ORANG TUA

Saya selalu menangis kalau teringat orang tua yang dua-duanya sudah meninggal (semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan beliau). Dalam hati masih mengganjal pertanyaan, apakah hak-hak beliau sudah saya tunaikan dengan benar kala beliau masih hidup. Tetapi toh sekarang ini saya masih punya kesempatan untuk berbakti pada mereka, meski sudah meninggal. Setidaknya saya masih mendoakan beliau, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda, “Apabila seorang hamba meninggal dunia, maka terputuslah amalnya darinya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya.”

Maka ketika Anda mendapati orang tua yang masih hidup, manfaatkanlah kesempatan yang Allah berikan kepada Anda untuk menambah bakti pada orang tua. Pintu surga Anda di tangan mereka, tinggal Anda minta kunci pintu itu dengan keridloannya. Pernah seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Saya ingin berjihad namun saya tidak mampu.” Beliau bertanya, “Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih hidup?” Dia menjawab, “Ibuku.” Beliau bersabda, “Temuilah Allah dengan berbakti kepadanya. Apabila kamu melakukan itu, maka kamu seperti orang yang berhaji, umrah dan berjihad. ” (HR. Abu Ya’la dan Ath-Thabrani di dalam al-Mu’jam ash Shaghir, 1/144).

Dalam kisah lain, seorang laki-laki datang keapada Rasulullah SAW lalu berkata, “Saya datang demi berbaiat kepadamu untuk berhijrah, namun saya meninggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.” Maka beliau bersabda,”Pulanglah kamu kepada mereka, lalu buatlah mereka tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka menangis.” (HR. Bukhari no.3004).

Betapa mudahnya pintu surga itu bisa kita raih, tetapi seringkali kita melalaikannya. Membiarkan orang tua kita yang sudah renta dalam kesepian, seolah tak ada lagi mutiara hati yang berbagi kilau padanya. Kecintaan kita pada istri dan anak ditambah kesibukkan pada pekerjaan seolah tak mampu menyisakan sedikit waktu untuk orang tua. Nun jauh di sana, orang tua kita tertatih-tatih sendiri menuju puskesmas untuk mengobati batuknya yang tak kunjung reda. Dalam dinginnya malam, orang tua kita cuma sanggup membayangkan lezatnya martabak telor yang dibaur acar mentimun. Orang tua kita tak hendak membelinya, karena khawatir tak cukup persediaan uang buat bayar rekening listrik. Jadi, kemana rejeki kita terbagi?

Cobalah kita petik keteladanan dari Zainal Abidin seorang yang berbakti kepada Ibunya, hingga suatu saat dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya engkau adalah orang yang sangat berbakti kepada Ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan satu piring bersamanya.” Maka dia menjawab, “Aku khawatir tanganku mendahuluinya mengambil sesuatu yang telah dilihat matanya, sehingga aku menjadi durhaka kepadanya.”

Lantaran baktinya kepada ibu, seorang tabi’in bernama Uwais al-Qarni diberi kemuliaan dimana setiap doanya dikabulkan. Bahkan Rasulullah menyarankan sahabat untuk meminta doa pada al-Qarni saat bertemu (HR. Muslim no. 2542).

Banyak ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan tentang wajibnya berbakti kepada orang tua. Satu di antaranya QS. Al-‘Ankabut ayat 8 yang artinya “Dan Kami wajibkan manusia untuk berbuat kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu unuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepadaKu-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Demikianlah bahwa berbakti kepada orang tua adalah sifat para Nabi. Dengan berbagai sifat mulianya, para Nabi yang dikisahkan di banyak ayat dalam Al Qur’an, adalah manusia pilihan yang bertaqwa kepada Allah dan berbakti kepada orang tua. QS. Maryam 12 – 14 menjelaskan baktinya Nabi Yahya kepada orang tuanya, sementara surat yang sama di ayat 30 – 34 tentang Nabi Isa yang diperintah untuk selalu berbakti pada Ibunya. Nabi Ismail, Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim juga disebutkan Al Qur’an sebagai sosok yang berbakti kepada orang tua.

Maka manfaatkan segala kesempatan yang kita miliki. Jangan pernah sia-siakan orang tua kita. Mari kita daki puncak keutamaan sebagai muslim dengan bakti itu. Tentu, sungguh merugi apabila kita mendapati orang tua masih hidup tetapi tidak meraih surga.

Barakallahu fikum.

( disarikan dari kitab Birr al-Walidain wa Tahrim Uquqihima karya Ghalib bin Sulaiman al-Harbi yang sudah diterjemahkan oleh penerbit Pustaka Darul Haq )

4 Comments

  1. surga di telapak kaki ibu mamang benar krn tuk mnuju surga harus berbakti pd ibu dan ALLOH alhamdulilah saya msh mempunyai kedua org tua jadi msh bisa brbkti,,,dan tak ingin mnyakiti

    • Semoga Anda memanfaatkan dengan benar kesempatan untuk berbakti pada orang tua dan Allah ridlo.

      Semoga Allah merahmati Anda dan keluarga.

      Salam.

  2. Anonymous

    Seorang anak terlahir ke dunia
    dirawat dan dibesarkan orang tua
    ketika dewasa ia pergi meninggalkan ayah bunda
    demi suatu apa
    dengan segenap ridho agar selamat Akhirat Dunia

    Bunda tak kuasa mencium, takut hatinya kan luka
    Ia Ikhlas namun tak rela
    tapi apa mau dikata
    itu kehendak anak tercinta

    rangkaian kata nasehat ini membuat saya tahu
    waktu itu air mata milik ibu
    namun tak sempat kembali lagi utk bertemu
    semoga Allah mengampuni khilafku

    • Doa kita untuk orang tua yang hanya mampu mengusap air mata bunda waktu itu dan kekhilafan kita. Jangan tinggalkan doa kita untuk beliau, dalam setiap hela nafas. Insya Allah.
      barakallahu fikum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: