KANAN

Makan tentu bukan cuma perkara citarasa yang berawal di lidah dan kenyang yang berakhir di perut. Lebih dari itu makan adalah terminologi adab dan peradaban. Ketika berpayung pada peradaban, maka makan diatur sedemikian njlimet mulai cara duduk hingga pembedaan jenis sendok yang akan dipakai. Dalam kelas yang teramat mahal bernama table manner tatacara itu diperkenalkan bagi mereka yang akan memasuki dunia pesohor yang katanya sangat menjunjung tinggi norma dan etika. Segalanya diperlakukan serba resmi dan terkesan jumawa. Semata-mata berdalih untuk memposisikan diri sebagai manusia yang berbudaya. Maka bandingkan dengan arahan adab yang dalam Islam dirumuskan atas dasar kemuliaan bagi manusia. Bahwa kemuliaan itu telah tersampaikan hingga hari ini di timur hingga di barat oleh pembawa risalah Muhammad bin Abdullah. Telah diajarkan kalau makan dan minum hendaknya dengan tangan kanan sementara setan makhluk gaib terlaknat itu memakai tangan kirinya ( lihat pada HR. Muslim ). Ahh, jelas-jelas perintah itu menggunakan tangan kanan tetapi toh masih banyak di sekitar kita yang memakai tangan kiri, termasuk “bimbingan” yang didapat di kelas table manner itu. Sebuah kemuliaan telah kita sia-siakan dan sebaliknya kita justru mengikuti akhlak setan yang sesat itu. Apakah lantaran begitu nikmatnya kita menjilati citarasa makanan sampai-sampai menjahili diri sendiri. Tentu tidak, bukan!

Bukankah ketika kita mengulurkan sepotong kue pada anak selalu diiringi dengan himbauan memakan dengan tangan kanan? Sungguh, indah sekali ketika kita melihat siapa pun makan dengan tangan kanan. Lantas mengapa kita sendiri begitu angkuhnya menolak sebuah kebenaran yang tersampaikan pada kita. Sudah makannya dengan tangan kiri, sambil berdiri, lupa pula baca lafal “bismillah”! Ahh, lengkap sudah musibah besar itu. Kita lalai dan lalai terus menerus hingga tergerus dengan waktu sampai-sampai baru tersadar diri ini sudah begitu jauh meninggalkan sunnah-sunnah yang penuh cahaya kemuliaan.

Bagaimana pula saat kita berwudlu, memakai baju, memakai sepatu sandal, masuk dalam masjid hingga memandikan jenazah? Semua adab dalam melakukan aktivitas itu telah dicontohkan untuk memulai dari sebelah kanan dan semoga kita taat meneladaninya. Di akherat kelak cuma ada dua penggolongan seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an, yaitu golongan yang akan menerima kitabnya dari sebelah kanan ( QS. Al Haqqah ayat 19 ) dan mereka yang diberikan kitabnya dari sebelah kirinya ( QS. Al Haqqah ayat 25 ). Sudah pasti bahwa mereka yang menyambut kitabnya dengan tangan kanan itu adalah golongan yang memperoleh kebahagian abadi di akherat dan mereka yang terkelompok dari sisi kirinya … ahh, sudah tahulah Anda yang akan dialami mereka yang berkabung dan berkubang dalam penyesalan tak berujung.

Maka hari ini hendaklah kita jadikan titik balik mereview segala aktivitas kita, apakah memang sudah memilih dan memilah kapan kita menggunakan tangan kanan dan bilamana kita mengaktifkan tangan kiri. Ketika seseorang bertanya tentang arah dan kita akan menunjukkannya dengan tangan kiri, tentu akan di bilang tak sopan. Begitu juga saat mengulurkan pemberian dengan tangan kiri, tentu buru-buru kita akan menyertai dengan ucapan “maaf!”. Secara hubungan sosial, sudah disepakati bahwa tangan kanan jauh lebih bagus untuk berinteraksi dan itu sebatas kesepakatan etika yang tak tertulis. Kalaulah kita melanggarnya, tak ada hukuman yang bakal dijatuhkan, selain sanksi sosial. Sementara berbagai tuntunan Rasulullah Shalallahu wa alaihi wassalam yang sudah sampai di telinga kita adalah berita kebenaran yang sudah selayaknya kita berpegang teguh kepadanya, sejauh itu shahih, karena segala sesuatu yang disabdakan Rasulullah tidaklah berdasar hawa nafsu, tetapi atas perintah Allah Tabaaraka wa Ta’ala ( baca kembali QS. An-Najm: 3-4 ).

Dari satu kisah yang kita temukan dalam kitab Riyadhush Shalihin hadits no. 159 disebutkan akibat keengganan seseorang mengikuti dan mengamalkan sunnah, yang secara khusus menjelaskan bahwa makan dengan tangan kiri tanpa alasan yang dibenarkan adalah haram. Mengerikan sekali! Adapun salinan bunyi haditsnya adalah dari Abu Muslim, ada pula yang mengatakan, Abu Iyas Salamah bin ‘Amr bin Al-Akwa RA, bahwasanya ada seseorag yang makan di sisi Rasulullah SAW dengan menggunakan tangan kirinya, maka beliau bersabda: “ Makanlah dengan tangan kananmu.” “Aku tidak bisa,” jawab orang itu. Beliau pun mengatakan: “Kamu tidak akan pernah bisa.” Tidak ada yang menghalanginya menggunakan tangan kanan kecuali kesombongan. Akhirnya orang itu tidak dapat mengangkat tangannya itu ke mulutnya. (HR. Muslim).

Semoga kita selalu mendapat hidayah untuk mengikuti kemuliaan sunnah yang sungguh akan memancarkan keindahan dalam hidup dan kehidupan kita.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: