SELAMAT DATANG !

Sebagai sambutan hangat pada tamu yang datang, setiap hotel menawarkan welcome drink. Sebuah reportoar kehangatan dibalik strategi marketing yang memposisikan tamu sebagai seorang raja yang harus diservice dengan baik. Toh tamu-tamu hotel bukanlah musafir yang kehausan di tengah jalan. Justru tamu-tamu hotel itu adalah pemilik mobil mewah atau mereka yang mendapatkan fasilitas hotel saat menjalankan tugas kantor di luar kota. Maka, tentu penyambutan ala welcome drink ini berpamrih agar tamu terjejali image positif terus terkesan sehingga mau datang kembali untuk check in di lain waktu.

Saat kita memasuki sebuah kota hampir selalu melintasi gerbang selamat datang dengan berbagai design khas yang mewakili karakter masing-masing kota. Jakarta punya Tugu Selamat Datang yang seolah mempersilakan kaum urban untuk menjadikan Jakarta seperti rumahnya sendiri. Make yourself at home. Sungguh sebuah kota yang terbalut keramahan meski artifisial karena begitu kita menusuk ke dalam jantung kota yang menyapa justru adalah tindak kejahatan dan aksi kekerasan disana sini bahkan hingga pelosok gang tikus.

Untuk orientasi bisnis, sambutan selamat datang itu menjadi komoditi yang dikemas rapi dalam strategi marketing. Tak ada ketulusan karena ada target di balik itu. Serba memperhitungkan untuk rugi. Bahkan kalau bisa dengan umpan yang kecil kail itu bisa menjerat ikan paling besar. Sungguh berbeda sekali dengan apa yang saya lihat di sebuah sekolah yang berada persis di perempatan Jejeran – Imogiri. Seorang guru dengan senyum indahnya berdiri di gerbang sekolah untuk menyalami satu per satu siswa yang datang. O ya? Ah ngapain sih pak guru itu mau capek-capek membuang waktu untuk menyambut anak didiknya? Bukankah lebih enak ngopi di ruang guru sambil ngobrol ngalur ngidul seperti yang banyak dilakukan orang.

Pak guru tersebut sesungguhnya sangat memahami perkembangan psikologi buat anak-anak didiknya. Sambutan yang hangat itu adalah ejawantah 3S ( senyum, sapa, salam ) yang pada tahap berikutnya akan menumbuhkan rasa ketenangan, kehidupan dan keselamatan. Nyaris kita sendiri tidak merasakan sebuah “kehidupan” dalam setiap interaksi sosial. Jiwa-jiwa kita “mati” terpasung pusara kesombongan yang setiap hari ditaburi bunga-bunga kecurigaan, disirami air keruh problema kehidupan. Jadilah kita manusia robot yang tumbuh kembang dalam koloni paling egois yang tak memiliki nurani. Cuek bebek tak mau peduli keadaan orang lain. Ukuran hidup hanya pada kepentingan diri sendiri.

Sambutan hangat pak guru tadi tentu akan meluruhkan gundah gulana murid-muridnya yang turut terbawa dari rumah. Senyum pak guru menjadi pembuka jalan untuk memulai hari yang indah. Terima kasih untuk pak guru yang berdiri di gerbang Sekolah Dasar Jejeran Imogiri, jasamu tak akan terlupa oleh anak-anak didikmu. Benar adanya kalau engkau adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Yuk mari kita sebarkan Senyum, Sapa dan Salam meneladani pak guru tadi. Dan rasakan damainya bumi dimana kita berpijak.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: