LIPUTAN 6 AWARDS: Inspirasi Bukan Sensasi

Ada banyak model karakter manusia di sekitar. Berdasar status dan perannya, eksistensi mereka saling melengkapi. Masing-masing dengan caranya sendiri mencoba mengaktulisasikan diri, memberi sumbang peran untuk kepentingan orang lain dengan menjadikan aktivitasnya itu sebagai sumber inspirasi.  Atau setidaknya untuk dirinya sendiri sekedar memancing sensasi.

Sensasi lebih bersifat aktivitas sesaat yang tiba-tiba menggemparkan. Sensasi bisa diterima lantaran adanya stagnasi keadaan, suasana monoton yang akhirnya menjadi ice breaker. Aksi Briptu Norman menjadi sensasi lantaran tak disangka-sangka seorang prajurit yang serba disiplin berani berekspresi bebas dalam seragam dinasnya. Dalam waktu singkat, popularitas Briptu Norman melambung dan keberuntungan berpihak kepadanya. Tentu saja keberuntungan ini tak mudah diikuti karena bersifat sensasional.

Pada lingkungan di mana kita tinggal, sesekali kita menjumpai seseorang yang secara konsisten memainkan perannya untuk berbagi manfaat bagi lingkungan sekitar. Tentu saja mereka ini adalah orang-orang biasa. Tetapi karena dedikasi yang sangat tinggi, maka perannya menjadi sangat luar biasa. Mereka tak pernah memikirkan untung rugi, meski kadang uang pun tak punya. Mereka tak memimpikan popularitas karena bukanlah itu yang menjadi tujuan. Gagasan yang diusungnya, diperkuat oleh komitmen dan sikap yang akhirnya menghasilkan karya nyata yang bermanfaat bagi semua orang sekaligus sanggup mengusung perubahan yang lebih baik.

Sungguh, amatlah malu kalau kemudian kita harus disandingkan dengan mereka. Tak ada apa-apanya yang sudah kita lakukan. Kita lebih sering mementingkan diri sendiri, masih terbelenggu ego diri yang tak mau berkorban. Kita masih melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Maka ketika kita mati, sesuatu itu akan terkubur bersama jazad kita. Sementara perubahan yang sudah dilakukan oleh orang-orang yang berdedikasi tinggi tadi, akan selalu terkenang meski dia tak lagi ada di dunia ini.

Liputan 6 lewat salah satu segmennya yang bertajuk “Sosok”, banyak mewartakan orang-orang istimewa yang telah melakukan banyak perubahan. Ketika orang berlomba dengan simbol kemewahan mobil, maka polusi dan kemacetan menjadi problema sosial yang membayangi. Perlahan tapi pasti, gerakan Bike to Work menyadarkan masyarakat untuk kembali lingkungan yang sehat. Sekarang ini, semakin banyak orang yang memilih bekerja dengan naik sepeda karena terbukti mengurangi masalah sosial kemacetan dan polusi, selain juga mengolahragakan pengendaranya. Nah, tak cuma anak-anak kita yang bersepeda, orang tua pun menjadi lebih gemar bersepeda, bahkan untuk ke kantor.

Atau lihatlah Kali Pesanggrahan Jakarta yang tak seorang pun peduli padanya. Maka ketika seorang H. Chaeruddin merasa terpanggil untuk memeliharanya, betapa banyak orang meragukan hasilnya. Bahkan tak jarang mengiranya “sudah gila”. Sekarang ini, siapa yang tak merasa nyaman memandang kali Pesanggrahan. Bertahun-tahun H. Chaeruddin mengembalikan fungsi dan manfaatnya, hingga berhasil menjadikan kali Pesanggrahan sebagai sebuah pendukung ekosistem yang sehat.

Banyak sudah pejuang lingkungan yang terekam dalam segmen Sosok di Liputan 6. Sosok-sosok yang telah melakukan perubahan yang karyanya telah menginspirasi kita semua sekaligus mengangkat harkat martabat sesama. Ketika SCTV memutuskan untuk mengapresiasi dengan memberikan penghargaan Liputan 6 Awards, tentu ini menjadi dukungan yang luar biasa bagi mereka. Memang sudah sepantasnya kiprah mereka mendapat perhargaan setinggi-tingginya. Tentu penilaian dan verifikasi tetap dilakukan berdasar kekuatan inspirasi yang mengilhami serta manfaat karya mereka bagi masyarakat.

Salut buat SCTV yang telah menyelenggarakan event Liputan 6 Awards sejak tahun 2010. Tentu kriteria yang telah ditetapkan tetap menjadi perhatian khusus. Karena tanpa kriteria yang tegas, maka anugerah semacam ini hanya akan menjadi kontra produktif. Bagaimana mungkin seorang Gayus masuk dalam nominasi peraih awards meski untuk kategori kontroversial, seperti yang sudah dilakukan oleh sebuah pemberitaan yang pertama dan terdepan beberapa waktu lalu. Keteladanan apa yang bisa diambil dari Gayus jika memang terbukti melakukan pelanggaran secara hukum? Semoga kemasan program yang telah disuguhkan oleh Liputan 6 Awards menjadi pembelajaran bersama para pengelola televisi untuk tidak sekedar menghadirkan me too program, tetapi secara konten memperhatikan manfaat perubahan yang bisa diambil oleh pemirsa. Kepada kreator program, silakan berhitung secara cermat dan bersaing secara sehat dalam mengkreasi program pilihan yang mampu mencerdaskan bangsa ini. Semoga karya-karya anda selalu menginpsirasi dan mengajak pemirsa untuk berkarya dengan hati. Wallahu a’lam.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: