PATUH

Merinding adalah moment tersentuhnya perasaan yang ditandai dengan berdiri bulu roma karena respon kita pada sesuatu. Kalau dulu saya sering merinding kala gelap dan sepi memagut dalam kesendirian, sekarang tentu tidak lagi. Alangkah naifnya mengingat kembali waktu terbirit-birit ketakutan pada bayangan setan yang sesungguhnya samasekali tak tertangkap oleh indera kita. Lah kita manusia yang diberi kemuliaan sebagai pemimpin di bumi Allah, kog malah takut sama setan yang jelas-jelas dilaknat. Maka ketika hari ini masih kita dapati teman-teman yang takut ke kamar mandi, takut di kamar sendirian semoga segera beristiqfar. Takutlah hanya kepada Allah dan bukan pada zat penciptaan-Nya. Inilah sikap khauf ( ya takut tadi ) yang memotivasi kita dalam melakukan sebuah amaliah. Mau berzinah, takut akan ancaman Allah, mau mencuri merinding mengingat siksa neraka.

Merinding yang lama tak kurasakan itu, kemarin tiba-tiba menyeruak kepermukaan diri. Bulu roma berdiri tetapi rona wajah dibalut senyum bangga. Rancu untuk sebuah ekspresi. Merinding tetapi bangga! Sebuah anomali tetapi sebentar lagi Anda akan memaklumi.

Jadi apa sebab saya merinding tadi? Semoga tak berlebihan, tetapi itulah yang saya rasakan ketika membaca kisah kepatuhan para shahabat kepada sunnah Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam saat terlibat dalam perang penakhlukkan Nahawand yang menjadi benteng terakhir Persia. Kronologis yang teramat heroik yang berbuhul kemenangan atas peperangan itu. Komandan pasukan Islam dipimpin oleh Nuqman bin Muqqarin. Segala komando tergantung padanya. Maka ketika itu siasat perang direncanakan dan disepakati bahwa tentara Persia hanya akan diserang atas aba-aba takbir 3 kali yang diteriakkan Sang Komandan Nuqman bin Muqqarin. Saat tentara Persia terus mendesak, perlawanan pun belum ditampakkan lantaran pasukan muslimin masih menunggu komando, meski lontaran panah tajam lawan melukai beberapa pasukan Islam. Inilah wujud kepatuhan kaum muslimin pada pemimpinnya.

Lantas mengapa Nuqman bin Muqqarin tak juga mengumandangkan takbir agar segera menghantam pasukan Persia yang sudah berada di titik bidik paling fokus itu? Matahari tengah terik bersinar persis di atas kepala. Nuqman bin Muqqarin berkata,

“ Tidak ada yang menahanku untuk menghabisi mereka kecuali satu hal yang aku saksikan dari Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam. Beliau bila berperang tidak memulainya di awal siang, tidak segera melakukannya sampai datang waktu shalat dan angin bertiup sehingga perang akan semakin indah. Tidak ada yang menahanku kecuali itu.”

Subhanallah. Di saat kondisi genting dan kritis dalam peperangan, kepatuhan pada sunnah tetap dikobarkan oleh sang komandan perang. Dan pasukan tetap patuh pada komandan. Keindahan akhlak yang tentu berbuah kemenangan. Dengarlah apa doa Nuqman bin Muqqarin sebelum menggerakkan pasukan menerjang lawan,

Ya Allah, muliakanlah agamu-Mu, bantulah hamba-hamba-Mu dan jadikan An-Nuqman sebagai orang pertama yang mati syahid hari ini dalam upaya memuliakan agama-Mu dan menolong hamba-Mu. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu untuk menjadikan mataku sejuk hari ini dengan kemenangan yang dengannya Islam akan jaya”.

Maka seluruh pasukan menangis. Mereka mengaminkan doa pemimpinnya dan Nuqman mendoakan semoga Allah merahmatimu semua. Nuqman dikenal sebagai seorang yang makbul doanya. Tentu, pasukan muslimin pun meyakini “kepergian” sang pemimpin perang itu sebentar lagi, selain juga meyakini doa itu sebagai pemicu bergeloranya semangat tempur.

Setelah waktunya tepat, Nuqman bin Muqqarin mengumandangkan takbir dan perang pun berkobar. Pasukan muslimin menerjang lawannya seperti burung rajawali menerjang buruannya, itulah yang dilukiskan oleh Ibnu Katsir. Kaum musyrikin yang tewas antara waktu zawal sampai gelap malam mencapai jumlah yang bisa memenuhi permukaan bumi dengan darah mereka. Kemenangan telah diberikan kepada pasukan muslimin meski akhirnya sang komandan Nuqman bin Muqqarin tersungkur oleh anak panah lawan. Beliau gugur dengan mata yang sejuk memandang kemenangan bendera Islam. Allah azza wa jalla telaha mengabulkan doanya!

Sungguh, saya merinding membayangkan kepatuhan pasukan muslimin sekaligus bangga (semoga Anda menjadi mahfum). Seperti itulah kepatuhan yang harusnya kita tampakkan. Ketika surat Al Maidah 90-91 turun yang mengharamkan khamr, betapa kota Madinah digenangi khamr yang ditumpahkan kaum muslimin sambil berseru, “Intahaina ya Allah!” (Kami telah menjauhinya, ya Allah!). Sebuah kepatuhan yang luar biasa, yaitu ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya tanpa reserve. Tak ada penolakan atau sekedar penawaran seperti yang kita biasakan, “Lagi tanggung! “ Teramat pintar kita berdalih.

Pun juga ketika turun surat An Nur ayat 31 yang memerintahkan untuk menurunkan kain kerudung hingga dada para wanita, seketika itu para suami mengabarkan isi perintah ayat itu kepada istri, anak-anak perempuannya dan saudara perempuan mereka. Segeralah mereka mengambil kain dan menutup aurat hingga seluruh tubuh. Kepatuhan yang kembali ditampakkan, tanpa banyak bertanya ini itu seperti sifat bani Israil sehingga mempersulit diri mereka sendiri.

Lantas apa jadinya jika kita membangkang pada perintah dan aturan yang disampaikan oleh Rasulullah? Betapa kita ingat pada kekalahan pasukan muslimin dalam perang Uhud. Karena ketidaktaatan pasukan pemanah pada perintah Nabi yang harusnya mereka berdiam di tempat, lantaran tergiur jebakan duniawi, pasukan pemanah ceroboh berlenggang meninggalkan posisinya dan … kekalahan itu pun harus diterima dengan menanggung korban yang tidak sedikit. Penyebabnya jelas, tidak patuh!

Maka, yuk mari bertekad akan selalu patuh atas segala perintah Allah dan Rasul-Nya. Sami’na wa atho’na. Jangan sekali-kali berfikir untuk sekedar mencoba-coba membangkang, karena kita tentu merinding membayangkan musibah besar yang harus kita hadapi. Sami’na wa atho’na adalah kunci keselamatan.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: