ISTIKHARAH

Sering kita menghadapi dilema dalam suatu pilihan. Bingung harus memilih yang mana, sementara kita tak tahu letak kebaikan dan keburukan yang bakal menyertai pilihan itu. Betapa keadaan ini menampakkan keterbatasan kita sebagai manusia. Sungguh, manusia hanyalah makhluk yang lemah, yang membutuhkan pertolongan Allah Azza wa Jalla. Sangat celaka kalau sebuah pilihan justru disandarkan pada ramal meramal yang cuma diketahui dari suatu kerja mengira-kira dan terkadang juga mengandalkan wangsit, suatu arahan yang tak tahu dari mana munculnya. Padahal seringkali setelah menganggap wangsit itu turun, toh masih saja kita terkungkung dalam keraguan yang memusingkan.

Bukankah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sudah mencontohkan pada kita untuk melakukan shalat istikharah apabila menghadapi dilema dalam memilih? Dalil yang shahih perkara shalat istikharah adalah Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan istikharah kepada kami dalam (segala) urusan, sebagaimana beliau mengajari kami surat dari Al-Qur’an, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Jika salah seorang di antara kalian berkeinginan keras untuk melakukan sesuatu, maka hendaklah dia mengerjakan shalat dua rakaat di luar shalat wajib, dan hendaklah dia mengucapkan : (‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk kepada-Mu dengan ilmu-Mu, memohon ketetapan dengan kekuasan-Mu, dan aku memohon karunia-Mu yang sangat agung, karena sesungguhnya Engkau berkuasa sedang aku tidak kuasa sama sekali, Engkau mengetahui sedang aku tidak, dan Engkau Mahamengetahui segala yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (kemudian menyebutkan langsung urusan yang dimaksud) lebih baik bagi diriku dalam agama, kehidupan, dan akhir urusanku” –atau mengucapkan : “Baik dalam waktu dekat maupun yang akan datang-, maka tetapkanlah ia bagiku dan mudahkanlah ia untukku. Kemudian berikan berkah kepadaku dalam menjalankannya. Dan jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku dalam agama, kehidupan dan akhir urusanku” –atau mengucapkan: “Baik dalam waktu dekat maupun yang akan datang-, maka jauhkanlah urusan itu dariku dan jauhkan aku darinya, serta tetapkanlah yang baik itu bagiku di mana pun kebaikan itu berada, kemudian jadikanlah aku orang yang ridha dengan ketetapan tersebut), Beliau bersabda : “Hendaklah dia menyebutkan keperluannya” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

Hukum shalat istikharah adalah sunnah dan pendapat di kalangan para ulama menyepakati tentang hal ini. Asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz ketika ditanya tentang sifat shalat istikharah, maka beliau menjawab: “Dan tata caranya adalah shalat dua raka’at seperti shalat sunnah yang lain, membaca Al-Fatihah dalam setiap raka’at dan bacaan yang mudah dari Al Qur’an, kemudian berdoa.

Bahwa semudah itulah kita melakukan shalat istikharah apabila menghendaki kebaikan dalam satu hal, termasuk untuk perkara-perkara yang mubah ( diperbolehkan ) seperti pernikahan, perdagangan dan lainnya. Begitu pula istikharah juga berlaku untuk hal yang mandub ( dianjurkan ) jika terjadi pertentangan, bimbang antara dua perkara.
Semoga dengan melakukan istikharah, tercapai tujuan dalam menggabungkan kebaikan dunia dan akherat, serta menjauhkan keburukan dari sesuatu yang kita akan melangkah padanya. Tetapi perlu kita ingat pula pada Ibnul Hajj al-Maliki yang berkata: “menggabungkan antara istikharah dan musyawarah merupakan kesempurnaan dalam mengikuti sunnah.” Itu berarti bahwa selain melakukan istikharah kita disunnahkan pula untuk meminta pendapat pada orang lain, dengan syarat orang tersebut:

  • Memiliki akal sempurna dan juga pengalaman hidup.
  • Memiliki agama dam ketaqwaan yang mantap.
  • Seorang penasehat memiliki rasa kasih sayang.
  • Orang tersebut terbebas dari gundah gulana yang merisaukan dari kesedihan yang menyibukkan hatinya.
  • Tidak memiliki maksud-maksud tertentu.

Lebih dari segalanya, dengan melakukan shalat Istikharah maka berarti kita secara total telah menyerahkan diri terhadap pilihan Allah subhanahu wa ta’ala dan mengakui bahwa Allah maha mengetahui segala hal yang ghaib.

Setelah mengetahui kemuliaan sunnah menjalankan shalat istikharah, semoga kita tak lagi mengamalkan perkara lain yang sesungguhnya sering kita dibuat bingung dengan amalan yang justru tak jelas dalilnya, yaitu shalat hajat, sehingga kita ragu-ragu sendiri mau shalat hajat atau shalat istikharah. Sampai hari ini pun, saya belum mendapati dalil shahih tentang shalat hajat. Wallahu a’lam.

Barakallahu fikum.

( Disarikan dari kitab Shalat Istikharah karya Syaikh Abu Umar Abdillah al-Hamadi penerbit Darul Ilmi. )

3 Comments

  1. mantap om… buat tambah-tambah referensi

    salam kenal ya om, klo gak keberatan boleh nitip link ya om
    soelfaza.wordpress.com

    thx.

    • thx Soefah. Salam kenal juga. Senang berkenalan dengan dirimu. Semoga kita bisa tukar kabar dan ilmu. Tulisan-tulsan kamu juga bagus banget.

      salam

      • thx om… saya emang lagi belajar nih… senang sekali klo bisa mendapat masukan dari om yang sudah berpengalaman….. semoga sama-sama bisa mendapatkan manfaat.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: