BERKAH

Begitu dekatnya kata-kata “berkah” dalam kehidupan ini. Nyaris setiap urusan berkaitan dengan rejeki, kita mengiringinya dengan doa permohonan keberkahan. Sampai-sampai untuk lancarnya laju roda kehidupan, ada kelompok masyarakat yang menghidupkan tradisi ngalap berkah untuk ditujukan pada Sang Gaib yang mereka yakini. Bersamaan itu, dalam pemahaman yang lain mereka juga mempercayai ( beriman ) pada Tuhan yang menciptakan alam semesta. Ah, betapa jumbuhnya spiritualitas mereka sekaligus menjadi penanda bahwa lemahnya akidah yang membentengi dasar beragama. Dan disitulah sebuah praktik kesyirikan tengah merasuk dalam sendi kehidupan, sebuah ritual pengagungan kepada selain Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Larung sesaji, ngruwat bumi, ngumbah gaman bisa menjadi beberapa contoh ritual yang terkait pada waktu-waktu tertentu. Atau ritual lain yang meminta keberkahan pada para wali dan orang-orang shalih yang sudah meninggal, yang dilakukan kapan saja saat melakukan ziarah. Meski di makam-makam itu mereka beribadah kepada Allah, sungguh sangat tidak dibenarkan dalam syariat agama. Mereka menganggap wali dan orang shalih itu adalah wasilah tetapi dalil mana yang patut digunakan untuk menguatkan kebenaran itu. Sungguh ini adalah perkara yang dilebih-lebihkan terhadap orang-orang shalih yang telah meninggal. Apakah kita akan mengulang kebodohan yang terjadi di jaman Nabi Nuh Alahi Salam yang merupakan awal sejarah praktik kesyirikan. Ketika orang-orang shalih di jaman Nabi Nuh meninggal, setan membisiki umat itu untuk membuatkan patung-patungnya dan diletakkan dalam majelis yang mereka datangi. Maka manakala ilmu telah dicabut dan umat berganti dengan generasi berikutnya, lihatlah bahwa patung-patung itu akhirnya berubah menjadi berhala sesembahan.

Maka kita hendaklah berhati-hati terhadap tempat tertentu yang menjadi petilasan orang-orang shalih. Bahkan kalau bukan menjadi syariat, tempat tertentu yang pernah disinggahi Rasulullah Shallallahu wa Alaihi Wassallam pun sengaja dimusnahkan agar tidak dipuja-puja oleh umatnya. Khalifah Umar bin Khaththab dengan tegas menebang sebuah pohon di tempat para sahabat membaiat Rasulullah ( dikenal dengan Syajaratur-Ridhwan ). Alasannya, karena banyak manusia melakukan shalat di bawah pohon itu. Umar Radhiyallahu ‘anhu mengkhawatirkan timbulnya fitnah (kesyirikan) seiring dengan perjalanan waktu.

Kalau kemudian kita mengharap berkah di tempat tertentu seperti Masjidil-Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha, tentu sangatlah diperbolehkan karena shalat di tiga masjid tersebut mendapatkan keutamaan. Diriwayatkan dengan shahih dari Nabi Shallallahu wa Alaihi Wassallam, beliau bersabda, “ Tidak boleh melakukan perjalanan jauh ( yakni berziarah ) kecuali ke tiga masjid: Masjid ini, Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsha.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Berkah ( barakah ) berarti banyak, bertambah, dan berkesinambungan kebaikan. Upaya mencari keberkahan itu disebut tabarruk. Lantas bagaimanakah supaya keberkahan itu menetes dalam kehidupan kita? Sungguh, Allah Azza wa Jalla sudah memberi jalan bagi hambanya yang ingin meraup keberkahan. Maka bukalah Al Qur’an surat Al A’raaf ayat 96: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. Sangat jelas bahwa syarat keberkahan akan turun apabila kita beriman dan bertaqwa. Bagaimana mungkin keberkahan akan tercurah apabila kita masih melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah, yaitu berbuat syirik, yang berarti bahwa kita belumlah beriman dan bertaqwa. Sebaliknya, justru siksa Allah yang pedih akan terkena pada kita.

Dalam surat lainnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menunjukkan cara bagaimana ngalap berkah yang diridloi-Nya, yaitu dengan beramal shalih sebagaimana tertuang dalam Qur’an Surat An-Nuur ayat 55.

Jalan keselamatan bagi Anda yang senantiasa berikhtiar ngalap berkah dengan cara-cara yang Allah sukai, karena keberkahan itu hanyalah Allah yang memberikan, sebagaimana dijelaskan dalam shahih al-Bukhari, dari Nabi Shallallahu wa Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Keberkahan itu berasal dari Allah”. Ngalap berkah? Siapa takut …

Barakallahu fikum.

*berbagai sumber*

3 Comments

  1. Anonymous

    Naudzubillah…
    Semoga kita semua tidak termasuk orang yang menghidupkan tradisi ngalap berkah,,
    Amien…

  2. Naudzubillah…
    Semoga kita semua tidak termasuk orang yang menghidupkan tradisi ngalap berkah,,
    Amien…

    • Bagi yang tauhid-nya sudah mantap, insya Allah tak terjerumus dalam tradisi itu, Mbak Tyas. Makanya jangan bosan-bosan mengaji ilmu tauhid. Semoga Allah merahmati panjenengan. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: