SURAU

Akhir Juni 2011 awak dalam rantau ke ranah Melayu bersama keluarga. Keelokan alam, keramahan budaya sungguh menjemput rasa takjub. Tak cukup cakap buat memuji. Tak apalah, toh hati sudah tertambat temali cinta pada negeri makmur yang kental dengan rona Islami.

Negeri makmur memang pantaslah dibilang. Manakala awak ke surau ( yang dahulu disebut dalam cerita-cerita berdinding papan beralas tikar di tepi dangau bercahaya sinar lampu minyak ) tapi sekarang surau di dekat rumah sudah teramat modern beralas karpet lembut bersih, terhembus udara berpendingin meski juga masih tertempel kipas angin di sekililingnya, tentu tak hendak berpeluh selepas sholat buat orang tambun seperti awak. Sejuk betul. Sayangnya surau yang nyaman itu tak berdaya menarik hati jamaah sholat. Speaker TOA yang terarah ke empat penjuru, tak mampu menembus pendengaran jamaah lewat adzan sang muadzin.

Surau tetaplah senyap. Subuh, Dzuhur dan Ashar cuma dikunjungi lima sampai delapan jamaah, belumlah setengah dari panjang shaff jikalau mereka berbaris. Entah kemana perginya para tetangga, tak juga mereka beranjak, bergegas bertolak ke surau manakala adzan berkumandang. Kiranya tak mungkinlah dakwah belum tersampaikan semisal dalil orang buta yang tetap diperintahkan Rasulullah ke masjid ketika dirinya masih mendengar adzan.

Herannya, bersamaan itu, ketika merayakan Isra Miraj yang tertulis di almanak tanggal 29 Juni 2011, betapa sibuknya mereka dengan berbagai acara. Mengakunya wujud cinta pada Rasul. Alamakkk …cinta yang mana pula, hah?

Maka marilah mereview kembali kemantapan iman kita. Wujud cinta Rasul adalah dengan melaksanakan apa-apa yang dicinta Rasul dan menjauhi perkara-perkara yang dibenci Rasul. Tak pernah ada perintah agama untuk merayakan Maulid, Isra Miraj dan semacamnya. Kalaulah perayaan itu baik dan ada perintanhnya, tentu para Sahabat sudah terlebih dahulu melakukan. Lantas di kitab manakah kita diperintahkan untuk bersibuk ria memperingati Isra Miraj ? Cakapkanlah pada awak jika jumpa kitab dan dalil shahih dimaksud. Pesan awak, janganlah mengada-ada, apalagi berbual-bual. Bisa tak selamatlah dikau di akherat kelak!

Rona islami sayangnya memang sebatas membalut keindahan budaya. Bersamaan itu pula tanpa disadari justru makin menjauhkan akidah islam di hati kita. Kita sibuk dengan simbol-simbol islami pada ragam budaya, tetapi tak pernah sibuk untuk memperbaiki cara wudlu, sholat sebagaimana sifat wudlu dan sholat Nabi. Kita menumpuk majalah yang terbit rutin tiap minggu, tetapi untuk sekali membeli buku Sifat Sholat Nabi yang disusun ulama besar karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani tak juga kunjung terfikir. Ibarat kita minta surga, tapi tak juga mau mendekat jalan menuju surga. Mau lewat mana, kita ?

Surau, langgar, musholla dan masjid adalah rumah Allah azza wa jalla. Tentu, cuma mereka yang menjadi tamu-Nya yang berkesempatan untuk dimuliakan-Nya. Tidakkah dikau mau?

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: