Sofi’s Choice

  • sebuah catatan untuk seorang sahabat

Namaku Sofi.
Aku biarkan liku hidupku mengalir seperti air. Dengan begitu setiap kelokan hidup tak akan menggangguku, jalan terjal tak akan membahayakanku sebagaimana aku juga tak ingin membahayakan orang lain. Kubiarkan ikan-ikan kecil berenang di sekitarku. Mendekatiku. Menjauhiku. Meninggalkanku. Dan membiarkanku sendirian menyusuri hilir untuk menuju hulu kehidupanku yang aku sendiri tahu tahu akan berakhir dimana. Malahan ikan-ikan kecil yang datang dan pergi itu lebih dahulu menemukan puncak pencarian hulu kehidupannya. Sampai hari ini aku masih di hilir sungai. Mengalir bersama ikan-ikan kecil yang masih bersamaku.

Panggil aku Sofi.
Ketika aku terhempas di karang SCTV, aku merasakan betapa disini cukup lega untuk berpijak. Maka sesaat aku terlupa bahwa aku belumlah sampai di hulu. Sejenak kuhentikan aliran hidupku sambil berharap banyak bahwa karang SCTV akan menyediakan plankton-plankton lezat untuk kuudap bersama keluarga kecilku. Untuk juga kurangkai menjadi hiasan hidup yang bisa kubanggakan. Aku dan ikan-ikan di sekitarku saling berchemistry. Satu dua yang bisa memahamiku tentu akan menemukan chemistry itu, tetapi banyak dari mereka yang tak mampu menembus selaput kehidupanku. Sungguh saya bisa merasakan indahnya gelembung hidup ketika sudah bisa berchemistry, bahkan inilah yang menjadi spiritku untuk berkarya.

Sebut aku Sofi.
Butuh waktu lama untuk bisa berenang dalam samudera kata-kata. Itulah profesi awalku sebagai seorang Copywriter. Kadang aku tenggelam dalam kesuntukkan, tetapi disitulah aku mendapatkan gaya berenang indah hingga tersusun sebuah design dan konsep kreatif untuk promo yang harus kutangani. Dalam tim yang solid, aku terus berenang, menghirup kosakata dan memuntahkannya dalam susunan kata bermakna sebagai storyline. Ikan-ikan kecilku juga akan membantu melahapnya menjadikan storyboard sementara yang lain bersiap mewujudkan dalam visual video indah. Maka pantaslah aku bermetamorfosis menjadi seorang Produser. Dan itu butuh waktu lama untuk benar-benar matang. Ah, bahagianya menjadi suatu bagian habitat yang solid itu. Sayang, tak cukup bertahan lama. Satu per satu ikan-ikan kecil melompat ke habitat barunya, meninggalkanku. Kulihat, selain datangnya satu kesempatan, ikan-ikan kecil itu juga tak tahan iming-iming pundi emas. Toh mereka bebas memutuskan untuk dirinya sendiri. Sementara aku masih teramat sayang untuk meninggalkan habitat lamaku lantaran banyak kemudahan yang bisa kudapat disini. Kubiarkan aku hanyut dalam aliran yang tenang, yang tak satu pun muncul riak yang mengganggu. Tetapi kadang aku sadar tengah Mengalir bersama kecemasan yang sesekali muncul.

Panggil aku Mami.
Aku punya kelebihan untuk memainkan naluri kewanitaanku. Itulah sebabnya ikan-ikan kecil itu memanggilku Mami. Otak yang tak tercuci pasti akan mengira sebuah konotasi negatif pada kata Mami. Toh aku tak terngganggu dengan prasangka itu sebagaimana mereka juga tak pernah terganggu oleh sepak terjangku sebagai Mami bagi ikan-ikan kecilku. Sungguh, betapa senangnya aku bisa memeluk ikan-ikan kecil itu dengan sirip emasku, mendengarkan celoteh mereka yang berbuih-buih itu sambil menenangkannya ketika mereka merengek. Sebaliknya ikan-ikan kecil yang menjadi sahabatku itu, juga mengajakku bemain-bermain dalam dunianya, seolah aku seusianya. Padahal di rumah tengah aku titipkan 2 baby fish-ku pada Daddy-ku yang setia.

Aku punya kelebihan untuk memainkan naluri kewanitaanku. Kadang kumanfaatkan pula untuk menakhlukkan ikan-ikan buas pengganggu kelancaran pekerjaan. Tapi toh aku tetap menjaga martabat hidupku. Kepongahan birokrasi rupanya bisa lunak oleh kelembutan wanita. Maka saat seperti inilah insting sangat efektif menjadi senjata pamungkas. Memang betul, kalau segala pendekatan sudah tak mampu menjadi solusi, maka serahkan saja padaku, biarkanku akan memainkan naluri kewanitaanku.

Aku punya kelebihan untuk memainkan naluri kewanitaanku. Itulah sebabnya pada departemen aku bekerja, urusan rumah tangga seolah butuh sentuhanku. Ah, betapa sibuknya kalau sudah mulai urusan makan dan mencari tempat makan. Ikan-ikan kecilku itu maunya makan yang enak. Yah bolehlah! Mereka memang pantas diganjar dengan asupan yang lezat dan bergizi sebagai penyeimbang kesibukan mereka di ruang edit. Ruang yang mirip akuarium, yang tak akan menhempaskan mereka keluar sebelum pekerjaannya benar-benar selesai. Sebelum beberapa mata melototinya sambil berujar “good job”. Maka buat ikan-ikan kecilku itu kadang kubawakan macaroni schottel, spaghetti atau apa saja masakan yang kuracik dari rumah.

Ikan-ikan kecilku itu juga kadang banyak tingkah. Aku dipaksa-paksa harus beracting sesuai karakter Mami. Untungnya aku baik! untungnya pula aku senang beracting. Kuturuti ikan-ikan kecil itu menyeretku di depan kamera. Ah, baru tahulah Anda kalau kami terbiasa dengan multi tasking. Merangkap-rangkap pekerjaan karena memang kami punya banyak kelebihan. Bahkan juga urusan-urusan mendandani para talent saat syuting, tetaplah seorang Mami yang harus menangani. Tentu, Sibuklah aku dengan naluri kewanitaanku. Maka biarlah mereka memanggilku Mami. Itulah panggilan sayang untukku. Panggil aku Mami.

Namaku Sofi Febrianti
Sudah sangat lama aku terdampar di karang SCTV. Sesekali kusadar bahwa aku belumlah sampai pada hulu kehidupanku. Aku ingin berenang lagi, menyelami aliran yang terus mengalir yang siap membawaku hingga ke hulu nun jauh di sana. Meninggalkan ikan-ikan kecil yang masih asyik bermain air di karang ini. Sungguh berat memang karena aku begitu sayang dengan ikan-ikan kecil itu. Tapi toh akan selalu ada kesempatan untuk bermain bersama lagi, melompat-lompat sambil memercikkan air, saling berebut umpan untuk kemudian berbagi. Time is up. Waktunya Menimggalkan ikan-ikan kecil itu untuk menjemput dua baby fish-ku yang justru seringkali kutinggalkan di rumah. Kini kupilih menghabiskan waktuku bersama dua baby fish-ku yang mulai butuh perhatian. Tapi toh akan selalu ada waktu untuk bermain bersama ikan-ikan kecil yang mereka akan merindukanku, karena memang mereka sudah mengenalku betul, seorang Sofi Febrianti. Ya, namaku Sofi Febrianti.

4 Comments

  1. indah namun sedih. tanpa dikatakan dan dituliskan tersirat perpisahan. Mbak sofi, mami, mungkin di atara ikan – ikan kecil itu aku hanyalah sebuah telur yang belum dibuahi, tapi sungguh kehangatan peranmu di karang ini sudah bisa kurasakan. jemput 2 baby fishmu dan buih-buh terimakasih mengantarmu sampai tujuan.

  2. Maaf ya kalau tulisan ini membangkitkan gairah sedih. Cerita indah masa lalu ternyata adalah luka dalam yang menganga jika tak bisa kita ulangi …. Oh, semoga kesempatan itu datang lagi. Merangkai cerita indah bersama … Selamat jalan, kawan!

  3. Tulisan yang indah dan menyentuh…
    Juga memotivasi….
    Sense of heart tertata indah dalam setiap rangkaian kata-katanya…

    dan setelah membaca tulisan ini, saya sedikit mengetahui sosok dari seorang mbak sofi…

    • Terima kasih Anniza. Semoga tulisan ini selain bermanfaat untuk Mbak Sofie sebagai kawan baik saya, juga memberi manfaat untuk yang lain. Setidaknya dirimu juga termotivasi bahwa butuh waktu panjang untuk menjalani proses pencarian diri.

      Silakan Anniza berkenalan langsung dengan Mbak Sofie, gali ilmu dari beliau … Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: