AYAH

Pagi ini tiba-tiba aku menangis sendiri. Mamanya lagi antar Kak Ais sekolah ditemani Diva. Aku berkesempatan membuka pengumuman kelulusan tes masuk sekolah Kak Ais di Pesantren Al Kahfi Sukabumi. Agak deg-degan lantaran mengukur kualifikasi Kak Ais apakah mampu untuk menembus persaingan yang lumayan ketat. Dari 600 pendaftar, hanya diterima 200 orang. Rasionya satu peserta menjegal 3 lainnya untuk berhasil menembus tembok persaingan. Meski sebenarnya sejak awal aku tak mematok target harus diterima. Sepenuhnya aku serahkan pada kemampuan dan persiapan Kak Ais sendiri. Maka deg-degan hati kian mengencang manakala merunut daftar nama-nama kelulusan peserta lewat internet. Satu per satu nama ku-grab dan persis pada baris terbawah kudapati nama yang teramat sangat kukenal: WAN SALSABILA ASTIKA FARIZY.

Deg-degan yang tadinya mengencang kini turun drastis dalam kelegaan yang lapang. Tetapi … oh my god! … kenapa pipiku yang sekarang terasa dingin membasah dialiri buliran dan tetesan benda cair. Oh, aku meradang dalam sensitivitas perasaan yang bakal harus melepas kepergian Kak Ais untuk membangun kemandirian, selain untuk memantapkan keilmuan dan pemahaman agama di pesantren Al Kahfi – Sukabumi. Ah, kenapa hatiku jadi bergetar meski aku tak bilang goyah. Kemarinnya kemarin ketika seseorang mengatakan berat untuk melepas seorang anak pergi ke pesantren, nyatanya aku dengan tenang bisa meyakinkan bahwa itu pilihan yang harus dilakukan untuk pembekalan pada anak menghadapi tantangan jamannya yang teramat ngeri. Di jalanan aku sering lihat anak dengan seragam SMP sudah “tampil gagah” merokok! Di ruas jalan berikutnya anak SMP bonceng cewek naik motor! Huff, apa yang bisa kita lakukan untuk anak kita jika kenyataannya seperti itu. Membiarkannya masuk dalam labirin hidup yang menakutkan sampai dia merasa mau diolok-olok temannya jika tak merokok, dikotak-kotak jika tak ikut tawuran dan diobok-obok kalau tak ikut mengejar mobil bak untuk nebeng rame-rame. Cari-cari tahu, rupanya ada loh ayah yang tak berani menegur anaknya yang ketahuan merokok, lantaran sang ayah juga masih terikat dan terpikat barang subhat itu yang oleh Taufik Ismail dilukiskan dalam puisinya yang indah dengan nama Tuhan Sepuluh Centi. Bagaimana mau bernasehat sementara sang ayah masih belum mampu menampakkan keteladanan indah dalam rumah tangga. Akhirnya yang ada justru sang ayah bergelar dayyuts karena membiarkan kerusakan dalam rumah tangga. Pada ayah yang demikian, dalam sebuah hadits shahih riwayat Nasa’i dikatakan tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan wajah Allah pada hari kiamat.Naudzubillahi min dzalik.

Semoga Allah ridlo atas segala keputusan yang sudah saya ambil, melepas Kak Ais masuk ke pesantren dan memudahkan jalannya nanti. Semoga Kak Ais terbekali pemahaman atas konsep hidup yang agamis, sesuai tuntunan Rasul dan para sahabat, terjauhkan dari kerusakan lingkungan yang terbiarkan oleh para ayah yang seharusnya bertanggung jawab atas keteladanan dan bimbingan pada buah hatinya. Atau barangkali para ayah hanya menganggap pantas menaknai anak-anaknya sebagai buah hati hanya ketika mereka balita dan manakala mereka sudah besar tak lagi diposisikan sebagai buah hati lantaran sudah teramat jauh dalam kebersamaan dengan sang ayah! Padahal pada konsep buah hati melekat makna dan rasa sayang yang lebih kuat. Demikian akhirnya sang ayah hanyalah menjadi ayah kodrati tetapi terlepas statusnya sebagai ayah ragawi. Tak ada tegur sapa pagi hari, lebih-lebih  lagi sentuhan lembut secara physically. Kesibukkan telah menjauhkan sang ayah dari kehidupan sosial anak.

Lantaran harus menyiapkan buat sarapan Kak Ais, pagi ini saya tak sempat mengelus-elus kepala Kak Ais! Tapi semoga para ayah lainnya sudah melakukannya.

Barakallahu fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: