MADARASAH

Lulus TK, aku pandai bernyanyi
Lulus SD, aku pintar berhitung
Lulus SMP, aku terampil bercerita
lulus SMA, aku tangkas berdebat
Lulus kuliah, aku menguasai dunia

Setiap melalui satu jenjang pendidikan, kita sudah bertambah wawasan. Ada banyak hal yang didapat hingga di akhir fase belajar itu kita sudah mampu menembus jendela ilmu dunia. Semua kita bisa, dari hafalan rumus paling pelik hingga berfilsafat menyusun bangun kata yang indah dan bermakna. Kita begitu bersungguh-sungguh karena termotivasi oleh keinginan untuk lebih siap membuka pintu masa depan agar tak teperosok pada kamar kesengsaraan. Sekolah seolah sebuah pondasi kehidupan yang kokoh.

Grafik kemajuan secara intelektual menjadi ukuran bagi murid yang berhasil meski kita juga akan mendapati bahwasanya ada juga murid yang gagal. Raportnya merah merana yang mengundang rona sedih kala memandang. Hasil akhir ini sangat berbanding lurus dengan kesungguhan mereka di dalam kelas.

Itu sekedar gambaran sebuah sekolah yang formal normatif. Sebuah tempat untuk menambah ilmu dan mencatat prestasi. Banyak ulama besar yang menyebut ramadan juga sebagai sebuah sekolah yang dalam bahasa Arab disebut madasarah.

Maka pada bulan ramadan kita adalah seorang murid yang diberi kesempatan untuk mencatatkan berbagai prestasi dengan meraih keutamaan ramadan. Ada uji kesabaran. Ada pahala yang dilipatgandakan dan juga ada malam lailatul qodhar yang mengganjar kita seukuran ibadah seribu bulan. Tetapi sungguh malu kita ini, sudah berapa kali kelas ramadan yang diikuti, namun tak banyak prestasi yang kita catatkan. Kita hanya lewati ramadan itu dengan fisik lapar dan dahaga sebagaimana disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad 2/373 dengan sanad jayyid.

Lulus dari madarasah ramadan tetapi tidaklah bertambah keimanan dan tidak menjadi lebih baik dalam pandangan Allah azza wa jalla. Kita mengalami wanprestasi. Katakanlah miskin prestasi. Kalau saya juga mau jujur pada diri sendiri, malu rasanya untuk mengakui apakah punya raport bagus dari madasarah ramadan tahun-tahun lalu. Harus saya katakan raport saya dan Anda terhias warna merah.

Pengakuan yang jujur ini sesungguhnya bisa menjadi pemacu motivasi kita, agar ramadan tahun ini kita bersungguh-sungguh menanamkan cita-cita besar untuk membuat prestasi terbaik di madarasah Ramadan 1432 H nanti. Senyampang kita punya kesempatan, semoga bisa memanfaatkan dengan baik. Insya Allah. Tidakkah kita malu pada imam Syafi’i yang dalam biografinya tercatat mengkhatamkan Alqur’an sebanyak 60 kali di bulan ramadan?

Berpuluh ramadan kulewati
Kuingin Ramadan tahun ini
adalah Ramadan terindah
yang mengangkat popularitasku pada penghuni langit
dan prestasiku dimata Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Marhaban Yaa Ramadan.

Barakallahu fikum

2 Comments

  1. Lalu bagaimana supaya kita bisa lulus dgn nilai baik?

    • Lulus dengan nilai baik berarti berprestasi. Berprestasi bisa diperroleh apabila kita menjalankan agama dengan benar: memurnikan tauhid ( jangan sirik ) dan hidupkan sunnah ( tinggalkan bid’ah ) serta taat ( jangan bermaksiat ). Insya Allah, Akhi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: