GELIAT HANGAT PENONTON SINETRON

Bulan Mei 2011, satu lembaga survey telah melansir sebuah kabar bahwa penonton sinetron di Indonesia meningkat hingga 51%. Sebuah kenyataan yang sangat menyenangkan bagi pengelola televisi yang banyak menyuguhkan genre sinetron untuk program acaranya. Maka data dan fakta ini akan menjadi perhatian khusus bagi pengelola televisi yang menghadirkan acara berjenis feature yang dikemas dalam format magazine show sehingga perlu melakukan evaluasi konten. Bahwa program feature ini sesungguhnya sangat menarik dan informatif sehingga berpotensi menambah wawasan pada pemirsa ( selain juga menghibur tentunya ), tetapi mengapa justru kurang diminati? Bisa saja secara kemasan sudah mulai mengarahkan pemirsa pada titik “bosan”, sehingga perlu dilakukan maintance kemasan dan materi. Saya berharap program feature ini terus dipertahankan dan tidak tergoda untuk mengurangi slot penayangannya hanya lantaran ingin berebut pemirsa yang masih saja banyak terhipnotis hiburan sinetron.
Lalu, mengapa sinetron masih berkuasa menyedot perhatian pemirsa televisi? Ah, betapa lihainya para kreator sinetron mengemas cerita sampai-sampai pemirsanya tak hendak berkedip mata untuk takut kehilangan scene by scene yang terangkai. Atau bisa saja lantaran sinetron menjadi anak emas yang masih diberi tempat terhormat di prime time. Jelas saja penonton kebanyakan akan membidiknya. Jam keluarga yang diwarnai kelezatan hidangan hangat kisah sinetron.

Saya ingin mencoba membongkar resep dapur sinetron, mengapa kelezatannya makin menggiurkan pemirsanya. Bumbu pilihannya memang merasuk dalam racikan materi yang menyatu, sementara tungku api terus terjaga sehingga kehangatan sinetron dapat dipertahankan. Cobalah kita lihat Sinetron Islam KTP di SCTV yang tiba-tiba menghadirkan bintang sepak bola Christian Gonzales yang sedang dielu-elukan penggemarnya. Atau ujuk-ujuk Band Wali yang bejibun fansnya itu bergabung menjadi bintang tamu di Islam KTP. Inilah kekuatan sinetron stripping yang berkesempatan merubah jalan cerita sesuai dengan trend yang sedang mewabah di tengah pemirsanya, untuk mencuri hati dan perhatian. Racikan materi yang dibumbui bintang yang tengah menjadi top of mind pemirsanya. Jangan heran kalau tiba-tiba bintang orbitan sensasi You Tube juga menjadi penyedap rasa dalam sinetron. Ini resep pertama yang saya amati.
Resep kedua, pilihan pendekatan yang tak lagi pada romantisme percintaan antara pangeran yang kaya dengan nestapa si cantik yang hidupnya tersia-sia adaptasi telenovela dan cerita popular gaya Korea. Pendekatan yang saya maksud adalah pendekatan religi yang membumi seperti yang dilakukan oleh juru masak sinetron Pesantren & Rock n Roll dan Islam KTP. Kita masih ingat sinetron ramadhan Para Pencari Tuhan menemani pemirsa waktu sahur, ternyata sinetron religi tersebut meledak dan menjadi perbincangan banyak kalangan. Rupanya sinetron yang bertema religi-pun bisa menjadi breakthrough dan terus ditunggu-tunggu pemirsa televisi Indonesia. Maka peluang itu dimanfaatkan dengan baik oleh sinetron Islam KTP dan Pesantren & Rock N Roll yang tayang secara regular di luar ramadhan. Toh, sesungguhnya tayangan ini jauh lebih memberi “value” bagi penontonnya karena secara tak sadar mereka tengah mendapat pencerahan tentang suatu sikap atas persoalan dalam kacamata agama. Nilai-nilai inilah yang sangat berpotensi mengarahkan pemirsa pada penyikapan tentang persoalan yang ada di sekitarnya. Maka sangatlah masuk akal jika kemudian sientron religi seperti ini disukai pemirsa sinetron. Sinetron Para Pencari Tuhan telah membuktikan bahwa sampai pada sesi penayangan tahun ke-empat di tahun 2010, masih mampu memberikan hidangan cerita indah dan tak kehabisan ide untuk menukik ke dalam pesan-pesan yang agamis, dengan begitu natural. Tahun ini, kita tunggu saja racikan apa lagi yang bakal diramu oleh kreator sinetron Para Pencari Tuhan , yang pasti penonton bakal dibikin melek merem menikmati olahan cerita yang maknyus!

Di luar itu, jangan-jangan sebenarnya aura FTV yang banyak ekspose beauty shot dari berbagai daerah juga punya andil meningkatnya jumlah pemirsa sinetron? Bisa jadi. Karena FTV yang menyuguhkan cerita sekali habis itu punya genre yang sama dengan sinetron. Sangat mungkin pemirsa terbawa pada situasi yang menyenangkan saat menikmati FTV sehingga suasana hati itu terduplikasi pada saat menyaksikan sinetron. Barangkali saja.

Yang pasti, harapan pemirsa televisi Indonesia adalah bahwa kreator program televisi hendaknya tetap memperhatikan dampak social yang dimunculkan oleh suatu acara, termasuk sinetron. Sudah lewat masa-masa dimana pemirsa begitu mudah dibodohi lewat tayangan sinetron yang cuma menjual mimpi, tragedi hidup yang berkepanjangan sampai sang tokoh tersia-sia sepanjang hidupnya atau adegan berlebihan aksi penindasan tokoh miskin lewat intimidasi yang miris. Silakan creator program televisi memberikan pilihan melalui hasil karyanya dan biarkan masyarakat untuk menentukan pilihan terbaiknya. Begitulah yang disampaikan Garin Nugroho baru-baru ini. Semoga kotak televisi di rumah, tetap menjadi sahabat erat pemirsanya, dengan menyuguhkan hidangan yang bersahabat.

Barakallahu fikum.

3 Comments

  1. Christian BL

    mas Kar, ini ulasan yang ringan renyah. Ulasan yang juga membebaskan saya dan pembaca lainnya menggunakan rasa, logika dan naluri sendiri untuk mengeksekusi penilaian akhir terhadap topik yang menggeliat ini. Semoga kelak akan ada banyak lagi sinetron2 unggulan yang berdampak baik bagi pemirsanya ya mas..!

    • Hehehe … tak mengapa jikalau Bung Chris masih ingin memakai kacamata rasa, logika dan naluri untuk meneropong lebih dalam geliat sinetron di tanah air. tetap sah adanya. Yang menarik bahwa muncul kemasan baru di layar televisi sebuah program bertajuk Sinema Wajah Indonesia. Semoga program ini mampu menghembuskan nafas segar bagi tontonan yang indah dan sehat. Salam

  2. Dhani

    Sudah lama sekali saya tak pernah lagi menonton sinetron Indonesia yang makin lama makin menjamur di layar kaca, semenjak saya punya anak pertama yang mulai saya rasa mengkhawatirkan apabila mengambil banyak hal yang tidak seharusnya dia ambil di usia yang teramat dini. Saya tahu sekilas tentang sinetron Indonesia hanya sekilas ketika saya sedang memindahkan channel lain saat iklan-iklan yang juga sudah tidak mendidik berseliweran (berharap mengalihkan dari iklan eh malah tampak cuplikan adegan di sinetron yang benar2 terlihat kacangan dalam penyajian cerita maupun aktingnya)…:(
    Saya prihatin sekali ketika banyak sebagian orang, bahkan guru anak saya membicarakan tentang kelanjutan sebuah cerita di sinetron yang notebene sangat tidak pantas bila seorang guru (tanpa bermaksud menyudutkan profesi) melihat sinetron penuh trik dan intrik murahan yang jelas2 tidak ada manfaatnya sama sekali
    Maaf ya mas karianto bukan bermaksud tidak menghargai karya anak bangsa, tetapi bukankah bisa menghasilkan sinetron yang lebih bermutu, lebih mendidik dan bisa diambil manfaat positif dari tayangan tersebut tapi nyatanya industri televisi sekarang lebih mengedepankan bisnis dengan berlindung dibalik rating…menyedihkan😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: