ISTIQAMAH

Mengapa saya gampang merasa khawatir ?
Mengapa orang mudah menjadi sedih?
Mengapa kita cenderung gelisah?

Ternyata kunci munculnya semua perasaan tak enak itu lantaran kita belum istiqamah. Dimanakah relevansinya?

Kalau sudah terkungkung problematika, seseorang seringkali berada pada situasi sedih, gelisah dan khawatir. Alangkah tenangnya kalau kemudian ada seorang motivator sekelas Mario Teguh yang kemudian mendengar masalah kita lalu berbagi nasihat kebaikan sehingga mental kita kembali utuh setelah diporakporandakan badai masalah yang menghujam. Masalahnya, berapa biaya konsultasi yang harus dikeluarkan untuk sebuah jasa seorang motivator, apalagi sekelas Bapak Mario Teguh yang punya berjuta jurus kata penyemangat untuk mengokohkan pribadi yang limbung. Kalau selanjutnya memang itu terjadi pada Anda, maka saya sarankan untuk sejenak memperbaiki diri dengan membuka Al Qur’an Surat Al Fush-shilat ayat 30. Maka kita akan menemukan janji Allah kepada orang yang istiqamah. Sesungguhnya Allah azza wa jalla akan perintahkan malaikat rahmat untuk mengiringi orang-orang yang yang berjalan di muka bumi ini dengan membisikkan kekuatan dan motivasi: jangan kau sedih, jangan kau merasa khawatir dan sesungguhnya itu kamu akan diberi kabar gembira dengan surga.

Subhanallah. Betapa cintanya Allah kepada orang-orang yang istiqamah. Tak cuma seorang motivator yang dikirimkan kepada Anda, tetapi jauh lebih dari itu, yaitu seorang malaikat rahmat dan itu semua gratis, kawan!

Istiqamah memang pekerjaan berat yang harus kita upayakan. Istiqamah tidak akan didapat oleh orang-orang yang jauh dari dari titian jalan menuju kampung akherat. Betapa banyak orang yang masih memilih dunia yang sebenarnya cuma rumah singgah dan lalai dengan rumah abadi yang hanya menyediakan dua pilihan, surga dan neraka. Bagaimana mungkin orang masih suka dengan tabiat maksiat padahal Allah telah menjanjikan tentang surga. Maka marilah kita ambil pelajaran yang baik dari pemahaman istiqomah. Ibnu Taimiyyah mengatakan perkara pertolongan yang diberikan Allah bukanlah soal harta atau materi. Perkara yang jauh lebih besar dari itu adalah ketika seorang hamba diberi keistiqamahan. Itulah pertolongan terindah yang Allah anugerahkan kepada hamba pilihannya. Semoga kita termasuk dalam hamba pilihan Allah yang hati kita dihiasi dengan ornamen cantik keistiqomahan.

Maka jelaslah bahwa istiqomah adalah karunia Allah. Demikianlah yang juga dikatakan oleh Syaikh Prof.Dr.Abdur Rozzaq bin Abdul muhsin Al Badr Hafidzohumallah dalam kajian live dari Madinah yang diperdengarkan Radio Rodja 756 AM. Hakikat istiqamah adalah mengikuti jalan dan petunjuk Allah Ta’ala. Hadits ke-21 dalam hadits arba’in, berisi tentang sikap istiqomah seorang muslim. Dari Abu Sufyan bin Abdullah Radhiyallahu Anhu yang berkata, aku berkata, Wahai Rasulullah, katakana kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanya kepada orang lain selain engkau. “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Katakan, ‘Aku beriman kepada Allah,’kemudian istiqamahlah” (HR. Muslim no. 38 ).

Bagaimana sih kemudian cara untuk mengupayakan istiqamah? Maka disinilah pentingnya pembentukan karakter sejak dini. Kepada anak-anak kita, marilah senantiasa kita biasakan untuk bersama-sama saling memperdengarkan bacaan Al Qur’an. Bukankah Al Qur’an adalah akhlak Rasulullah. Tentu sikap istiqamah tak akan didapat oleh orang-orang yang jauh dari Qur’an. Pembiasaan memperdengakan bacaan Al Qur’an juga akan menyingkirkan hawa nafsu yang menempel dalam hati dan fikiran manusia. Bahwa fitnah hawa nafsu inilah yang sangat potensial memalingkan kita dari istiqamah.

Cara lainnya agar kita selalu istiqamah adalah membaca dan meneladani kehidupan orang-orang shalih sebelum kita. Para salafus shalih sungguh tak akan melepas waktunya tanpa dzikir kepada Allah sebagai bukti iman dan beriman. Bila sekejap saja lupa berdzikir, mereka merasakannya sebagai kerugian yang nyata. Maka jangan heran apabila seorang Thawus ibnu Kisan Al Yamany mampu melakukan shalat subuh dengan wudlu shalat Isya selama empat puluh tahun. Sedangkan kita betapa seringnya melewatkan waktu-waktu malam hanya sebagai “bangkai “ yang berharap diberi kesempatan menghirup nafas kembali di pagi hari. Sepertiga malam yang memiliki keutamaan dikabulkannya segala munajat doa, kita sia-siakan hanya dengan memperpanjang dengkur tidur lantaran kelelahan memburu dunia di siang hari.

Semoga kita tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah dan senantiasa dibimbing Allah untuk menjadi hamba yang istiqamah.

Barakallahu fikum.

*berbagai sumber*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: