, teman baru tadi buru-buru pamit. Tidak seperti kami dan banyak jamaah lainnya yang masih bisa sejenak leyeh-leyeh tidur-tiduran malas di pelataran mushola dadakan yang sesungguhnya adalah lokasi parkir. Maklum lagi puasa. Yang biasanya habis sholat langsung berebut duduk di warung pilihan, kini sejenak punya waktu lebih untuk berlama-lama santai di pelataran musholla.

Siapa sangka ternyata kawan baru tadi memilki sikap istiqomah yang luar biasa, yang tampaknya patut menjadi teladan kita. Inilah kisahnya yang dituturkan oleh sahabatnya pada saya.

Kawan baru tadi bekerja sebagai seorang driver pribadi. Ia melayani boss majikan berdarah China. Keduanya beda keyakinan agama. Suatu ketika, saat kawan baru tadi menjalankan sholat berjamaah maka HP sebagai media komunikasi dimatikan. Memang demikianlah aturan yang lazim dalam masjid agar tidak mengganggu kekhusyukan shalat. Pada saat yang sama, boss majikan membutuhkannya dan tentu saja panggilan per telpon tak terbalas karena memang dimatikan. Seusai shalat, kawan baru terkena marah. Dia menerima dengan bersikap diam saja, dengan berharap suatu ketika tak akan terjadi lagi manakala dia berpamit kata saat hendak shalat.

Suatu hari di perjalanan terdengar adzan. Maka kawan baru menyampaikan hajatnya untuk berhenti shalat sejenak agar tak tertinggal berjamaah di awal waktu. Kawan baru juga menawarkan pilihan seandainya boss majikan ingin tetap melanjutkan ke arah tujuan, dia akan menyusul dengan ojek. Pilihan yang diambil adalah boss menunggu senyampang kawan baru shalat. Semua berjalan dengan biasa-biasa saja.

Malam harinya, kawan baru diminta menghadap boss majikan secara khusus. Tidak biasanya. Tentu saja berkecamuk beragam perasaan. Jangan-jangan… jangan-jangan… Kawan baru berserah diri, dikembaikan semua urusan pada Allah azza wa jalla. Sesuatu yang disampaikan oleh boss majikan ternyata adalah pernyataan yang justru membalikkan segala kekhawatiran. Boss majikan menyatakan bagaimana mungkin kawan baru akan berbuat jahat sementara dia selalu menunjukkan sikap baik dalam beribadah. Yang baik semestinya akan membuahkan kebaikan. Boss majikan kini justru merasakan rasa aman didampingi oleh seorang driver yang taat beragama.

Kawan baru merasa lega. Betapa keistiqomahannya yang semata-mata karena takut pada Allah telah mengantarkannya pada kebaikan. Kepercayaan ( trust ) boss majikan padanya makin menguat dan dia bisa tetap menjalankan ibadah sesuai keyakinan meski berbeda agama dengan boss majikan. Bahkan secara fasilitas, kawan baru mendapatkan lebih  dari yang diharapkan.

Suatu hari kawan baru dipanggil kembali oleh boss majikan. Ditanyakan kapan kawan baru mau pulang kampung untuk mudik. Maka pada waktu yang sama boss majikan ijin untuk ke Singapura dan kawan baru dipersilakan bawa mobil boss majikan sebuah Fortuner untuk dibawa mudik.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: